Rabu, 09 Oktober 2024
CATATAN ASING TENTANG NUSANTARA
CATATAN TIONGKOK MENGENAI NUSANTARA
Senin, 07 Oktober 2024
Galuh Candrakirana dalam Cerita Panji:
Kamis, 19 September 2024
Legenda Sangkuriang dan Ilmu Geologi tanah Pasundan
Legenda Sangkuriang dan Kaitan Geologi dengan Gunung Sunda Purba serta Danau Bandung
Legenda Sangkuriang: Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu
Legenda Sangkuriang merupakan salah satu kisah rakyat yang sangat terkenal di tanah Sunda, khususnya di Jawa Barat. Cerita ini mengisahkan seorang pemuda bernama Sangkuriang yang jatuh cinta kepada ibunya sendiri, Dayang Sumbi, tanpa mengetahui identitasnya. Setelah mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya, Dayang Sumbi berusaha menghindari pernikahan tersebut dengan memberikan syarat yang hampir mustahil: Sangkuriang harus membuat sebuah danau dan perahu dalam satu malam. Sangkuriang dengan kekuatan gaib hampir berhasil, namun Dayang Sumbi menggagalkan usaha tersebut dengan menipu waktu subuh. Marah karena gagal, Sangkuriang menendang perahu yang telah dibuatnya, yang kemudian terbalik dan menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Kisah ini telah diceritakan turun-temurun, menjadi bagian dari kekayaan budaya Sunda. Namun, ada hal menarik yang dapat dihubungkan antara legenda tersebut dengan kenyataan geologis yang ditemukan oleh para ahli tentang terbentuknya wilayah Bandung.
Fakta Geologi: Gunung Sunda Purba dan Danau Bandung Purba
Secara geologis, daerah Bandung merupakan bagian dari kaldera gunung raksasa yang dikenal sebagai Gunung Sunda Purba. Ribuan tahun lalu, Gunung Sunda merupakan salah satu gunung berapi terbesar di wilayah Jawa Barat, yang mencapai ketinggian hingga ribuan meter. Namun, sekitar 55.000 tahun lalu, Gunung Sunda mengalami letusan dahsyat yang mengakibatkan puncaknya runtuh, menciptakan kaldera besar.
Setelah letusan tersebut, kaldera yang terbentuk diisi oleh air dan menciptakan Danau Bandung Purba. Danau ini membentang sangat luas, mencakup hampir seluruh cekungan Bandung yang kita kenal sekarang. Seiring waktu, aliran air yang membentuk danau ini kemudian mengering akibat erosi dan proses geologi lainnya, sehingga cekungan Bandung berubah menjadi daratan.
Gunung Tangkuban Perahu, yang hari ini berdiri megah, sebenarnya merupakan salah satu bagian yang tersisa dari Gunung Sunda Purba. Setelah letusan besar yang menghancurkan Gunung Sunda, gunung-gunung baru mulai terbentuk, termasuk Tangkuban Perahu, yang dikenal sebagai "anak" dari gunung purba tersebut. Bentuknya yang menyerupai perahu terbalik semakin memperkuat kaitannya dengan legenda Sangkuriang.
Keterkaitan Legenda dengan Fakta Geologi
Pertanyaannya sekarang, apakah mungkin orang-orang zaman dahulu menyadari informasi geologi tentang Gunung Sunda Purba dan Danau Bandung, dan kemudian mengemasnya dalam bentuk legenda seperti kisah Sangkuriang?
Dalam berbagai kebudayaan di dunia, seringkali mitos dan legenda memiliki akar yang kuat pada peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di masa lalu. Orang-orang zaman dahulu, meskipun tidak memiliki teknologi atau ilmu pengetahuan seperti sekarang, mengamati fenomena alam dengan seksama. Mereka mungkin tidak memahami detail teknis seperti proses vulkanologi atau geologi, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk merasakan dan mengabadikan fenomena tersebut melalui cerita.
Kisah tentang Sangkuriang, dengan unsur-unsur seperti gunung yang terbentuk dari perahu yang terbalik, secara tidak langsung mungkin menggambarkan proses terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu dari sisa-sisa Gunung Sunda Purba. Sangkuriang yang membangun danau juga bisa mencerminkan keberadaan Danau Bandung Purba di masa lalu. Walaupun cerita ini penuh dengan unsur magis, elemen-elemen utamanya mungkin terinspirasi oleh realitas geologi yang dialami oleh masyarakat saat itu.
Hal serupa terjadi di banyak tempat lain di dunia. Mitos tentang banjir besar, misalnya, sering ditemukan di berbagai budaya dan seringkali merujuk pada kejadian nyata, seperti banjir akibat letusan gunung atau perubahan iklim. Legenda-legenda semacam ini menjadi cara bagi masyarakat untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa besar yang mereka alami, dan kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.
Apakah Masyarakat Dulu Mengetahui Geologi?
Masyarakat kuno tidak memiliki akses ke ilmu geologi modern, tetapi mereka sangat dekat dengan alam. Pengamatan mereka terhadap siklus gunung berapi, banjir, gempa bumi, dan fenomena alam lainnya sering kali ditransformasikan menjadi mitos dan legenda. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa legenda Sangkuriang mencerminkan pengalaman nyata masyarakat Sunda kuno terhadap perubahan geologis yang terjadi di sekitar mereka.
Secara sadar atau tidak, legenda Sangkuriang membawa memori kolektif masyarakat Sunda tentang letusan dahsyat Gunung Sunda Purba dan terbentuknya Danau Bandung. Dengan demikian, meski dalam bentuk simbolik dan penuh elemen fantastis, cerita ini menjadi salah satu cara mereka memahami fenomena geologi besar yang membentuk wilayah tempat mereka tinggal.
Kesimpulan
Legenda Sangkuriang bukan hanya kisah rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi mungkin juga merupakan refleksi dari peristiwa geologi besar yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Masyarakat Sunda kuno, meskipun tidak memiliki pengetahuan ilmiah seperti sekarang, memiliki cara tersendiri untuk menceritakan fenomena alam yang terjadi di sekitar mereka. Melalui mitos, mereka mengabadikan proses terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu dan Danau Bandung Purba, yang hari ini diakui oleh ilmu geologi modern.
Kamis, 12 September 2024
Politisasi Intelektual Rendah: Strategi Politisi yang Memanfaatkan Psikologi Masyarakat
Dalam konteks politik, pemahaman akan psikologi
massa menjadi penting, terutama ketika politisi memanfaatkannya untuk
kepentingan mereka sendiri. Tulisan ini akan mengeksplorasi fenomena psikologis
di balik pola perilaku politisi yang memanfaatkan intelektual rendah
masyarakat, alih-alih mencerdaskan atau memberikan pendidikan politik yang baik.
1. Pengertian Psikologi Masyarakat dan
Intelektual Rendah:
Penjelasan tentang psikologi masyarakat dan
bagaimana tingkat intelektual seseorang memengaruhi pemahaman politik dan
partisipasi dalam proses politik.
Dampak dari intelektual rendah pada pola
perilaku dan keputusan politik.
2. Politisasi Intelektual Rendah:
Analisis tentang bagaimana politisi menggunakan
strategi untuk memanfaatkan intelektual rendah masyarakat demi keuntungan
politik pribadi.
Contoh-contoh konkrit dari praktik politisasi intelektual
rendah, seperti penyebaran informasi palsu, retorika yang menipu, dan
manipulasi emosi massa.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Politik Masyarakat:
Peran media massa dan teknologi dalam membentuk
opini dan sikap politik masyarakat.
Pengaruh lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi
terhadap persepsi politik dan partisipasi dalam proses politik.
4. Dampak Negatif Politisasi Intelektual
Rendah:
Konsekuensi dari politisasi intelektual rendah,
termasuk penurunan kualitas demokrasi, polarisasi politik, dan kerentanan
terhadap manipulasi politik.
Penyimpangan dari tujuan utama politik, yakni
melayani kepentingan publik dan memajukan kesejahteraan masyarakat.
