Rabu, 09 Oktober 2024

CATATAN ASING TENTANG NUSANTARA

Selain dari Tiongkok, catatan mengenai Nusantara juga ditemukan dalam berbagai sumber dari wilayah lain di Asia. Catatan ini berasal dari prasasti maupun literatur yang ditulis oleh pelancong, pedagang, dan utusan dari berbagai negara, terutama India, Timur Tengah, dan wilayah Asia lainnya. Berikut adalah beberapa catatan penting dari wilayah-wilayah lain di Asia yang menyebutkan atau memberikan gambaran mengenai Nusantara:

1. Catatan India - Prasasti Nalanda (860 M)

Prasasti Nalanda adalah sebuah prasasti yang ditemukan di India dan menyebutkan raja dari kerajaan di Nusantara. Prasasti ini ditulis pada masa Raja Balaputradewa dari Kerajaan Srivijaya. Dalam prasasti tersebut, Balaputradewa disebut sebagai donatur besar yang mendirikan sebuah biara (vihara) di Nalanda, India, yang merupakan pusat pembelajaran Buddha terkemuka pada masa itu.

Prasasti Nalanda ini menegaskan adanya hubungan erat antara Srivijaya dan pusat pembelajaran Buddha di India. Srivijaya tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga pusat pembelajaran agama Buddha di Asia Tenggara.


2. Catatan Arab - Kitab "Akhbar al-Sin wa'l-Hind" (Abad ke-9)

Seorang penulis dan pelancong Arab bernama Sulayman al-Tajir mencatat perjalanannya ke India dan Cina dalam karyanya Akhbar al-Sin wa'l-Hind (Berita dari Cina dan India). Dalam catatannya, dia menyebut wilayah di Nusantara, terutama Sumatra, yang dia kunjungi selama perjalanannya.

Sulayman al-Tajir mencatat bahwa di Sumatra, ada kerajaan yang makmur berkat perdagangan rempah-rempah, emas, dan hasil hutan lainnya. Ini menunjukkan adanya hubungan dagang yang erat antara Nusantara dengan para pedagang dari Timur Tengah sejak abad ke-9.


3. Catatan Persia - "Silsilat al-Tawarikh" (Abad ke-14)

Silsilat al-Tawarikh adalah kronik sejarah yang ditulis oleh para cendekiawan Persia. Salah satu bagian dari karya ini menyebutkan tentang hubungan antara Kerajaan Samudera Pasai di Sumatra dengan pedagang dan ulama dari Persia.

Samudera Pasai disebut sebagai pusat kekuasaan Islam di Nusantara, di mana pedagang dan ulama dari Persia sering berkunjung untuk berdagang dan menyebarkan ajaran Islam. Hubungan ini memperlihatkan bahwa Samudera Pasai memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara.


4. Prasasti Ligor (Abad ke-8)

Prasasti Ligor ditemukan di Thailand selatan (Ligor) dan menyebut Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-8. Prasasti ini mencatat bahwa Sriwijaya memiliki pengaruh hingga ke wilayah Thailand selatan dan terlibat dalam perdagangan regional, termasuk dengan India dan Asia Selatan.

Prasasti ini menyebutkan pembangunan sebuah candi yang dilakukan oleh Sriwijaya di Ligor, menunjukkan bahwa Sriwijaya tidak hanya mengontrol perdagangan di wilayah ini, tetapi juga menyebarkan pengaruh agama Buddha di seluruh Asia Tenggara.


5. Prasasti Tanjore (1030 M)

Prasasti ini ditulis pada masa pemerintahan Raja Rajendra Chola I dari Dinasti Chola di India Selatan. Prasasti Tanjore mencatat ekspedisi militer Dinasti Chola ke beberapa kerajaan di Asia Tenggara, termasuk Sriwijaya.

Dalam prasasti ini, disebutkan bahwa Chola berhasil menyerang beberapa pelabuhan penting di Sumatra dan Semenanjung Malaya yang dikuasai Sriwijaya. Ini menunjukkan adanya persaingan antara kekuatan-kekuatan besar di wilayah Asia, di mana Sriwijaya dan Chola saling berkompetisi untuk menguasai jalur perdagangan maritim.


6. Catatan Marco Polo (1292 M)

Marco Polo, seorang penjelajah dari Venesia, mencatat perjalanannya melewati Nusantara dalam perjalanan pulangnya dari Cina ke Eropa pada tahun 1292. Dalam catatannya, dia menyebut beberapa wilayah di Nusantara, seperti Sumatra dan Jawa.

Marco Polo menyebutkan bahwa wilayah Sumatra terbagi menjadi beberapa kerajaan kecil, beberapa di antaranya telah menganut Islam, sementara yang lainnya masih memeluk agama Buddha dan Hindu. Ini merupakan salah satu catatan tertua dari seorang penjelajah Eropa yang menyebutkan kehadiran Islam di Nusantara.


7. Prasasti Karangtengah (824 M)

Prasasti Karangtengah ditemukan di Jawa Tengah dan menyebutkan seorang raja dari Dinasti Syailendra yang memiliki hubungan dengan Sriwijaya. Prasasti ini memuat pernyataan tentang Raja Indra yang memberikan bantuan untuk pembangunan candi, serta hubungannya dengan kerajaan di luar Jawa.

Prasasti ini menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara dinasti-dinasti di Jawa dan Sumatra pada masa itu, terutama dalam konteks agama Buddha dan pembangunan candi.


8. Catatan Ibnu Battuta (Abad ke-14)

Ibnu Battuta, seorang pengembara Muslim dari Maroko, mengunjungi Sumatra pada abad ke-14 dalam perjalanannya ke Cina. Dalam catatannya, dia menyebutkan Kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Muslim yang makmur dan menjadi pusat perdagangan internasional di Asia Tenggara.

Ibnu Battuta mencatat bahwa raja Samudera Pasai sangat saleh dan memberikan sambutan yang baik kepada para pelancong Muslim. Ia juga mencatat tentang masjid-masjid dan kehidupan sosial yang berkembang di bawah pengaruh Islam di wilayah tersebut.


9. Catatan Tome Pires (1512-1515 M) - "Suma Oriental"

Tome Pires adalah seorang apoteker dan penjelajah Portugis yang menulis Suma Oriental, salah satu catatan paling rinci tentang Asia Tenggara pada awal abad ke-16. Dia mengunjungi banyak kerajaan di Nusantara, termasuk Malaka, Jawa, dan Sumatra.

Tome Pires menyebutkan beberapa kerajaan penting di Jawa dan Sumatra, seperti Demak, Sunda, dan Pasai. Dia mencatat bahwa wilayah Nusantara sangat kaya akan rempah-rempah dan barang dagangan lainnya, dan merupakan pusat perdagangan yang penting di antara Asia Timur, Timur Tengah, dan India.


10. Prasasti Laguna Copperplate (900 M)

Prasasti Laguna Copperplate adalah prasasti tembaga yang ditemukan di Laguna, Filipina, dan ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan aksara Kawi. Prasasti ini menyebutkan hubungan diplomatik dan perdagangan antara kerajaan di Filipina dan kerajaan di Jawa atau Sumatra pada abad ke-10.

Prasasti ini menunjukkan bahwa pengaruh kerajaan-kerajaan Nusantara tidak hanya terbatas pada wilayah Asia Tenggara, tetapi juga meluas ke Filipina dan sekitarnya.