5. Mengatasi Politisasi Intelektual Rendah:
Pendidikan politik yang inklusif dan terjangkau
untuk meningkatkan literasi politik masyarakat.
Pentingnya kritisisme dan skeptisisme dalam
menyikapi informasi politik yang diterima.
Peran aktivis masyarakat dan LSM dalam memantau
dan menentang praktik politik yang merugikan.
Kesimpulan: Mengakhiri tulisan dengan
menegaskan pentingnya kesadaran akan politisasi intelektual rendah dan perlunya
tindakan untuk melawan praktik-praktik manipulatif yang merugikan. Politisi dan
masyarakat sama-sama memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa politik berjalan
di jalur yang benar dan berpihak pada kepentingan publik, bukan kepentingan
pribadi belaka.
Minggu, 03 Maret 2024
Kebangkitan Nusantara
Sore itu udara cerah dan segar, angin semilir
membelai wajah membawa ketenangan. Mbah
Semar sedang asyik duduk di Pendopo di temani Petruk. Kopi dan gorengan menjadi teman yang nikmat
untuk menikmati hari.
Petruk : Romo, wis lama ini Nusantara menjadi
terbelakang dan kesuliatan bersaing dengan Negara-negara lain. Padahal dahulu kala Nusantara menjadi besar
dengan kerajaan-kerajaan super powernya.
Itu juga yang membuat Tumaritis gabung ke Nusantara.
Semar : Hehe yo opo toh... bangsa ini sudah terlalu
lama di didik untuk jadi pecundang oleh para pendatang yang ingin mengambil kekayaan
wilayah ini.
Petruk : Tapi Romo, katanya ada ramalan yang bilang
kalo Nusantara akan bangkit dan menjadi besar lagi.
Semar : Hehehe.. opo toh.. ramalan itu hanya bisa
terlaksana kalau penduduknya mau kembali ke masa keemasan Nusantara.
Petruk : Seperti apa itu Romo?
Semar : Setiap kejayaan suatu bangsa itu selalu di
sertai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di negeri itu. Rakyatnya berlomba-lomba untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan. Dan setiap jaman itu
selalu berbeda kebutuhannya untuk menjadikan suatu bangsa besar. Missal, dahulu kala siapa yang bisa
menaklukkan lautan maka dia akan menjadi Negara yang super power. Berikutnya ada jaman di mana teknologi mulai
di temukan dan Negara-negara yang menguasai teknologi dan mengatasi masalah
yang timbul karenanya akan menjadi Negara super. Seperti yang terjadi pada saat revolusi industry
awal terjadi. Dan sekarang eranya
teknologi informasi dan digital maka siapa yang bisa menguasainya dialah yang
akan Berjaya.
Petruk : Nah, sekarang negeri ini pengguna interntenya
dan teknologi informasinya termasuk yang terbesar di dunia, berarti kita akan
menjadi Negara besar?
Semar : Hehe.. yang membuat negeri ini jadi besar
bukan hanya karena penggunanya yang besar, tapi juga inovasi dan penciptaan
teknologi. Kalau Cuma menggunakan malah
jadi konsumen saja, mereka yang menguasai teknologi yang akan mendapat
keuntungan dan menguasai para pengguna.
Petruk : Nah berarti kita juga harus bisa membuat
teknologi seperti Facebook, Handphone dan lain-lain?
Semar : Kalau kita mulai lagi dari awal membangun
teknologi maka kita akan ketinggalan. Barang
kita tidak akan bisa bersaing, kalau mau bersaing bukan lagi mulai dari awal
dalam pengembangan teknologi, tapi justru mengembangkan teknologi yang lebih
maju lagi dari yang ada sekarang, sehingga kita bisa menjadi pioneer dalam
teknologi maupun industry. Masyarakat juga
harus mulai meningkatkan kualitas dan kapabilitas pengetahuan dan keahliannya
agar bisa bersaing dengan robot dan AI yang saat ini lebih murah dan efesien
dalam proses industry.
Petruk : Opo bisa room? Masyarakat kita masih manja
dan malas. Keahlian pas-pasan tapi
maunya di berikan pekerjaan dan fasilitas sementara dari luar
sumberdayamanusianya sudah jauh lebih terlatih dan ahli sehingga sulit untuk
bersaing dengan mereka.
Semar : Yo.. bisa ae... tinggal mau atau
tidaknya. Pemimpin-pemimpinnya mau ndak
mengembangkan sumberdaya yang ada, dan rakyatnya mau ndak belajar dan menjadi
lebih bersaing untuk menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas. Kalau ndak ya.. wassalam.
Petruk hanya manggut-manggut sambil menyeruput
kopinya. Sementara mbah Semar memandang kea
rah pegunungan yang asri dan mulai penuh dengan manusia.
Tradisi Politik di negeri Tumaritis
Yuk, kita lupain aja dulu tentang teori-teori
ilmu politik yang ada dalam berbagai literasi ilmu politik. Kita membaca realitas politik yang ada di
Tumaritis. Bagaimana cara bekerja dan
pengaruhnya terhadap masyarakat, baik secara intelektualitas maupun mentalitas
yang pasti bukan kualitas ataupun yang kapasitas terbatas... hehe.
Yuk..bisa yuk.. anak muda membaca dan
mengaktualisasikan dirinya ke dunia politik.
Politik santuy dan happy... tanpa Salma.. tapi kalau dia mau saya juga mau sih..:P dengan lolosnya saudara Komeng ke DPD, eh
saudaranya apa Komengnya ya?? :D ini
menunjukkan juga kalo politik santuy dan happy mulai bisa di terima
masyarakat. Mungkin udah bosen dengan omon-omon
yang pada akhirnya bukan mencerdaskan malah mengkerdilkan rakyat.
Pada dasarnya politik di negeri ini adalah
bagaimana menguasai persepsi public. Jika
bisa menguasai mayoriatas persepsi public walaupun itu adalah persepsi yang
salah ata upun bahkan cenderung menyesatkan taka pa yang penting mereka bisa di
arahkan seperti kerbau yang di cucuk hidungnya.
Makanya upaya untuk mencerdaskan rakyat itu Cuma slogan dan buaian agar
mereka bisa manfaatkan dengan kata “atas
nama rakyat “ atau “rakyat sudah cerdas”.
Tapi di lain waktu mereka akan mengatakan “rakyat masih bodoh” atau “pengetahuan
yang kurang”. :D
Memanfaatkan minimnya literasi rakyat,
kemampuan rasional mayoritas rakyat justru semakin di dorong dengan
pendoktrinan dan penggiringan opini yang memanfaatkan emosional rakyat. Seperti memanfaatkan rakyat marjinal, SARA
dll. Begitu juga dengan budaya dan
karakter masyarakat yang masih feudal di manfaatkan dengan baik. Kisah Petruk jadi raja selalu jadi bahan
untuk mendeligitimasi orang-orang yang memiliki kapasitas untuk menjadi
pemimpin tapi tidak memiliki trah atau darah bangsawan. Baik itu bangsawan tradisional maupun
bangsawan politik modern.
Itulah mengapa teori konspirasi, cocoklogi
menjadi isu-isu yang selalu di angkat dan di kedepankan dalam berbagai diskusi
di ruang public, termasuk dalam media massa mainstream seperti televise nasional. Bahkan dalam beberapa acara diskusi di televise
terlihat sekali pembawa acaranya mengarahkan pembicaraan ke persepsi yang di
inginkan. Indepedensi media jadi tidak
mendapat kepercayaan dari masyarakat hingga akhirnya dengan perkembangan
tekhnologi saat ini banyak pihak-pihak yang membuat tayangan tandingan yang
dapat di jadikan referensi alternative yang lebih netral oleh masyarakat.