Kesimpulan:

Catatan dan prasasti dari wilayah lain di Asia menunjukkan bahwa Nusantara telah menjadi pusat penting dalam jaringan perdagangan maritim internasional sejak zaman kuno. Nusantara dikenal oleh berbagai bangsa di Asia, seperti India, Persia, Arab, dan bahkan Asia Tenggara lainnya, sebagai wilayah yang kaya dan strategis, baik dalam hal ekonomi maupun agama.


CATATAN TIONGKOK MENGENAI NUSANTARA

Catatan Tiongkok mengenai Nusantara (Kepulauan Indonesia) dari berbagai masa memberikan wawasan yang sangat berharga tentang hubungan antara kedua kawasan. Para pelancong dan duta dari Tiongkok mencatat interaksi dagang, budaya, serta politik dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Berikut beberapa catatan penting dari Tiongkok yang memuat informasi mengenai Nusantara:

1. Catatan Ma Huan (Zheng He’s Expedition) - "Yingya Shenglan" (1433)

Ma Huan adalah seorang penerjemah Muslim Tiongkok yang mengikuti ekspedisi Laksamana Cheng Ho (Zheng He) ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, termasuk Nusantara, pada abad ke-15. Dalam Yingya Shenglan, Ma Huan memberikan deskripsi mengenai berbagai kerajaan di Nusantara, seperti:

Majapahit: Ma Huan mencatat kekayaan Majapahit dan menyebutkan bahwa kerajaan ini memiliki sistem pemerintahan yang maju dan kaya akan hasil bumi seperti rempah-rempah dan emas. Ia juga mencatat tentang tata kota, kehidupan masyarakat, dan hubungan perdagangan yang luas antara Majapahit dan Tiongkok.

Samudera Pasai: Ma Huan mencatat adanya hubungan dagang yang erat antara Tiongkok dan Kerajaan Samudera Pasai, kerajaan Islam di Sumatera. Dia menggambarkan Samudera Pasai sebagai pusat perdagangan besar, khususnya dalam hal rempah-rempah, kain sutra, dan perak.


2. Catatan Zhao Rugua - "Zhufan Zhi" (1225)

Zhao Rugua adalah pejabat dinasti Song yang menulis tentang berbagai kerajaan asing dalam Zhufan Zhi ("Deskripsi Negara-Negara Barbar"). Dalam karyanya, Zhao Rugua mencatat keberadaan kerajaan-kerajaan di Nusantara:

Kerajaan Srivijaya: Zhao Rugua menyebut Srivijaya (dikenal dalam catatan Tiongkok sebagai Shih-li-fo-shih) sebagai kerajaan yang kaya raya dan memiliki pelabuhan dagang yang penting. Srivijaya adalah pusat perdagangan maritim di Asia Tenggara dan dikenal sebagai tempat transit untuk perdagangan barang-barang dari India dan Tiongkok.

Jawa: Ia juga mencatat tentang kerajaan-kerajaan di Jawa, terutama dalam konteks perannya sebagai pusat perdagangan rempah-rempah. Zhao Rugua mencatat bahwa orang Jawa sangat ahli dalam perdagangan dan memiliki peradaban yang maju.


3. Catatan dari Dinasti Tang - "Xin Tangshu" (Abad ke-7 hingga ke-10)

Dalam Xin Tangshu (Buku Sejarah Tang Baru), terdapat beberapa catatan tentang hubungan Dinasti Tang dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama kerajaan Srivijaya yang dikenal sebagai Shih-li-fo-shih dalam catatan tersebut:

Srivijaya: Dinasti Tang menjalin hubungan diplomatik dengan Srivijaya, yang menjadi salah satu pusat kekuasaan maritim terbesar di Asia Tenggara pada saat itu. Pada abad ke-7, Raja Sri Jayanasa dari Srivijaya mengirimkan utusan ke istana Tang, mempererat hubungan diplomatik dan perdagangan antara Tiongkok dan Nusantara. Utusan Srivijaya membawa barang-barang seperti gading, cengkeh, dan emas sebagai hadiah.


4. Catatan Dinasti Yuan - "Daoyi Zhilüe" (1349)

Wang Dayuan, seorang pelancong dan pedagang Tiongkok, menulis tentang kunjungannya ke berbagai tempat di Asia Tenggara dalam Daoyi Zhilüe ("Ringkasan Negara-Negara Kepulauan"). Dalam catatan ini, Wang Dayuan menggambarkan keadaan di beberapa kerajaan di Nusantara:

Tumasik (Singapura): Wang Dayuan mencatat tentang keberadaan Tumasik sebagai salah satu pelabuhan yang penting di jalur perdagangan antara India dan Tiongkok. Ia juga mencatat tentang persaingan dan pertempuran antara kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut.

Jawa: Wang Dayuan menyebut bahwa pulau Jawa (Tionghoa: Zhao-wa) memiliki kekayaan alam yang melimpah, termasuk beras, kapas, dan rempah-rempah. Jawa adalah pusat perdagangan yang menarik para pedagang dari berbagai belahan dunia, termasuk Arab dan India.


5. Catatan Dinasti Ming - Catatan Cheng Ho (Abad ke-15)

Laksamana Cheng Ho memimpin beberapa ekspedisi besar ke Nusantara antara 1405 dan 1433. Selama ekspedisinya, ia berlayar ke banyak kerajaan di Nusantara, termasuk Majapahit, Samudera Pasai, dan Palembang (bekas pusat Srivijaya):

Cheng Ho memperkuat hubungan diplomatik antara Dinasti Ming dan kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama dengan kerajaan-kerajaan Muslim seperti Samudera Pasai dan Malaka. Dia juga membawa hadiah dari Tiongkok dan menegosiasikan perjanjian dagang.


6. Catatan I-Tsing (Yi Jing) - Abad ke-7

Seorang biksu Buddha dari Tiongkok bernama I-Tsing melakukan perjalanan melalui Nusantara pada abad ke-7. Ia singgah di Srivijaya (Sumatra) selama beberapa tahun sebelum melanjutkan perjalanannya ke India untuk belajar agama Buddha. Dalam catatannya, ia menyebut Srivijaya sebagai pusat pembelajaran Buddha dan menyarankan biksu-biksu lain untuk belajar di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke India.

Catatan-catatan ini memberikan gambaran tentang bagaimana kerajaan-kerajaan di Nusantara dilihat oleh bangsa Tiongkok, terutama dalam hal kekayaan alam, perdagangan, dan hubungan diplomatik. Hubungan antara Tiongkok dan Nusantara telah berlangsung selama berabad-abad dan memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi dan budaya di kedua wilayah.

Senin, 07 Oktober 2024

Galuh Candrakirana dalam Cerita Panji:

Galuh Candrakirana adalah putri cantik dari kerajaan Daha (Kediri) yang menjadi pusat cerita "Panji." Kisah ini berkisar pada percintaannya dengan Panji Asmarabangun, seorang pangeran dari Kerajaan Kahuripan (atau Jenggala). Cerita ini merupakan salah satu bentuk epos romansa Jawa, dengan unsur drama, intrik politik, dan petualangan.

Dalam kisah Panji, Galuh Candrakirana bertunangan dengan Panji Asmarabangun sejak kecil. Namun, berbagai konflik politik dan peperangan antara dua kerajaan, Daha dan Kahuripan, memisahkan mereka. Banyak intrik yang membuat kisah cinta mereka penuh liku-liku, dengan Galuh Candrakirana sering kali diculik atau menghilang, dan Panji harus berjuang untuk menemukannya.