Contoh peggiringan persepsi yang bisa di lihat
adalah ketika seorang tokoh yang bernama Ricky Gareng mengatakan bahwa Joko
Wibowo tidak bermoral karena tidak mendukung Capres yang di usung partainya
sebagai bentuk tidak bermoral. Sementara
untuk tokoh lain yang dulunya di angkat, di tolong dengan fasilitas dan materi
hingga di kenal luas, tapi pada akhrinya malah berbalik melawan bahkan menusuk
orang yang menolong dan mengangkatnya malah di sanjung dan di jadikan contoh
orang yang memiliki etika yang baik. Dari
sini aja kita bisa melihat bahwa apa yang di katakana Ricky Gareng ini sebagai
contoh orang yang tidak memiliki etika dan moralitas rendah. Tapi apalah-apalah.. karena feodalisme masih
begitu kuat maka ketokohannya menjadikan apa yang keluar dari mulutnya di
anggap benar sekalipun itu sampah.
Jumat, 01 Maret 2024
Generalisasi dalam berfikir
Suatu hari, Petruk, Gareng, Bagong, dan Semar
sedang duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi.
Petruk : (sambil menyeduh kopi) Eh, tahu nggak,
hari ini saya membaca bahwa jika seseorang suka minum kopi, maka dia pasti
orang yang cerdas dan berkarakter kuat!
Gareng: Wah, bener nggak tuh, Petruk?
Petruk: Tentu saja! Lihat saja, kita semua suka
minum kopi, kan? Itu artinya kita semua orang yang cerdas dan berkarakter kuat!
Semar: (sambil tersenyum) Maaf, nak, tapi itu
adalah contoh dari logical fallacy yang disebut sebagai generalisasi.
Bagong: Generalisasi? Apa itu, Bapak?
Semar: Generalisasi adalah kesalahan berpikir
di mana seseorang membuat kesimpulan umum tentang sebuah kelompok berdasarkan
pada informasi yang tidak memadai atau hanya berdasarkan pada sedikit data.
Gareng: Oh, jadi nggak semua orang yang suka
minum kopi otomatis cerdas dan berkarakter kuat?
Semar: Betul, Gareng. Ada banyak faktor lain
yang mempengaruhi kepintaran dan karakter seseorang, bukan hanya dari minuman
yang mereka konsumsi.
Petruk: (sambil menggelengkan kepala) Waduh,
saya salah lagi. Tapi tetap saja, minum kopi itu enak!
Bagong: Iya, Bapak. Lagian, kalau minum kopi
bikin pintar, aku mau minum kopi terus biar jadi jenius!
Semar: (tersenyum) Baiklah, tetapi ingat,
cerdas dan berkarakter tidak hanya ditentukan oleh minuman yang kita minum.
Yang penting adalah bagaimana kita menggunakan pikiran dan sikap kita dalam
kehidupan sehari-hari.
Dalam cerita ini, tokoh-tokoh menggunakan
generalisasi (logical fallacy) untuk menyimpulkan bahwa mereka semua cerdas dan
berkarakter kuat hanya karena suka minum kopi, padahal hal tersebut tidak bisa
dipastikan secara logis.
Rabu, 28 Februari 2024
Cerita Misteri : Gangguan di rumah lama
Minggu pagi adalah saat bagi keluarga kecilku
untuk berolahraga. Aku, istri, dan anak lelakiku yang baru berusia empat tahun
biasanya melakukan lari pagi menyusuri jalan raya berkeliling kampong. Setelah
cukup jauh berjalan, kami selalu mampir untuk sarapan bubur ayam. Waktu
menunjukkan pukul setengah enam pagi, kami memutuskan untuk pulang ke rumah.
Untuk mempersingkat perjalanan, kami memutuskan untuk memotong jalan melewati
pinggir sungai, melalui kebun yang masih sepi. Tidak ada siapa-siapa di kebun
itu pada saat itu karena memang masih terlalu pagi. Tiba-tiba, anakku bertanya
sambil menunjuk ke arah kebun, "Pa, itu siapa? Lagi ngapain?" Aku dan
istriku melihat ke arah yang ditunjuk anakku, namun tidak ada siapa-siapa di
sana. Istriku bergegas mempercepat langkah kakinya dan meninggalkan kami.
"Oh, itu orang lagi beresin kebun," kataku dengan santai agar anakku
tidak berfikir macam-macam atas apa yang dia lihat. Kami berdua melanjutkan
perjalanan dengan santai menyusul istriku yang sudah jauh meninggalkan kami.
Malam itu aku lembur, sehingga pulang larut
malam. Istriku tiba lebih dulu di rumah setelah pulang kerja. Setelah
membersihkan diri dan berganti pakaian, dia menjemput anakku yang dititipkan di
rumah orang tuanya yang tidak jauh dari rumah kami, sekitar limapuluh meter
saja. Mereka hanya berdua di rumah sementara aku belum pulang. Setelah sholat
isya, mereka menonton televisi dengan posisi berdampingan, menyandar ke lemari
yang menghadap televisi. Tiba-tiba, anakku bereaksi, "Awas dong, jangan
ngalangin, minggir," katanya sambil mengibaskan tangannya seolah-olah ada
orang yang menghalanginya di depan televisi. Istriku hanya diam, diliputi rasa
takut, namun apa boleh buat, mereka harus menungguku pulang karena aku pulang
larut malam. Setibanya aku di rumah, mereka berdua sudah tertidur. Keesokan
harinya, istriku menceritakan peristiwa tersebut, namun aku hanya tersenyum
sambil berkata, "Gakpapa," mencoba untuk menenangkan hatinya.
Malam itu, hari sudah larut, jam menunjukkan
pukul setengah sebelas malam. Aku duduk bersila di lantai, terpaku di depan
layar televisi sambil menjalani tugas kantor yang masih menumpuk. Adikku, yang
masih terjaga, duduk di sampingku, tertarik oleh tayangan yang sama.
Saat suasana mulai hening, tiba-tiba terdengar
suara mesin mainan anakku dari ember besar di dapur, di mana mainan anakku
biasanya disimpan. Kami saling melemparkan pandangan penuh tanda tanya.
"Tikus mungkin, Jak," ucapku kepada adikku, mencoba menenangkan dia
sekaligus mengecek asal suara.
Kami berdua bangkit dari tempat duduk dan
menuju dapur untuk menyelidiki. Aku menggenggam mainan bajaj yang sebelumnya
tiba-tiba aktif, sementara adikku memperhatikan dengan cermat isi ember besar
itu, mencari tanda-tanda keberadaan tikus. Khawatir tikus tidak dapat keluar
dari ember yang terlalu tinggi, kami berusaha memastikan tidak ada hewan
pengerat di sekitar.
Setelah memastikan situasi aman dan menutup
lubang-lubang yang berpotensi sebagai jalur masuk tikus, kami kembali ke ruang
keluarga dan duduk untuk melanjutkan aktivitas kami. Namun, tanpa disangka,
mainan tadi kembali berbunyi meskipun sudah kuhentikan sebelumnya. Aku bingung,
memperhatikan lingkungan sekeliling dan mencoba memahami kejadian yang aneh
ini.
Tak ada yang bisa kuperhatikan, kecuali mainan
yang sepertinya menghidupkan dirinya sendiri. Aneh, pikirku dalam hati, sambil
mencoba menenangkan diri. Setelah mematikan mainan kembali, aku menaruhnya ke
tempat semula dan berusaha fokus kembali pada pekerjaanku.
Adikku kemudian pamit untuk menginap di tempat
rental PS, meninggalkanku sendirian menyelesaikan tugas-tugas yang masih
menunggu. Meskipun ada kejadian aneh, aku memilih untuk tidak terlalu
terpengaruh. Tanpa insiden lain yang mencolok, akhirnya aku menyelesaikan
pekerjaanku dan beristirahat dengan tenang.