Tema Kisah Panji:

Kesetiaan dan Cinta Sejati: Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana harus melalui banyak cobaan, termasuk pemisahan paksa, penyamaran, dan serangkaian tantangan sebelum akhirnya bersatu kembali. Cerita ini sering dianggap sebagai simbol cinta yang abadi, dan keduanya tetap setia meskipun banyak rintangan.

Penyamaran: Salah satu tema utama dalam siklus cerita Panji adalah penyamaran. Kedua tokoh utama, baik Panji maupun Galuh, sering kali menyamar sebagai orang biasa selama perjalanan mereka, sehingga kisah ini penuh dengan petualangan, pertemuan, dan konflik yang kompleks.

Perjalanan dan Pencarian: Cerita ini banyak melibatkan perjalanan panjang yang dilakukan Panji untuk menemukan Galuh setelah mereka terpisah. Dalam perjalanan tersebut, Panji menghadapi banyak rintangan dan lawan, termasuk raja-raja dan pangeran dari kerajaan lain yang juga ingin mempersunting Galuh Candrakirana.


Pengaruh dalam Budaya Jawa:

Kisah Panji, termasuk tokoh Galuh Candrakirana, telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak karya seni dan budaya di Nusantara. Cerita Panji sering dijadikan bahan lakon dalam pertunjukan wayang, tari, dan kesusastraan. Di masa Majapahit, kisah Panji populer tidak hanya di kalangan rakyat, tetapi juga di kalangan bangsawan.

Cerita Panji juga menyebar ke daerah lain di Asia Tenggara, seperti Thailand, Kamboja, dan Malaysia, di mana tokoh-tokoh seperti Panji dan Galuh Candrakirana dikenal dengan nama yang berbeda, tetapi intisari cerita tetap sama.

Galuh Candrakirana sebagai Simbol Wanita Ideal:

Galuh Candrakirana dalam kisah ini dilukiskan sebagai wanita yang sangat cantik, bijaksana, dan setia. Ia menjadi simbol kecantikan fisik dan batin dalam budaya Jawa kuno. Kesetiaannya terhadap Panji meski dihadapkan pada berbagai cobaan dan godaan dari pria-pria lain menunjukkan kekuatan moral dan spiritualnya.

Warisan Sastra Panji:

Cerita Panji dan tokoh Galuh Candrakirana masih bertahan hingga kini, di mana beberapa naskah kuno yang menceritakan kisah ini dapat ditemukan di berbagai perpustakaan di Indonesia dan mancanegara. Kisah ini juga terus dipelajari dalam studi sastra Jawa, karena menjadi salah satu cerita epik yang paling berpengaruh pada kebudayaan Jawa hingga hari ini.


Kamis, 19 September 2024

Legenda Sangkuriang dan Ilmu Geologi tanah Pasundan

 Legenda Sangkuriang dan Kaitan Geologi dengan Gunung Sunda Purba serta Danau Bandung

Legenda Sangkuriang: Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu

Legenda Sangkuriang merupakan salah satu kisah rakyat yang sangat terkenal di tanah Sunda, khususnya di Jawa Barat. Cerita ini mengisahkan seorang pemuda bernama Sangkuriang yang jatuh cinta kepada ibunya sendiri, Dayang Sumbi, tanpa mengetahui identitasnya. Setelah mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya, Dayang Sumbi berusaha menghindari pernikahan tersebut dengan memberikan syarat yang hampir mustahil: Sangkuriang harus membuat sebuah danau dan perahu dalam satu malam. Sangkuriang dengan kekuatan gaib hampir berhasil, namun Dayang Sumbi menggagalkan usaha tersebut dengan menipu waktu subuh. Marah karena gagal, Sangkuriang menendang perahu yang telah dibuatnya, yang kemudian terbalik dan menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Kisah ini telah diceritakan turun-temurun, menjadi bagian dari kekayaan budaya Sunda. Namun, ada hal menarik yang dapat dihubungkan antara legenda tersebut dengan kenyataan geologis yang ditemukan oleh para ahli tentang terbentuknya wilayah Bandung.

Fakta Geologi: Gunung Sunda Purba dan Danau Bandung Purba

Secara geologis, daerah Bandung merupakan bagian dari kaldera gunung raksasa yang dikenal sebagai Gunung Sunda Purba. Ribuan tahun lalu, Gunung Sunda merupakan salah satu gunung berapi terbesar di wilayah Jawa Barat, yang mencapai ketinggian hingga ribuan meter. Namun, sekitar 55.000 tahun lalu, Gunung Sunda mengalami letusan dahsyat yang mengakibatkan puncaknya runtuh, menciptakan kaldera besar.

Setelah letusan tersebut, kaldera yang terbentuk diisi oleh air dan menciptakan Danau Bandung Purba. Danau ini membentang sangat luas, mencakup hampir seluruh cekungan Bandung yang kita kenal sekarang. Seiring waktu, aliran air yang membentuk danau ini kemudian mengering akibat erosi dan proses geologi lainnya, sehingga cekungan Bandung berubah menjadi daratan.

Gunung Tangkuban Perahu, yang hari ini berdiri megah, sebenarnya merupakan salah satu bagian yang tersisa dari Gunung Sunda Purba. Setelah letusan besar yang menghancurkan Gunung Sunda, gunung-gunung baru mulai terbentuk, termasuk Tangkuban Perahu, yang dikenal sebagai "anak" dari gunung purba tersebut. Bentuknya yang menyerupai perahu terbalik semakin memperkuat kaitannya dengan legenda Sangkuriang.

Keterkaitan Legenda dengan Fakta Geologi

Pertanyaannya sekarang, apakah mungkin orang-orang zaman dahulu menyadari informasi geologi tentang Gunung Sunda Purba dan Danau Bandung, dan kemudian mengemasnya dalam bentuk legenda seperti kisah Sangkuriang?

Dalam berbagai kebudayaan di dunia, seringkali mitos dan legenda memiliki akar yang kuat pada peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di masa lalu. Orang-orang zaman dahulu, meskipun tidak memiliki teknologi atau ilmu pengetahuan seperti sekarang, mengamati fenomena alam dengan seksama. Mereka mungkin tidak memahami detail teknis seperti proses vulkanologi atau geologi, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk merasakan dan mengabadikan fenomena tersebut melalui cerita.

Kisah tentang Sangkuriang, dengan unsur-unsur seperti gunung yang terbentuk dari perahu yang terbalik, secara tidak langsung mungkin menggambarkan proses terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu dari sisa-sisa Gunung Sunda Purba. Sangkuriang yang membangun danau juga bisa mencerminkan keberadaan Danau Bandung Purba di masa lalu. Walaupun cerita ini penuh dengan unsur magis, elemen-elemen utamanya mungkin terinspirasi oleh realitas geologi yang dialami oleh masyarakat saat itu.

Hal serupa terjadi di banyak tempat lain di dunia. Mitos tentang banjir besar, misalnya, sering ditemukan di berbagai budaya dan seringkali merujuk pada kejadian nyata, seperti banjir akibat letusan gunung atau perubahan iklim. Legenda-legenda semacam ini menjadi cara bagi masyarakat untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa besar yang mereka alami, dan kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Apakah Masyarakat Dulu Mengetahui Geologi?

Masyarakat kuno tidak memiliki akses ke ilmu geologi modern, tetapi mereka sangat dekat dengan alam. Pengamatan mereka terhadap siklus gunung berapi, banjir, gempa bumi, dan fenomena alam lainnya sering kali ditransformasikan menjadi mitos dan legenda. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa legenda Sangkuriang mencerminkan pengalaman nyata masyarakat Sunda kuno terhadap perubahan geologis yang terjadi di sekitar mereka.

Secara sadar atau tidak, legenda Sangkuriang membawa memori kolektif masyarakat Sunda tentang letusan dahsyat Gunung Sunda Purba dan terbentuknya Danau Bandung. Dengan demikian, meski dalam bentuk simbolik dan penuh elemen fantastis, cerita ini menjadi salah satu cara mereka memahami fenomena geologi besar yang membentuk wilayah tempat mereka tinggal.

Kesimpulan

Legenda Sangkuriang bukan hanya kisah rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi mungkin juga merupakan refleksi dari peristiwa geologi besar yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Masyarakat Sunda kuno, meskipun tidak memiliki pengetahuan ilmiah seperti sekarang, memiliki cara tersendiri untuk menceritakan fenomena alam yang terjadi di sekitar mereka. Melalui mitos, mereka mengabadikan proses terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu dan Danau Bandung Purba, yang hari ini diakui oleh ilmu geologi modern.

Kamis, 12 September 2024

Politisasi Intelektual Rendah: Strategi Politisi yang Memanfaatkan Psikologi Masyarakat

 

Dalam konteks politik, pemahaman akan psikologi massa menjadi penting, terutama ketika politisi memanfaatkannya untuk kepentingan mereka sendiri. Tulisan ini akan mengeksplorasi fenomena psikologis di balik pola perilaku politisi yang memanfaatkan intelektual rendah masyarakat, alih-alih mencerdaskan atau memberikan pendidikan politik yang baik.

 

1. Pengertian Psikologi Masyarakat dan Intelektual Rendah:

 

Penjelasan tentang psikologi masyarakat dan bagaimana tingkat intelektual seseorang memengaruhi pemahaman politik dan partisipasi dalam proses politik.

Dampak dari intelektual rendah pada pola perilaku dan keputusan politik.

 

2. Politisasi Intelektual Rendah:

 

Analisis tentang bagaimana politisi menggunakan strategi untuk memanfaatkan intelektual rendah masyarakat demi keuntungan politik pribadi.

Contoh-contoh konkrit dari praktik politisasi intelektual rendah, seperti penyebaran informasi palsu, retorika yang menipu, dan manipulasi emosi massa.

 

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Politik Masyarakat:

 

Peran media massa dan teknologi dalam membentuk opini dan sikap politik masyarakat.

Pengaruh lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi terhadap persepsi politik dan partisipasi dalam proses politik.

 

4. Dampak Negatif Politisasi Intelektual Rendah:

 

Konsekuensi dari politisasi intelektual rendah, termasuk penurunan kualitas demokrasi, polarisasi politik, dan kerentanan terhadap manipulasi politik.

Penyimpangan dari tujuan utama politik, yakni melayani kepentingan publik dan memajukan kesejahteraan masyarakat.

 

5. Mengatasi Politisasi Intelektual Rendah:

 

Pendidikan politik yang inklusif dan terjangkau untuk meningkatkan literasi politik masyarakat.

Pentingnya kritisisme dan skeptisisme dalam menyikapi informasi politik yang diterima.

Peran aktivis masyarakat dan LSM dalam memantau dan menentang praktik politik yang merugikan.

Kesimpulan: Mengakhiri tulisan dengan menegaskan pentingnya kesadaran akan politisasi intelektual rendah dan perlunya tindakan untuk melawan praktik-praktik manipulatif yang merugikan. Politisi dan masyarakat sama-sama memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa politik berjalan di jalur yang benar dan berpihak pada kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi belaka.

Minggu, 03 Maret 2024

Kebangkitan Nusantara

 

 

Sore itu udara cerah dan segar, angin semilir membelai wajah membawa ketenangan.  Mbah Semar sedang asyik duduk di Pendopo di temani Petruk.  Kopi dan gorengan menjadi teman yang nikmat untuk menikmati hari.

Petruk                  :  Romo, wis lama ini Nusantara menjadi terbelakang dan kesuliatan bersaing dengan Negara-negara lain.  Padahal dahulu kala Nusantara menjadi besar dengan kerajaan-kerajaan super powernya.  Itu juga yang membuat Tumaritis gabung ke Nusantara.

Semar                   :  Hehe yo opo toh... bangsa ini sudah terlalu lama di didik untuk jadi pecundang oleh para pendatang yang ingin mengambil kekayaan wilayah ini.

Petruk                  :  Tapi Romo, katanya ada ramalan yang bilang kalo Nusantara akan bangkit dan menjadi besar lagi.

Semar                   :  Hehehe.. opo toh.. ramalan itu hanya bisa terlaksana kalau penduduknya mau kembali ke masa keemasan Nusantara.

Petruk                  :  Seperti apa itu Romo?

Semar                   :  Setiap kejayaan suatu bangsa itu selalu di sertai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di negeri itu.  Rakyatnya berlomba-lomba untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.  Dan setiap jaman itu selalu berbeda kebutuhannya untuk menjadikan suatu bangsa besar.  Missal, dahulu kala siapa yang bisa menaklukkan lautan maka dia akan menjadi Negara yang super power.  Berikutnya ada jaman di mana teknologi mulai di temukan dan Negara-negara yang menguasai teknologi dan mengatasi masalah yang timbul karenanya akan menjadi Negara super.  Seperti yang terjadi pada saat revolusi industry awal terjadi.  Dan sekarang eranya teknologi informasi dan digital maka siapa yang bisa menguasainya dialah yang akan Berjaya.

Petruk                  :  Nah, sekarang negeri ini pengguna interntenya dan teknologi informasinya termasuk yang terbesar di dunia, berarti kita akan menjadi Negara besar?

Semar                   :  Hehe.. yang membuat negeri ini jadi besar bukan hanya karena penggunanya yang besar, tapi juga inovasi dan penciptaan teknologi.  Kalau Cuma menggunakan malah jadi konsumen saja, mereka yang menguasai teknologi yang akan mendapat keuntungan dan menguasai para pengguna.

Petruk                  :  Nah berarti kita juga harus bisa membuat teknologi seperti Facebook, Handphone dan lain-lain?

Semar                   :  Kalau kita mulai lagi dari awal membangun teknologi maka kita akan ketinggalan.  Barang kita tidak akan bisa bersaing, kalau mau bersaing bukan lagi mulai dari awal dalam pengembangan teknologi, tapi justru mengembangkan teknologi yang lebih maju lagi dari yang ada sekarang, sehingga kita bisa menjadi pioneer dalam teknologi maupun industry.  Masyarakat juga harus mulai meningkatkan kualitas dan kapabilitas pengetahuan dan keahliannya agar bisa bersaing dengan robot dan AI yang saat ini lebih murah dan efesien dalam proses industry.

Petruk                  :  Opo bisa room? Masyarakat kita masih manja dan malas.  Keahlian pas-pasan tapi maunya di berikan pekerjaan dan fasilitas sementara dari luar sumberdayamanusianya sudah jauh lebih terlatih dan ahli sehingga sulit untuk bersaing dengan mereka.