Kamis, 22 Februari 2024
Cerita Misteri : Pengalaman aneh di tahun 2019
Pada tahun 2019, saya mengalami serangkaian
peristiwa yang membuat saya merasa bingung dan terganggu. Awalnya, hampir
setiap malam saya mendengar suara orang yang tampaknya melompat dari atas
tembok ke tempat di belakang samping rumah saya, yang biasanya saya gunakan
untuk menjemur pakaian. Rumah kami berbentuk kotak dengan dua kamar tidur yang
saling berdekatan secara linier, dengan pintu yang menghadap ke ruang tamu dan
ruang keluarga tanpa sekat. Hal ini memungkinkan saya untuk melihat televisi
dari ruang tamu yang terletak di balik dinding kamar mandi. Di samping kamar
belakang adalah dapur, yang berdekatan dengan kamar mandi dan memiliki pintu
keluar di samping rumah. Jendela kamar belakang menghadap ke samping rumah yang
sudah ditutup dengan tembok.
Suara-suara ini membuat saya terganggu,
terutama karena ketika saya mencoba untuk memeriksanya, tidak ada orang yang
terlihat di sana. Meskipun demikian, suara langkah orang di atas atap yang
sering terdengar saya abaikan. Pada suatu
waktu saya pernah meminta istri dan anak saya untuk mengintip lewat jendela kamar
sementara saya dengan berbekal tongkat satpam meyergap dari pintu dapur. Saya meminta mereka teriak untuk member tahu
posisi maling jika memang ada dan saya tidak bisa melihatnya, karena kondisi
yang kurang penerangan. Dengan sigap
saya menyeruak cepat dengan posisi siaga setelah membuka pintu. Namun tidak ada apa-apa, tidak ada pergerakan
atau apapun. Saya mencoba memperhatikan
sekeliling namun tidak menemukan tanda-tanda apapun atau keberadaan orang. Setelah yakin aman maka saya kembali masuk
dan menemukan istri dan anak-anak sedang duduk di sofa ruang televise. “Heh, gimana tadi? Gak liat sesuatu?” tanyaku
ke mereka dengan sedikit heran. “boro-boro
pah, orang tadi mama langsung kabur, jadi kita ikutan kabur kesini..” kata
anakku yang besar. “yah.. pantesan tadi
sepi-sepi aja..” jawabku. “Takut...
nanti pas buka gorden tahu-tahunya ada wajah di jendela..” jawab istriku
senyum-senyum.. jadi setelah kejadian itu aku mengabaikan jika mendengar
suara-suara aneh di belakang atau di atap.
Hari itu sudah agak siang, sekita jam tujuh
pagi. Anak-anak dan istriku sudah
berangkat ke sekolah dan kantor. Aku mengambil
handuk dan bersiap mandi, namun badanku rasanya agak aneh. Tidak biasanya aku merasa kedinginan, padahal
biasanya aku mandi jam tiga atau empat pagi dan tidak pernah kedinginan. “Mungkin badan lagi drop..” kataku dalam
hati. Aku meneruskan mandiku dan...
AArrhhh... aku mengerang kesakitan. Kedua
telapak tanganku terasa begitu sakit seperti di tusuk=tusuk jarum saat aku
menyiram air ke tubuhku. Aku coba
abaikan dan meneruskan mandi, tapi sakitnya semakin terasa jadi aku memutuskan
untuk menyelsaikan mandiku tanpa sabunan.
Hari berikutnya pun sama. Sabtu dan minggu, setiap aku mandi aku
berteriak menahan rasa sakit setiap kali mandi, sehingga istriku
menanyakannya. Aku juga tidak mengerti
kenapa kedua telapak tanganku terasa sakit setiap kali mandi. Tapi secara fisik aku merasa baik-baik
saja. Dan seninnya badanku demam dan
jatuh sakit. Yang kurasakan seperti
sakit gejala typus yang pernah kualami dulu.
Jadi aku memutuskan untuk tidak ke dokter, tapi menitip ke istriku untuk
membelikan obat untuk gejala typus. Dan sakit
itu berjalan selama dua minggu. Namun di
hari sabtu dan minggu badanku terasa enak dan sehat, nanti seninnya sakit
lagi. Di minggu kedualah aku merasa
benar-benar sehat.
Namun pada seninya aku kembali sakit. Kali ini perutku terasa sakit sekali sehingga
aku tidak bangun dari tempat tidur. Kali
ini aku tidak tahu sakitnya apa karena aku belum pernah merasakan sakit seperti
ini. Aku pernah sakit maag, asam lambung
dank ram usus. Namun sakit kali ini beda
dengan sakit-sakait sebelumnya itu. Tapi
aku tetap mengkonsumsi obat lambung dan menggunakan obat-obatan herbal juga
untuk pengobatan. Dan seperti biasa di
hari sabtu sakitnya hilang, badanku sudah sehat kembali walau berat badanku
mulai berkurang , karena selama aku sakit makanan sulit untuk masuk. Sehingga aku minta di sediakan kurma untuk
menjaga metabolisme agar tetap sehat walau hanya makan tiga butir setiap jam
makan. Di minggu kedua sakit lambung ini
aku coba minum jamu kunyit untuk mengobati lambungku, tapi bukannya berkurang
sakitnya malah semakin menjadi-jadi tidak ada jedanya. Untungnya setelah dua minggu lambungku mulai
enakkan tidak sakit lagi. Dan itu
terjadi di hari sabtunya.
Sabtu, minggu berlalu aku merasa sudah cukup
sehat karena aku juga sudah bisa makan normal.
Perutku tidak lagi sakit dan mual, begitu juga saat aku makan. Aku punya kebiasaan bangun di malam hari
untuk buang air kecil. Itu biasa terjadi
antara jam satu sampai dengan jam tiga pagi.
Begitu juga senin itu. Malam itu
aku terbangun, kebetulan aku tidur sendirian di kamar depan, istriku tidur bersama
dengan anak-anak di kamar belakang. Saat
aku bangun telapak kakiku terasa sakit sekali.
Setiap kali aku bangun berdiri, telapak dan punggung kaki kananku sakit
sehingga aku terjatuh lagi karena tidak bisa menahan rasa sakitnya. Karena sudah kebelet aku berusaha untuk
bangun dengan sedikit mengerang untuk menambah tenaga. Namun sia-sia bukannya berhasil malah suaraku
membangunkan istriku dan menghampiriku. “Kenapa
pa?” Tanya istriku. “ Gak tahu nih, kaki
sakit banget..” kataku sambil memegang kaki kananku dan mengelus posisi yang
sakit. Istriku mengambil minyak gosok
dan kakiku. “arrgghh.. sakit.” Kataku. “Cuma di oles koq, gak di teken..” kata
istriku. “ Iya, tapi sakit banget..” kataku. Akhirnya aku sendiri yang mengoleskannya. Dan dengan rasa sakit yang masih terasa aku
merangkak ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Sebenarnya aku agak bingun dengan sakitku kali
ini. Karena rasanya sakit sekali, aku
coba berfikir apa ini karena tidak mungkin asam urat karena pisisinya bukan di
persendian. Dan selama ini juga aku belum pernah bermasalah dengan asam urat,
kolesterol ataupun gula darah. Sebelumnya
aku rutin memeriksa darahku dan hasilnya selalu normal. Kalaupun karena makanan rasanya aneh, karena
sudah beberapa waktu makanku hanya kurma, baru dua hari ini aku bisa makan
normal. Walaupun agak bingung tapi aku
anggap saja aku asam urat jadi aku kembali makan kurma dan minum air putih
seperti sebelumnya. Dan di hari sabtu
sakitnya hilang, aku kembali beraktifitas normal. Dan senin atau selasa sakitnya kembali
datang. Setelah sakit yang pertama
selesai setelah beberapa waktu, aku lupa waktunya tapi setiap hari sabtu dan
minggu sakitnya pasti hilang dan sembuh.