Semar                   :  Yo.. bisa ae... tinggal mau atau tidaknya.  Pemimpin-pemimpinnya mau ndak mengembangkan sumberdaya yang ada, dan rakyatnya mau ndak belajar dan menjadi lebih bersaing untuk menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas.  Kalau ndak ya.. wassalam.

Petruk hanya manggut-manggut sambil menyeruput kopinya.  Sementara mbah Semar memandang kea rah pegunungan yang asri dan mulai penuh dengan manusia.

Tradisi Politik di negeri Tumaritis

 

Yuk, kita lupain aja dulu tentang teori-teori ilmu politik yang ada dalam berbagai literasi ilmu politik.  Kita membaca realitas politik yang ada di Tumaritis.  Bagaimana cara bekerja dan pengaruhnya terhadap masyarakat, baik secara intelektualitas maupun mentalitas yang pasti bukan kualitas ataupun yang kapasitas terbatas... hehe.

Yuk..bisa yuk.. anak muda membaca dan mengaktualisasikan dirinya ke dunia politik.  Politik santuy dan happy... tanpa Salma..  tapi kalau dia mau saya juga mau sih..:P  dengan lolosnya saudara Komeng ke DPD, eh saudaranya apa Komengnya ya?? :D  ini menunjukkan juga kalo politik santuy dan happy mulai bisa di terima masyarakat.  Mungkin udah bosen dengan omon-omon yang pada akhirnya bukan mencerdaskan malah mengkerdilkan rakyat. 

Pada dasarnya politik di negeri ini adalah bagaimana menguasai persepsi public.  Jika bisa menguasai mayoriatas persepsi public walaupun itu adalah persepsi yang salah ata upun bahkan cenderung menyesatkan taka pa yang penting mereka bisa di arahkan seperti kerbau yang di cucuk hidungnya.  Makanya upaya untuk mencerdaskan rakyat itu Cuma slogan dan buaian agar mereka bisa  manfaatkan dengan kata “atas nama rakyat “ atau “rakyat sudah cerdas”.  Tapi di lain waktu mereka akan mengatakan “rakyat masih bodoh” atau “pengetahuan yang kurang”.  :D

Memanfaatkan minimnya literasi rakyat, kemampuan rasional mayoritas rakyat justru semakin di dorong dengan pendoktrinan dan penggiringan opini yang memanfaatkan emosional rakyat.  Seperti memanfaatkan rakyat marjinal, SARA dll.  Begitu juga dengan budaya dan karakter masyarakat yang masih feudal di manfaatkan dengan baik.  Kisah Petruk jadi raja selalu jadi bahan untuk mendeligitimasi orang-orang yang memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin tapi tidak memiliki trah atau darah bangsawan.  Baik itu bangsawan tradisional maupun bangsawan politik modern.

Itulah mengapa teori konspirasi, cocoklogi menjadi isu-isu yang selalu di angkat dan di kedepankan dalam berbagai diskusi di ruang public, termasuk dalam media massa mainstream seperti televise nasional.  Bahkan dalam beberapa acara diskusi di televise terlihat sekali pembawa acaranya mengarahkan pembicaraan ke persepsi yang di inginkan.  Indepedensi media jadi tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat hingga akhirnya dengan perkembangan tekhnologi saat ini banyak pihak-pihak yang membuat tayangan tandingan yang dapat di jadikan referensi alternative yang lebih netral oleh masyarakat.

Contoh peggiringan persepsi yang bisa di lihat adalah ketika seorang tokoh yang bernama Ricky Gareng mengatakan bahwa Joko Wibowo tidak bermoral karena tidak mendukung Capres yang di usung partainya sebagai bentuk tidak bermoral.  Sementara untuk tokoh lain yang dulunya di angkat, di tolong dengan fasilitas dan materi hingga di kenal luas, tapi pada akhrinya malah berbalik melawan bahkan menusuk orang yang menolong dan mengangkatnya malah di sanjung dan di jadikan contoh orang yang memiliki etika yang baik.  Dari sini aja kita bisa melihat bahwa apa yang di katakana Ricky Gareng ini sebagai contoh orang yang tidak memiliki etika dan moralitas rendah.  Tapi apalah-apalah.. karena feodalisme masih begitu kuat maka ketokohannya menjadikan apa yang keluar dari mulutnya di anggap benar sekalipun itu sampah.

Jumat, 01 Maret 2024

Generalisasi dalam berfikir

 

Suatu hari, Petruk, Gareng, Bagong, dan Semar sedang duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi.

Petruk : (sambil menyeduh kopi) Eh, tahu nggak, hari ini saya membaca bahwa jika seseorang suka minum kopi, maka dia pasti orang yang cerdas dan berkarakter kuat!

Gareng: Wah, bener nggak tuh, Petruk?

Petruk: Tentu saja! Lihat saja, kita semua suka minum kopi, kan? Itu artinya kita semua orang yang cerdas dan berkarakter kuat!

Semar: (sambil tersenyum) Maaf, nak, tapi itu adalah contoh dari logical fallacy yang disebut sebagai generalisasi.

Bagong: Generalisasi? Apa itu, Bapak?

Semar: Generalisasi adalah kesalahan berpikir di mana seseorang membuat kesimpulan umum tentang sebuah kelompok berdasarkan pada informasi yang tidak memadai atau hanya berdasarkan pada sedikit data.

Gareng: Oh, jadi nggak semua orang yang suka minum kopi otomatis cerdas dan berkarakter kuat?

Semar: Betul, Gareng. Ada banyak faktor lain yang mempengaruhi kepintaran dan karakter seseorang, bukan hanya dari minuman yang mereka konsumsi.

Petruk: (sambil menggelengkan kepala) Waduh, saya salah lagi. Tapi tetap saja, minum kopi itu enak!

Bagong: Iya, Bapak. Lagian, kalau minum kopi bikin pintar, aku mau minum kopi terus biar jadi jenius!

Semar: (tersenyum) Baiklah, tetapi ingat, cerdas dan berkarakter tidak hanya ditentukan oleh minuman yang kita minum. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakan pikiran dan sikap kita dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam cerita ini, tokoh-tokoh menggunakan generalisasi (logical fallacy) untuk menyimpulkan bahwa mereka semua cerdas dan berkarakter kuat hanya karena suka minum kopi, padahal hal tersebut tidak bisa dipastikan secara logis.

Rabu, 28 Februari 2024

Cerita Misteri : Gangguan di rumah lama

 

Minggu pagi adalah saat bagi keluarga kecilku untuk berolahraga. Aku, istri, dan anak lelakiku yang baru berusia empat tahun biasanya melakukan lari pagi menyusuri jalan raya berkeliling kampong. Setelah cukup jauh berjalan, kami selalu mampir untuk sarapan bubur ayam. Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Untuk mempersingkat perjalanan, kami memutuskan untuk memotong jalan melewati pinggir sungai, melalui kebun yang masih sepi. Tidak ada siapa-siapa di kebun itu pada saat itu karena memang masih terlalu pagi. Tiba-tiba, anakku bertanya sambil menunjuk ke arah kebun, "Pa, itu siapa? Lagi ngapain?" Aku dan istriku melihat ke arah yang ditunjuk anakku, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Istriku bergegas mempercepat langkah kakinya dan meninggalkan kami. "Oh, itu orang lagi beresin kebun," kataku dengan santai agar anakku tidak berfikir macam-macam atas apa yang dia lihat. Kami berdua melanjutkan perjalanan dengan santai menyusul istriku yang sudah jauh meninggalkan kami.

Malam itu aku lembur, sehingga pulang larut malam. Istriku tiba lebih dulu di rumah setelah pulang kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, dia menjemput anakku yang dititipkan di rumah orang tuanya yang tidak jauh dari rumah kami, sekitar limapuluh meter saja. Mereka hanya berdua di rumah sementara aku belum pulang. Setelah sholat isya, mereka menonton televisi dengan posisi berdampingan, menyandar ke lemari yang menghadap televisi. Tiba-tiba, anakku bereaksi, "Awas dong, jangan ngalangin, minggir," katanya sambil mengibaskan tangannya seolah-olah ada orang yang menghalanginya di depan televisi. Istriku hanya diam, diliputi rasa takut, namun apa boleh buat, mereka harus menungguku pulang karena aku pulang larut malam. Setibanya aku di rumah, mereka berdua sudah tertidur. Keesokan harinya, istriku menceritakan peristiwa tersebut, namun aku hanya tersenyum sambil berkata, "Gakpapa," mencoba untuk menenangkan hatinya.

Malam itu, hari sudah larut, jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Aku duduk bersila di lantai, terpaku di depan layar televisi sambil menjalani tugas kantor yang masih menumpuk. Adikku, yang masih terjaga, duduk di sampingku, tertarik oleh tayangan yang sama.

Saat suasana mulai hening, tiba-tiba terdengar suara mesin mainan anakku dari ember besar di dapur, di mana mainan anakku biasanya disimpan. Kami saling melemparkan pandangan penuh tanda tanya. "Tikus mungkin, Jak," ucapku kepada adikku, mencoba menenangkan dia sekaligus mengecek asal suara.

Kami berdua bangkit dari tempat duduk dan menuju dapur untuk menyelidiki. Aku menggenggam mainan bajaj yang sebelumnya tiba-tiba aktif, sementara adikku memperhatikan dengan cermat isi ember besar itu, mencari tanda-tanda keberadaan tikus. Khawatir tikus tidak dapat keluar dari ember yang terlalu tinggi, kami berusaha memastikan tidak ada hewan pengerat di sekitar.

Setelah memastikan situasi aman dan menutup lubang-lubang yang berpotensi sebagai jalur masuk tikus, kami kembali ke ruang keluarga dan duduk untuk melanjutkan aktivitas kami. Namun, tanpa disangka, mainan tadi kembali berbunyi meskipun sudah kuhentikan sebelumnya. Aku bingung, memperhatikan lingkungan sekeliling dan mencoba memahami kejadian yang aneh ini.

Tak ada yang bisa kuperhatikan, kecuali mainan yang sepertinya menghidupkan dirinya sendiri. Aneh, pikirku dalam hati, sambil mencoba menenangkan diri. Setelah mematikan mainan kembali, aku menaruhnya ke tempat semula dan berusaha fokus kembali pada pekerjaanku.

Adikku kemudian pamit untuk menginap di tempat rental PS, meninggalkanku sendirian menyelesaikan tugas-tugas yang masih menunggu. Meskipun ada kejadian aneh, aku memilih untuk tidak terlalu terpengaruh. Tanpa insiden lain yang mencolok, akhirnya aku menyelesaikan pekerjaanku dan beristirahat dengan tenang.

Kamis, 22 Februari 2024

Cerita Misteri : Pengalaman aneh di tahun 2019

 

Pada tahun 2019, saya mengalami serangkaian peristiwa yang membuat saya merasa bingung dan terganggu. Awalnya, hampir setiap malam saya mendengar suara orang yang tampaknya melompat dari atas tembok ke tempat di belakang samping rumah saya, yang biasanya saya gunakan untuk menjemur pakaian. Rumah kami berbentuk kotak dengan dua kamar tidur yang saling berdekatan secara linier, dengan pintu yang menghadap ke ruang tamu dan ruang keluarga tanpa sekat. Hal ini memungkinkan saya untuk melihat televisi dari ruang tamu yang terletak di balik dinding kamar mandi. Di samping kamar belakang adalah dapur, yang berdekatan dengan kamar mandi dan memiliki pintu keluar di samping rumah. Jendela kamar belakang menghadap ke samping rumah yang sudah ditutup dengan tembok.

Suara-suara ini membuat saya terganggu, terutama karena ketika saya mencoba untuk memeriksanya, tidak ada orang yang terlihat di sana. Meskipun demikian, suara langkah orang di atas atap yang sering terdengar saya abaikan.  Pada suatu waktu saya pernah meminta istri dan anak saya untuk mengintip lewat jendela kamar sementara saya dengan berbekal tongkat satpam meyergap dari pintu dapur.  Saya meminta mereka teriak untuk member tahu posisi maling jika memang ada dan saya tidak bisa melihatnya, karena kondisi yang kurang penerangan.  Dengan sigap saya menyeruak cepat dengan posisi siaga setelah membuka pintu.  Namun tidak ada apa-apa, tidak ada pergerakan atau apapun.  Saya mencoba memperhatikan sekeliling namun tidak menemukan tanda-tanda apapun atau keberadaan orang.  Setelah yakin aman maka saya kembali masuk dan menemukan istri dan anak-anak sedang duduk di sofa ruang televise.  “Heh, gimana tadi? Gak liat sesuatu?” tanyaku ke mereka dengan sedikit heran.  “boro-boro pah, orang tadi mama langsung kabur, jadi kita ikutan kabur kesini..” kata anakku yang besar.  “yah.. pantesan tadi sepi-sepi aja..” jawabku.   “Takut... nanti pas buka gorden tahu-tahunya ada wajah di jendela..” jawab istriku senyum-senyum.. jadi setelah kejadian itu aku mengabaikan jika mendengar suara-suara aneh di belakang atau di atap.

Hari itu sudah agak siang, sekita jam tujuh pagi.  Anak-anak dan istriku sudah berangkat ke sekolah dan kantor.  Aku mengambil handuk dan bersiap mandi, namun badanku rasanya agak aneh.  Tidak biasanya aku merasa kedinginan, padahal biasanya aku mandi jam tiga atau empat pagi dan tidak pernah kedinginan.  “Mungkin badan lagi drop..” kataku dalam hati.  Aku meneruskan mandiku dan... AArrhhh... aku mengerang kesakitan.  Kedua telapak tanganku terasa begitu sakit seperti di tusuk=tusuk jarum saat aku menyiram air ke tubuhku.  Aku coba abaikan dan meneruskan mandi, tapi sakitnya semakin terasa jadi aku memutuskan untuk menyelsaikan mandiku tanpa sabunan.

Hari berikutnya pun sama.  Sabtu dan minggu, setiap aku mandi aku berteriak menahan rasa sakit setiap kali mandi, sehingga istriku menanyakannya.  Aku juga tidak mengerti kenapa kedua telapak tanganku terasa sakit setiap kali mandi.  Tapi secara fisik aku merasa baik-baik saja.  Dan seninnya badanku demam dan jatuh sakit.  Yang kurasakan seperti sakit gejala typus yang pernah kualami dulu.  Jadi aku memutuskan untuk tidak ke dokter, tapi menitip ke istriku untuk membelikan obat untuk gejala typus.  Dan sakit itu berjalan selama dua minggu.  Namun di hari sabtu dan minggu badanku terasa enak dan sehat, nanti seninnya sakit lagi.  Di minggu kedualah aku merasa benar-benar sehat.