Berikutnya sakitnya berpindah-pindah, setelah
di telapak dan punggung kaki kanan sembuh, berikutnya pindah di bawah
pegelangan jempol kaki sebelah kiri. Sakitnya
sma seperti kecengklak. Rasa sakitnya
sama seperti waktu aku main bola tanpa sepatu dan jempolnya ketarik. Aku mulai curiga dengan sakitku, karena ini
tidak normal menurutku. Selain sakitnya
berpindah-pindah, aku juga tidak kemana-mana dan tidak ngapa-ngapain jadi tidak
mungkin kakiku terkilir. Kali ini aku
biarkan saja sakitnya. Kutahan rasa
sakit sambil melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan benar saja setelah sakit di bawah
pergelangan jempol kaki selesai pindah ke sebelahnya, di bawah pergelangan
telunjuk kaki, setelah itu selesai pindah lagi sebelahnya.. begitu terus
setelah sampi ke kelingking, berikutnya semua bagian itu sakit. Kali aku coba mencerna apa yang terjadi. Termasuk coba untuk merukyah diri sendiri
setiap saat.
Aku coba mencari tahu apakah aku pernah
menyakiti seseorang akhir-akhir ini? Masalahnya aku jarang sekali keluar rumah
dan berinteraksi dengan orang-orang setelah resign. Waktuku lebih banyak kuhabiskan di rumah
bersama keluarga. Jadi aku tidak bisa
menemukan apa yang bisa membuat orang ingin melakukan hal-hal seperti ini
kepadaku. Karena tidak mendapatkan
jawaban jadi mengabaikannya tapi sakitnya terus berpindah hingga ke lutut
kiriku. Kali ini rasanya seperti dengkul
kita baru saja menabrak mobil saat kita di bonceng motor. Saya pernah merasakan itu ketika di bonceng
teman sekitar belasan tahun yang lalu. Tapi
kali ini rasanya jauh lebih sakit yang membuat aku tidak bisa menggerakkan
kakiku. Jadi kaki kirikku tidak bisa di
tekuk jika sudah lurus dan begitu juga sebaliknya. Rasanya sakit sekali.
Karena sudah terlalu lama sakit yang ku derita,
istriku berinisiatif untuk memanggil tukang urut yang kebetulan masih
tetangga. Awalnya aku menolak, tapi
karena setelah istriku berangkat kerja ternyata tukang urutnya dating jadi mau
tidak mau aku di urut. Dan jadilah kedua
kakiku di urut. Malamnya setelah di urut
kedua kakiku benar-benar sakit tidak karuan.
Bahkan kali ini aku benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan
sakitnya benar-benar tanpa jeda. Bukan nyut-nyutan
sakitnya tapi terus menerus dan luar biasa. Selama beberapa hari aku merasakan
sakit ini dan sudah tidak bisa bangun lagi sehingga untuk makan dan minum di
taroh di samping tempat tidurku, dan begitu juga untuk buang air kecil. Aku minta di sediakan botol mineral kosong
ukuran satu liter. Kadang-kadang aku
memaksa ke kamar mandi dengan menggunakan skateboard anakku untuk ke kamar
mandi.
Sakit ini berlangsung beberapa minggu, hingga
rekan-rekan kerja istriku datang untuk menjengukku namun tidak ada perubahan
sakitnya. Sementara adikku beberapakali
datang untuk menemaniku selagi aku sendiri di siang hari. Hingga pada akhirnya keluarga istriku
mengetahui kondisi sakitku dan memaksaku untuk berobat ke dokter. Dengan di gotong aku di bawa ke klinik untuk
di periksa. Namun hasil pemeriksaan
klinik menunjukkan kondisiku baik-baik saja.
Hasil laboratorium pemeriksaan darah menunjukkan kondisiku sehat dan
normal. Karena kondisiku yang parah
tidak bisa jalan, bahkan tidak bisa berdiri kami meminta surat rujukan untuk
pemeriksaan lebih lanjut. Seharian saya
di rumah sakit menunggu hasil lab yang lebih lengkap. Sementara aku menunggu dengan infusan yang
berisi obat pereda nyeri dan cairan. Dan
setelah menunggu seharian, di waktu maghrib hasil lab keluar, dan
hasilnya...... Normal.... Sehat... tidak ada penyakit apapun. Kolesterol, asam urat, gula darah dll entah
apa itu karena terlalu banyak.. semuanya menunjukkan kondisi yang sehat. Begitulah karena tidak ada penyakitnya maka
akupun di pulangkan dengan di berikan obat pereda nyeri selama ada obat pereda nyeri itu aku berusaha
melatih kakiku untuk bisa berdiri dan berjalan.
Dan akhirnya berhasil setelah
obat pereda nyerinya habis aku sudah bisa berjalan lagi, walau masih
sempoyongan dan tidak normal.. dan saat
menonton berita di tv, ada berita tentang Corona yang melanda China.
Senin, 19 Februari 2024
Catatan untuk Pandji Pragiwaksono
Hasil pemilu 2024, sebagaimana pemilu-pemilu
sebelumnya, terus menjadi sasaran permasalahan oleh pihak yang kalah, dengan
isu-isu yang diangkat pun tetap konsisten. Namun, ada aspek menarik yang patut
dibahas, yang banyak disoroti oleh elit kita, bahkan disampaikan oleh Pndji
Pragiwaksono dalam podcastnya bersama Kemal Pahlevi, yaitu mengenai pengetahuan
tentang orde baru dan pengangkatan Kaesang sebagai ketua umum PSI.
Pengetahuan mengenai orde baru tentunya berbeda
bagi setiap individu, dan ini tercermin dalam berbagai pandangan yang beragam.
Misalnya, masih terdapat jargon seperti "Enak jamaku toh.." yang
menunjukkan variasi dalam sikap terhadap orde baru. Bagi sebagian masyarakat
yang tidak aktif dalam politik pada masa orde baru, pemahaman mereka tentang
situasi politik pada masa tersebut mungkin terbatas. Informasi yang mereka
terima bisa berasal dari cerita orang tua atau bahan bacaan yang mereka temui,
yang tentunya bisa sangat beragam tergantung sudut pandang penulisnya.
Perlu dicatat bahwa membandingkan kondisi hari
ini dengan masa orde baru bisa menghasilkan perbedaan yang mencolok. Namun,
kita juga perlu memahami bahwa politik dapat berubah dari waktu ke waktu,
sementara aspek-aspek budaya dan sosial masyarakat seringkali tetap konsisten.
Misalnya, budaya feudal masih sangat kental dalam masyarakat kita, bahkan di
kalangan elit politik. Seringkali hal ini diabaikan oleh kalangan intelektual,
sehingga terdapat kesenjangan antara teori politik Barat yang mereka pelajari
dengan realitas politik kita yang masih sangat terpengaruh oleh budaya lokal.
Dalam sebuah podcast antara Kemal Pahlevi dan
Pandji Pragiwaksono, Pandji mengemukakan pendapatnya bahwa pemilihan Kaesang
sebagai ketua umum PSI tidak mencerminkan demokrasi. Pendapat ini menimbulkan
pertanyaan, apakah ini sesuai dengan makna sebenarnya dari demokrasi. Secara
teoritis, demokrasi mencakup prinsip-prinsip seperti kebebasan berpendapat,
kesetaraan hak dan kewajiban, serta hak yang sama bagi setiap individu untuk
memilih dan dipilih. Namun, apakah ketidakterpilihannya Kaesang sebagai contoh
dari pelanggaran terhadap prinsip-prinsip demokrasi? Seharusnya kita
menafsirkan bahwa pemilihan ini bukanlah soal demokrasi, melainkan kualitas dan
kompetensi dalam lingkup politik. Pandangan yang diutarakan bertentangan dengan
prinsip dasar demokrasi, mengingat tidak menghargainya suara mayoritas anggota
PSI yang memilih Kaesang sebagai ketua umum, terlepas dari alasan-alasannya. Di
Indonesia, kejadian semacam ini mungkin tidaklah aneh karena kultur feudal yang
masih kuat, baik dalam masyarakat umum maupun di dalam partai politik. Oleh
karena itu, penting bagi pendidikan untuk menyampaikan informasi secara jujur
dan utuh, daripada memanipulasi kata-kata untuk memaksakan kehendaknya.