Namun pada seninya aku kembali sakit.  Kali ini perutku terasa sakit sekali sehingga aku tidak bangun dari tempat tidur.  Kali ini aku tidak tahu sakitnya apa karena aku belum pernah merasakan sakit seperti ini.  Aku pernah sakit maag, asam lambung dank ram usus.  Namun sakit kali ini beda dengan sakit-sakait sebelumnya itu.  Tapi aku tetap mengkonsumsi obat lambung dan menggunakan obat-obatan herbal juga untuk pengobatan.  Dan seperti biasa di hari sabtu sakitnya hilang, badanku sudah sehat kembali walau berat badanku mulai berkurang , karena selama aku sakit makanan sulit untuk masuk.  Sehingga aku minta di sediakan kurma untuk menjaga metabolisme agar tetap sehat walau hanya makan tiga butir setiap jam makan.  Di minggu kedua sakit lambung ini aku coba minum jamu kunyit untuk mengobati lambungku, tapi bukannya berkurang sakitnya malah semakin menjadi-jadi tidak ada jedanya.  Untungnya setelah dua minggu lambungku mulai enakkan tidak sakit lagi.  Dan itu terjadi di hari sabtunya.

Sabtu, minggu berlalu aku merasa sudah cukup sehat karena aku juga sudah bisa makan normal.  Perutku tidak lagi sakit dan mual, begitu juga saat aku makan.    Aku punya kebiasaan bangun di malam hari untuk buang air kecil.  Itu biasa terjadi antara jam satu sampai dengan jam tiga pagi.  Begitu juga senin itu.  Malam itu aku terbangun, kebetulan aku tidur sendirian di kamar depan, istriku tidur bersama dengan anak-anak di kamar belakang.  Saat aku bangun telapak kakiku terasa sakit sekali.  Setiap kali aku bangun berdiri, telapak dan punggung kaki kananku sakit sehingga aku terjatuh lagi karena tidak bisa menahan rasa sakitnya.  Karena sudah kebelet aku berusaha untuk bangun dengan sedikit mengerang untuk menambah tenaga.  Namun sia-sia bukannya berhasil malah suaraku membangunkan istriku dan menghampiriku.  “Kenapa pa?” Tanya istriku.  “ Gak tahu nih, kaki sakit banget..” kataku sambil memegang kaki kananku dan mengelus posisi yang sakit.  Istriku mengambil minyak gosok dan kakiku.  “arrgghh.. sakit.” Kataku.  “Cuma di oles koq, gak di teken..” kata istriku.    Iya, tapi sakit banget..” kataku.  Akhirnya aku sendiri yang mengoleskannya.  Dan dengan rasa sakit yang masih terasa aku merangkak ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Sebenarnya aku agak bingun dengan sakitku kali ini.  Karena rasanya sakit sekali, aku coba berfikir apa ini karena tidak mungkin asam urat karena pisisinya bukan di persendian. Dan selama ini juga aku belum pernah bermasalah dengan asam urat, kolesterol ataupun gula darah.  Sebelumnya aku rutin memeriksa darahku dan hasilnya selalu normal.  Kalaupun karena makanan rasanya aneh, karena sudah beberapa waktu makanku hanya kurma, baru dua hari ini aku bisa makan normal.  Walaupun agak bingung tapi aku anggap saja aku asam urat jadi aku kembali makan kurma dan minum air putih seperti sebelumnya.  Dan di hari sabtu sakitnya hilang, aku kembali beraktifitas normal.  Dan senin atau selasa sakitnya kembali datang.  Setelah sakit yang pertama selesai setelah beberapa waktu, aku lupa waktunya tapi setiap hari sabtu dan minggu sakitnya pasti hilang dan sembuh.

Berikutnya sakitnya berpindah-pindah, setelah di telapak dan punggung kaki kanan sembuh, berikutnya pindah di bawah pegelangan jempol kaki sebelah kiri.  Sakitnya sma seperti kecengklak.  Rasa sakitnya sama seperti waktu aku main bola tanpa sepatu dan jempolnya ketarik.  Aku mulai curiga dengan sakitku, karena ini tidak normal menurutku.  Selain sakitnya berpindah-pindah, aku juga tidak kemana-mana dan tidak ngapa-ngapain jadi tidak mungkin kakiku terkilir.  Kali ini aku biarkan saja sakitnya.  Kutahan rasa sakit sambil melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.  Dan benar saja setelah sakit di bawah pergelangan jempol kaki selesai pindah ke sebelahnya, di bawah pergelangan telunjuk kaki, setelah itu selesai pindah lagi sebelahnya.. begitu terus setelah sampi ke kelingking, berikutnya semua bagian itu sakit.  Kali aku coba mencerna apa yang terjadi.  Termasuk coba untuk merukyah diri sendiri setiap saat. 

Aku coba mencari tahu apakah aku pernah menyakiti seseorang akhir-akhir ini? Masalahnya aku jarang sekali keluar rumah dan berinteraksi dengan orang-orang setelah resign.  Waktuku lebih banyak kuhabiskan di rumah bersama keluarga.  Jadi aku tidak bisa menemukan apa yang bisa membuat orang ingin melakukan hal-hal seperti ini kepadaku.  Karena tidak mendapatkan jawaban jadi mengabaikannya tapi sakitnya terus berpindah hingga ke lutut kiriku.  Kali ini rasanya seperti dengkul kita baru saja menabrak mobil saat kita di bonceng motor.  Saya pernah merasakan itu ketika di bonceng teman sekitar belasan tahun yang lalu.  Tapi kali ini rasanya jauh lebih sakit yang membuat aku tidak bisa menggerakkan kakiku.  Jadi kaki kirikku tidak bisa di tekuk jika sudah lurus dan begitu juga sebaliknya.  Rasanya sakit sekali.

Karena sudah terlalu lama sakit yang ku derita, istriku berinisiatif untuk memanggil tukang urut yang kebetulan masih tetangga.  Awalnya aku menolak, tapi karena setelah istriku berangkat kerja ternyata tukang urutnya dating jadi mau tidak mau aku di urut.  Dan jadilah kedua kakiku di urut.  Malamnya setelah di urut kedua kakiku benar-benar sakit tidak karuan.  Bahkan kali ini aku benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan sakitnya benar-benar tanpa jeda.  Bukan nyut-nyutan sakitnya tapi terus menerus dan luar biasa. Selama beberapa hari aku merasakan sakit ini dan sudah tidak bisa bangun lagi sehingga untuk makan dan minum di taroh di samping tempat tidurku, dan begitu juga untuk buang air kecil.  Aku minta di sediakan botol mineral kosong ukuran satu liter.  Kadang-kadang aku memaksa ke kamar mandi dengan menggunakan skateboard anakku untuk ke kamar mandi.