Minggu, 18 Februari 2024
Memahami Kontroversi: Tinjauan Terhadap Tuduhan Kecurangan dan Pelanggaran Etik dalam Pemilu 2024 2
Setelah proses pemilihan berlangsung, data
quick count menjadi sorotan utama, dengan pihak yang kalah dalam quick count
mulai menyebarkan narasi untuk mendiskreditkan penyelenggaraan pemilu. Narasi
tersebut, tidak berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, mencakup tuduhan
kecurangan standar yang terkesan bodoh, seperti surat suara yang sudah
tercoblos sebelum digunakan, serta ketidaksesuaian data real count KPU dengan
formulir C1 yang diunggah ke sistem.
Pertama, terkait surat suara yang sudah
tercoblos sebelum digunakan, jika ada upaya kecurangan semacam ini, dianggap
bodoh karena KPU telah mengantisipasinya dengan pemeriksaan oleh KPPS serta
disaksikan oleh saksi-saksi dan masyarakat. Kemungkinan lainnya adalah hal ini
merupayakan upaya upaya untuk mendiskreditkan KPU sebagai penyelenggara pemilu.
Kedua, ketidaksesuaian antara formulir C1 dalam
sistem KPU dengan rekapan dalam sistem tersebut, jika dianggap sebagai bukti
kecurangan, terkesan aneh karena KPU memungkinkan akses terbuka ke formulir C1
untuk memungkinkan deteksi kesalahan. Namun, ini juga menjadi kritik terhadap
KPU terkait pengembangan sistemnya, yang seharusnya diperbaiki dan
disempurnakan. Dengan besarnya anggaran yang di gunakan sudah seharusnya
hal-hal seperti ini tidak terjadi. Harus
ada peningkatan dalam penggunaan teknologi jika memang di rasa perlu gunakan
tenaga-tenaga professional untuk membuat sistem yang baik dan mumpuni.
Ketiga, pernyataan elit politik bahwa quick
count itu bohong menunjukkan ketidakpedulian terhadap rakyat. Hal ini juga
mencerminkan upaya memanfaatkan kurangnya literasi dan pengetahuan masyarakat
daripada memberikan pendidikan untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan dapat
digunakan untuk membuat perkiraan berdasarkan sistem sampling.
Sementara, perlu dicatat bahwa kritik yang
konstruktif dan upaya untuk memperbaiki sistem pemilihan serta meningkatkan
literasi politik masyarakat merupakan langkah penting dalam memperkuat
demokrasi dan kepercayaan publik terhadap institusi pemilu.
Jumat, 16 Februari 2024
Memahami Kontroversi: Tinjauan Terhadap Tuduhan Kecurangan dan Pelanggaran Etik dalam Pemilu 2024
Isu-isu yang berkembang terkait tuduhan
kecurangan dalam Pemilu 2024 telah menjadi perhatian utama, mirip dengan
tuduhan yang terjadi pada pemilu sebelumnya. Tuduhan kecurangan yang
terstruktur, sistematis, dan massif (TSM) kerap kali dihembuskan, seperti yang
dilakukan oleh pihak Prabowo Subianto setelah kalah dalam pemilu 2014 dan 2019.
Kali ini, isu-isu tersebut juga diusung oleh pihak yang kalah dalam pemilu,
terutama dari PDIP dan PKS.
Isu-isu tersebut terus dikampanyekan secara
massif oleh para elit, meliputi kontroversi seputar film dokumenter Dirty Vote,
masalah kode etik terkait keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), distribusi
bantuan sosial (Bansos), dan penggantian pejabat sementara di daerah-daerah
yang kepala daerahnya telah berakhir masa baktinya dan posisi tersebut kosong
sementara karena adanya pilkada serentak pada tahun 2024.
Salah satu isu yang dipertanyakan adalah
pelanggaran etik oleh Mahkamah Konstitusi, yang dianggap sebagai bagian dari
rencana besar untuk menjadikan Gibran Rakabumingraka sebagai Wakil Presiden.
Berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK), terungkap
bahwa beberapa hakim MK melakukan pelanggaran etik dalam sebuah Judicial Review
(JC) yang diajukan oleh... mengenai... Hasil keputusan siding MKMK nomor
5/MKMK/L/11/2023 menyatakan bahwa beberapa hakim MK melakukan pelanggaran etik
berat, termasuk Ketua MK Anwar Usman yang dipecat dari jabatannya. Namun,
menurut keterangan dari Jimly Ashidiqie, anggota MKMK yang menyelidiki kasus
ini dalam beberapa podcast, kode etik yang dilanggar bersifat administratif dan
bukan politis. Tidak ada indikasi campur tangan Presiden Jokowi dalam masalah
ini. Untuk informasi lebih lanjut, keputusan tersebut dapat diakses melalui
situs web mkri.id.
Dengan melakukan kajian tanpa tendensi apapun
terhadap setiap isu ini, diharapkan kita dapat memahami dengan lebih jelas
dinamika politik yang terjadi dan mengambil sikap yang obyektif dan bertanggung
jawab.
Jika isu ini bukan hanya alat untuk
mendiskreditkan seseorang, maka kita akan menunggu tindakan dari para pihak
untuk menggugat kembali keputusan MK ini melalui Judicial Review atau membuat
undang-undang baru yang kembali membatasi usia calon presiden dan wakil
presiden. Jika tidak, maka pada dasarnya Judicial Review ini mereka akui, dan
mungkin akan menguntungkan banyak pihak di masa depan. Hanya saja, kebetulan
saat ini Gibran yang mendapat keuntungan dari keputusan MK ini, dan kebetulan
pula bahwa beliau adalah anak dari presiden yang berkuasa saat ini sehingga di
jadikan bulan-bulanan untuk mendiskreditkan beliau.
Lanskap Politik Pasca Pemilu 2024: Analisis Prospek dan Dinamika Partai
Pemilu Presiden dan Legislatif tahun 2024 baru
saja berakhir, dan dengan menghormati proses yang dilakukan oleh KPU, kita
dapat mencoba menganalisis lanskap politik Indonesia untuk lima tahun ke depan.
Berdasarkan hasil Quick Count dari beberapa lembaga survei, pasangan Capres
nomor urut 02, yakni Prabowo Subianto - Gibran Rakabumingraka, berhasil
memperoleh dukungan tertinggi dengan kisaran antara 55-59 persen suara. Sementara
itu, pasangan Anies Baswedan - Muhaimin Iskanda mendapatkan dukungan suara
antara 23-25 persen, dan pasangan Ganjar Pranowo - Mahfud MD mendapatkan
kisaran suara sebesar 16-17 persen.
Hasil perhitungan Quick Count juga menunjukkan
bahwa PDIP, Golkar, dan Gerindra memperoleh suara tertinggi, dengan PDIP
menduduki posisi teratas diikuti oleh Golkar dan Gerindra. Namun, terdapat
anomali karena meskipun Prabowo Subianto didukung oleh Gerindra, partai
tersebut tidak berhasil menjadi pemenang dalam Pileg kali ini. Di sisi lain,
PDIP yang mengusung Ganjar Pranowo, meskipun mengalami penurunan suara, masih
mampu memenangkan pemilu, meskipun dengan suara yang menurun secara signifikan.
Melihat situasi ini, ada kemungkinan bahwa PDIP
akan berada dalam posisi oposisi terhadap pemerintahan selanjutnya. Narasi yang
disampaikan oleh elit PDIP mulai menunjukkan pola komunikasi yang mirip dengan
periode 2004-2009, ketika partai tersebut menjadi oposisi terhadap pemerintahan
SBY. Posisi ini selama sepuluh tahun terakhir diambil alih oleh PKS. Ini
menarik karena PKS, yang mendukung Anies Baswedan, juga kalah dalam pemilu.
Teknik komunikasi yang kembali digunakan oleh PDIP, sementara PKS masih
menggunakan pendekatan yang sama selama sepuluh tahun terakhir.
Secara politik dan komunikasi politik, kedua
partai ini menggunakan pola yang sama namun memiliki ideologi yang berbeda.
PDIP dianggap sebagai partai kiri, sementara PKS diidentifikasi sebagai partai
kanan. Meskipun demikian, dalam beberapa kesempatan, Prabowo Subianto berupaya
untuk merangkul semua partai untuk bersama-sama dalam pemerintahan.
Dengan karakteristik ketua umum partai-partai
yang ada saat ini, terlihat bahwa kemungkinan partai yang akan menjadi oposisi
adalah PDIP, mengingat pola komunikasi dan narasi yang mereka tunjukkan, yang
menyerupai periode oposisi pada tahun 2004-2009. Namun, untuk PKS masih menjadi
pertanyaan karena masih belum jelas apakah mereka akan bersinergi dengan PDIP
sebagai oposisi.
Sementara itu, partai-partai lain seperti PPP
dan Nasdem kemungkinan besar akan bergabung dengan pemenang pemilu, mengingat
dukungan dan peran yang mereka miliki selama kampanye. Hal ini menunjukkan
bahwa lanskap politik pasca pemilu tidak hanya mencerminkan persaingan
antarpartai, tetapi juga kerjasama dan strategi untuk mencapai tujuan politik masing-masing.
Minggu, 11 Februari 2024
Politik Dinasti dan Demokrasi di Indonesia
Politik Dinasti di Indonesia selalu menjadi isu yang sering di henbuskan dalam ranah politik di negeri ini. Fenomena di mana anggota keluarga pejabat publik atau anggota partai sering kali mengikuti jejak orang tua atau kerabat dekat mereka dalam dunia politik telah menjadi topik hangat dalam diskusi politik. Hal ini seringkali menimbulkan perdebatan mengenai kemungkinan adanya pemberian hak istimewa atau kesempatan yang tidak adil bagi mereka yang memiliki hubungan keluarga dengan pejabat publik yang berkuasa.
Adanya kecenderungan politik dinasti tidak
hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga umum ditemui di banyak negara demokratis
lainnya, termasuk Amerika Serikat. Contohnya, keluarga Kennedy, Clinton, dan
Bush yang memiliki anggota keluarga yang aktif dalam dunia politik, baik di
tingkat lokal maupun nasional. Namun, di negara-negara tersebut, penerimaan
masyarakat terhadap fenomena ini cenderung berbeda. Beberapa melihatnya sebagai
bentuk kesinambungan dalam pelayanan publik yang diwarisi dari keluarga,
sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk nepotisme atau kesempatan yang
tidak adil.
Di Indonesia, terutama saat ini, perdebatan
tentang politik dinasti seringkali terfokus pada keluarga Presiden Jokowi.
Meskipun banyak anggota keluarga Jokowi yang terlibat dalam politik, baik di
tingkat lokal maupun nasional, penting untuk dicatat bahwa mereka juga harus
melewati proses yang sama dengan kandidat lain dalam mendapatkan posisi politik
mereka. Namun demikian, keberadaan orang tua yang berada dalam posisi
berpengaruh tentu memberikan pengaruh dan akses yang lebih besar dalam dunia
politik.
Selain itu, perlunya mempertanyakan sistem
politik yang ada menjadi hal yang sangat penting. Sistem politik yang
transparan, akuntabel, dan merata dalam memberikan kesempatan bagi semua warga
negara adalah kunci untuk mengatasi masalah politik dinasti. Pendidikan politik
yang baik juga perlu ditingkatkan agar masyarakat dapat memahami pentingnya
memilih pemimpin berdasarkan kualifikasi dan visi, bukan hanya karena hubungan
keluarga atau kekuatan politik tertentu.
Integritas dan independensi lembaga-lembaga
pengawas, seperti lembaga legislatif, juga harus diperkuat untuk memastikan
bahwa tidak ada penyalahgunaan kekuasaan atau fasilitas negara yang terjadi
dalam proses politik. Konflik kepentingan dan praktik-praktik korupsi harus
ditekan dengan keras agar proses politik berjalan secara adil dan demokratis.
Jumat, 09 Februari 2024
IKN, untuk kepentingan siapa?
Pembangunan Ibukota Nusantara (IKN) dan rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur merupakan inisiatif besar yang telah menimbulkan berbagai kritik. Namun, beberapa kritik yang sering dilontarkan ternyata didasari oleh mispersepsi yang perlu diperjelas. Mari kita telaah lebih dalam.
1. Pembangunan IKN Hanya untuk Kepentingan Aparat, Bukan
untuk Pemerataan Pembangunan dan Ekonomi
Faktanya, pembangunan IKN adalah bagian dari upaya
pemerintah untuk mendorong pemerataan pembangunan dan ekonomi di seluruh
Indonesia. Dengan memindahkan aparat pemerintahan pusat ke IKN, maka aktivitas ekonomi di
sana akan meningkat secara signifikan.
Penelitian telah menunjukkan bahwa kehadiran aparat
pemerintahan pusat dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi lokal.
Dengan demikian, pembangunan IKN bukan hanya untuk kepentingan aparat, tetapi
juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di daerah-daerah di luar Jawa, utamanya di wilayah
timur Indonesia.
2. Pemindahan
Ibu Kota Hanya untuk Menghindari Masalah yang Ada di Jakarta Saat Ini
Salah kaprah untuk menganggap bahwa pemindahan ibu kota
adalah upaya untuk menghindari masalah di Jakarta. Sebaliknya, ini adalah
langkah strategis untuk mengatasi masalah-masalah yang telah lama menghantui
ibu kota, seperti kemacetan, banjir, dan overcapacity.
Sebagai tambahan, pemindahan ibu kota tidak akan mengurangi
tanggung jawab Gubernur Jakarta dalam menangani masalah di ibu kota.
Sebaliknya, ini akan memungkinkan pemerintah pusat dan daerah untuk bekerja
sama dalam menangani masalah infrastruktur dan lingkungan yang kompleks di
Jakarta.
Pemindahan ibu kota bukan hanya tentang mengurangi beban
Jakarta, tetapi juga tentang memperkuat daerah-daerah lain di Indonesia. Dengan
mengalihkan pusat administrasi negara ke Kalimantan Timur, ini akan membantu
mengurangi ketimpangan antara Jakarta dan daerah-daerah lainnya.
Sebagai tambahan, ini akan mengurangi ketergantungan Jakarta
pada pemerintah pusat, sehingga tidak akan ada kesenjangan perlakuan dari
pemerintah pusat terhadap Jakarta dibandingkan dengan daerah lainnya.
Penutup: Meluruskan Persepsi
Rabu, 07 Februari 2024
KULTUR FEODAL DI INDONESIA
Definisi dan makna feodalisme dapat bervariasi
tergantung pada konteks sejarah, sosial, dan politiknya. Secara umum,
feodalisme merujuk pada sistem sosial, politik, dan ekonomi yang berkembang di
Eropa Barat pada Abad Pertengahan (sekitar abad ke-9 hingga ke-15), meskipun
konsep ini juga dapat diterapkan pada beberapa masyarakat di luar Eropa.
Berikut adalah makna dan definisi feodalisme yang umum:
Definisi Feodalisme:
·
Sistem Hierarki:
Feodalisme adalah sistem hierarki di
mana kekuasaan dan sumber daya terpusat di tangan seorang penguasa atau
kelompok kecil elite. Kepemilikan tanah adalah salah satu faktor utama dalam
menentukan struktur kekuasaan dan status sosial.
·
Hubungan Feodal:
Feodalisme melibatkan hubungan
feodal antara penguasa (biasanya seorang bangsawan atau raja) dan vassal
(biasanya seorang bangsawan kecil atau ksatria). Penguasa memberikan tanah dan
perlindungan kepada vassal dalam pertukaran atas pengabdiannya dan setia.
·
Pertukaran Loyalitas:
Salah satu karakteristik utama
feodalisme adalah sistem pertukaran loyalitas. Penguasa memberikan perlindungan
dan tanah kepada vassal, dan vassal mengabdi kepada penguasa, memberikan
loyalitas, dan memberikan bantuan militer atau jasa lainnya sesuai kebutuhan.
·
Ketergantungan Sosial:
Feodalisme menciptakan
ketergantungan sosial yang kompleks antara penguasa dan vassal, serta antara
vassal dan petani atau pekerja lainnya. Kekuasaan dan otoritas berpusat di
tangan elit, sementara masyarakat biasa mengalami keterbatasan dalam mobilitas
sosial dan hak-hak politik.
Makna Feodalisme:
·
Sistem Sosial dan Ekonomi:
Feodalisme adalah sistem sosial dan
ekonomi yang melibatkan hubungan hierarkis yang kuat antara penguasa dan
subjeknya, dengan tanah sebagai basis utama kekuasaan dan pertukaran ekonomi.
·
Ketergantungan dan Perlindungan:
Feodalisme menciptakan hubungan
ketergantungan dan perlindungan di antara kelas-kelas sosial yang berbeda,
dengan penguasa memberikan perlindungan dan tanah kepada vassal dalam
pertukaran atas jasa dan loyalitas mereka.
·
Warisan
Sejarah:
Feodalisme adalah bagian integral
dari sejarah Eropa pada Abad Pertengahan dan merupakan landasan bagi struktur
sosial, politik, dan ekonomi di masa tersebut. Meskipun tidak lagi ada dalam
bentuk aslinya, warisan feodalisme masih dapat ditemukan dalam beberapa aspek
masyarakat modern.
Dengan demikian, feodalisme merupakan sistem
yang kompleks dengan implikasi yang luas dalam pembentukan struktur sosial dan
politik di masa lalu, meskipun keberadaannya tidak lagi signifikan dalam
masyarakat modern.
Kultur Feodal di
Masyarakat saat ini
Memahami bahwa Indonesia memiliki karakteristik
feodal yang masih tercermin dalam struktur masyarakat saat ini adalah penting
dalam menggali dinamika sosial dan politik negara tersebut. Berikut adalah
beberapa karakteristik masyarakat Indonesia yang masih mencerminkan unsur-unsur
feodalisme:
1. Struktur Sosial Hierarkis:
Indonesia masih memiliki struktur sosial yang
relatif hierarkis, di mana kedudukan dan status seseorang sering kali
ditentukan oleh faktor-faktor seperti kekayaan, keturunan, dan kedudukan sosial
keluarga. Kelompok elite, termasuk politisi, bisnis, dan keluarga bangsawan,
cenderung memiliki akses yang lebih besar terhadap sumber daya dan kekuasaan.
2. Ketergantungan pada Kepemimpinan Otoriter:
Ketergantungan pada pemimpin yang otoriter atau
berkuasa masih cukup kuat dalam masyarakat Indonesia. Budaya patron-client, di
mana individu atau kelompok bergantung pada figur otoriter untuk perlindungan
atau keberhasilan, adalah contoh klasik dari sisa-sisa feodalisme.
3. Kebijakan Nepotisme dan Klientelisme:
Praktik nepotisme, di mana posisi atau
kesempatan didapatkan melalui hubungan keluarga atau personal, dan
klientelisme, di mana pengaruh politik didapatkan melalui jaringan pribadi atau
patron, masih umum terjadi di Indonesia. Hal ini mencerminkan hubungan feodal
antara penguasa dan vassal, di mana loyalitas dan perlindungan diberikan dalam
pertukaran atas keuntungan pribadi.
4. Pembagian Sosial yang Ketat:
Terdapat pembagian yang ketat antara kelas
sosial di Indonesia, dengan kesenjangan ekonomi dan akses terhadap pendidikan,
layanan kesehatan, dan kesempatan kerja yang besar antara yang kaya dan yang
miskin. Hal ini mencerminkan struktur sosial feodal di mana kekayaan dan
kekuasaan terpusat pada segelintir elite.
5. Pemertahanan Tradisi dan Adat Istiadat:
Masyarakat Indonesia seringkali masih
menghormati tradisi dan adat istiadat secara mendalam, yang mencerminkan
warisan feodalisme di mana norma-norma sosial dan budaya dihormati dan
dijunjung tinggi.
6. Ketidaksetaraan Gender:
Ketidaksetaraan gender masih menjadi masalah
serius di Indonesia, dengan wanita seringkali mengalami diskriminasi dalam hal
akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan keputusan politik. Ini sejalan dengan
pola feodalisme di mana posisi wanita sering kali lebih rendah dari pada pria
dalam hierarki sosial.
Dengan memahami karakteristik ini, kita dapat
melihat bagaimana sisa-sisa feodalisme masih terkandung dalam struktur dan pola
perilaku masyarakat Indonesia saat ini. Upaya untuk mengatasi masalah ini
melibatkan transformasi sosial, politik, dan budaya yang berkelanjutan untuk
mencapai kesetaraan, keadilan, dan kesejahteraan yang lebih besar bagi semua
warga negara.
Feodalisme dalam
partai politik
Kultur feodal yang masih terdapat dalam partai
politik Indonesia merupakan fenomena yang menarik dan sering kali menjadi
contoh nyata bagaimana sisa-sisa feodalisme dapat bertahan dalam institusi yang
seharusnya mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi. Berikut adalah beberapa
contoh bagaimana kultur feodal masih tercermin dalam partai politik di
Indonesia:
1. Pemilihan Kepemimpinan Berdasarkan Keturunan
atau Trah Tertentu:
Dalam beberapa partai politik di Indonesia,
proses pemilihan ketua partai atau tokoh penting lainnya masih seringkali
berdasarkan pada faktor keturunan atau garis keturunan tertentu. Hal ini
mencerminkan praktik feodalisme di mana kekuasaan dan otoritas diwariskan
secara turun-temurun dalam keluarga atau golongan tertentu.
2. Ketergantungan pada Pemimpin Otoriter:
Banyak partai politik masih memiliki struktur
kepemimpinan yang sangat otoriter, di mana keputusan dan arahan diberikan oleh
satu atau beberapa tokoh penting, sementara anggota partai lainnya cenderung
tunduk pada otoritas mereka. Hal ini mencerminkan ketergantungan pada pemimpin
yang merupakan ciri khas feodalisme.
3. Praktik Nepotisme dan Klientelisme:
Dalam proses rekrutmen kader atau penunjukan
posisi penting dalam partai politik, seringkali terjadi praktik nepotisme dan
klientelisme di mana kepentingan pribadi atau keluarga menjadi prioritas,
daripada kualifikasi atau kinerja yang seharusnya menjadi pertimbangan utama.
Hal ini mirip dengan hubungan feodal antara penguasa dan vassal di mana
perlindungan dan keuntungan diberikan dalam pertukaran atas kesetiaan dan jasa.
4. Pembatasan Akses dan Mobilitas Politik:
Beberapa partai politik juga menerapkan
pembatasan akses atau mobilitas politik bagi individu yang tidak memiliki
hubungan atau afiliasi dengan kelompok tertentu. Hal ini menciptakan hambatan
bagi partisipasi politik yang inklusif dan adil, yang seharusnya menjadi
prinsip utama dalam sistem demokrasi.
5. Pembentukan Aliansi Berdasarkan Keturunan
atau Afinitas Lainnya:
Dalam proses pembentukan koalisi atau aliansi
politik, seringkali faktor-faktor keturunan atau afinitas pribadi lebih
dipertimbangkan daripada agenda politik atau ideologi. Hal ini mencerminkan
prinsip feodalisme di mana hubungan personal atau keluarga diutamakan di atas
kepentingan umum.
Dengan menyadari adanya kultur feodal dalam
partai politik, penting bagi masyarakat untuk mendorong transparansi,
akuntabilitas, dan reformasi internal dalam partai politik untuk memastikan
bahwa mereka sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang seharusnya mereka
wakili.