Sakit ini berlangsung beberapa minggu, hingga rekan-rekan kerja istriku datang untuk menjengukku namun tidak ada perubahan sakitnya.  Sementara adikku beberapakali datang untuk menemaniku selagi aku sendiri di siang hari.  Hingga pada akhirnya keluarga istriku mengetahui kondisi sakitku dan memaksaku untuk berobat ke dokter.  Dengan di gotong aku di bawa ke klinik untuk di periksa.  Namun hasil pemeriksaan klinik menunjukkan kondisiku baik-baik saja.  Hasil laboratorium pemeriksaan darah menunjukkan kondisiku sehat dan normal.  Karena kondisiku yang parah tidak bisa jalan, bahkan tidak bisa berdiri kami meminta surat rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut.  Seharian saya di rumah sakit menunggu hasil lab yang lebih lengkap.  Sementara aku menunggu dengan infusan yang berisi obat pereda nyeri dan cairan.  Dan setelah menunggu seharian, di waktu maghrib hasil lab keluar, dan hasilnya...... Normal.... Sehat... tidak ada penyakit apapun.  Kolesterol, asam urat, gula darah dll entah apa itu karena terlalu banyak.. semuanya menunjukkan kondisi yang sehat.  Begitulah karena tidak ada penyakitnya maka akupun di pulangkan dengan di berikan obat pereda nyeri  selama ada obat pereda nyeri itu aku berusaha melatih kakiku untuk bisa berdiri dan berjalan.  Dan akhirnya berhasil  setelah obat pereda nyerinya habis aku sudah bisa berjalan lagi, walau masih sempoyongan dan tidak normal..  dan saat menonton berita di tv, ada berita tentang Corona yang melanda China.

Senin, 19 Februari 2024

Catatan untuk Pandji Pragiwaksono

 

Hasil pemilu 2024, sebagaimana pemilu-pemilu sebelumnya, terus menjadi sasaran permasalahan oleh pihak yang kalah, dengan isu-isu yang diangkat pun tetap konsisten. Namun, ada aspek menarik yang patut dibahas, yang banyak disoroti oleh elit kita, bahkan disampaikan oleh Pndji Pragiwaksono dalam podcastnya bersama Kemal Pahlevi, yaitu mengenai pengetahuan tentang orde baru dan pengangkatan Kaesang sebagai ketua umum PSI.

Pengetahuan mengenai orde baru tentunya berbeda bagi setiap individu, dan ini tercermin dalam berbagai pandangan yang beragam. Misalnya, masih terdapat jargon seperti "Enak jamaku toh.." yang menunjukkan variasi dalam sikap terhadap orde baru. Bagi sebagian masyarakat yang tidak aktif dalam politik pada masa orde baru, pemahaman mereka tentang situasi politik pada masa tersebut mungkin terbatas. Informasi yang mereka terima bisa berasal dari cerita orang tua atau bahan bacaan yang mereka temui, yang tentunya bisa sangat beragam tergantung sudut pandang penulisnya.

Perlu dicatat bahwa membandingkan kondisi hari ini dengan masa orde baru bisa menghasilkan perbedaan yang mencolok. Namun, kita juga perlu memahami bahwa politik dapat berubah dari waktu ke waktu, sementara aspek-aspek budaya dan sosial masyarakat seringkali tetap konsisten. Misalnya, budaya feudal masih sangat kental dalam masyarakat kita, bahkan di kalangan elit politik. Seringkali hal ini diabaikan oleh kalangan intelektual, sehingga terdapat kesenjangan antara teori politik Barat yang mereka pelajari dengan realitas politik kita yang masih sangat terpengaruh oleh budaya lokal.

Dalam sebuah podcast antara Kemal Pahlevi dan Pandji Pragiwaksono, Pandji mengemukakan pendapatnya bahwa pemilihan Kaesang sebagai ketua umum PSI tidak mencerminkan demokrasi. Pendapat ini menimbulkan pertanyaan, apakah ini sesuai dengan makna sebenarnya dari demokrasi. Secara teoritis, demokrasi mencakup prinsip-prinsip seperti kebebasan berpendapat, kesetaraan hak dan kewajiban, serta hak yang sama bagi setiap individu untuk memilih dan dipilih. Namun, apakah ketidakterpilihannya Kaesang sebagai contoh dari pelanggaran terhadap prinsip-prinsip demokrasi? Seharusnya kita menafsirkan bahwa pemilihan ini bukanlah soal demokrasi, melainkan kualitas dan kompetensi dalam lingkup politik. Pandangan yang diutarakan bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi, mengingat tidak menghargainya suara mayoritas anggota PSI yang memilih Kaesang sebagai ketua umum, terlepas dari alasan-alasannya. Di Indonesia, kejadian semacam ini mungkin tidaklah aneh karena kultur feudal yang masih kuat, baik dalam masyarakat umum maupun di dalam partai politik. Oleh karena itu, penting bagi pendidikan untuk menyampaikan informasi secara jujur dan utuh, daripada memanipulasi kata-kata untuk memaksakan kehendaknya.

Minggu, 18 Februari 2024

Memahami Kontroversi: Tinjauan Terhadap Tuduhan Kecurangan dan Pelanggaran Etik dalam Pemilu 2024 2

 

Setelah proses pemilihan berlangsung, data quick count menjadi sorotan utama, dengan pihak yang kalah dalam quick count mulai menyebarkan narasi untuk mendiskreditkan penyelenggaraan pemilu. Narasi tersebut, tidak berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, mencakup tuduhan kecurangan standar yang terkesan bodoh, seperti surat suara yang sudah tercoblos sebelum digunakan, serta ketidaksesuaian data real count KPU dengan formulir C1 yang diunggah ke sistem.

Pertama, terkait surat suara yang sudah tercoblos sebelum digunakan, jika ada upaya kecurangan semacam ini, dianggap bodoh karena KPU telah mengantisipasinya dengan pemeriksaan oleh KPPS serta disaksikan oleh saksi-saksi dan masyarakat. Kemungkinan lainnya adalah hal ini merupayakan upaya upaya untuk mendiskreditkan KPU sebagai penyelenggara pemilu.

Kedua, ketidaksesuaian antara formulir C1 dalam sistem KPU dengan rekapan dalam sistem tersebut, jika dianggap sebagai bukti kecurangan, terkesan aneh karena KPU memungkinkan akses terbuka ke formulir C1 untuk memungkinkan deteksi kesalahan. Namun, ini juga menjadi kritik terhadap KPU terkait pengembangan sistemnya, yang seharusnya diperbaiki dan disempurnakan. Dengan besarnya anggaran yang di gunakan sudah seharusnya hal-hal seperti ini tidak terjadi.  Harus ada peningkatan dalam penggunaan teknologi jika memang di rasa perlu gunakan tenaga-tenaga professional untuk membuat sistem yang baik dan mumpuni.

Ketiga, pernyataan elit politik bahwa quick count itu bohong menunjukkan ketidakpedulian terhadap rakyat. Hal ini juga mencerminkan upaya memanfaatkan kurangnya literasi dan pengetahuan masyarakat daripada memberikan pendidikan untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk membuat perkiraan berdasarkan sistem sampling.

Sementara, perlu dicatat bahwa kritik yang konstruktif dan upaya untuk memperbaiki sistem pemilihan serta meningkatkan literasi politik masyarakat merupakan langkah penting dalam memperkuat demokrasi dan kepercayaan publik terhadap institusi pemilu.

Jumat, 16 Februari 2024

Memahami Kontroversi: Tinjauan Terhadap Tuduhan Kecurangan dan Pelanggaran Etik dalam Pemilu 2024

 

Isu-isu yang berkembang terkait tuduhan kecurangan dalam Pemilu 2024 telah menjadi perhatian utama, mirip dengan tuduhan yang terjadi pada pemilu sebelumnya. Tuduhan kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan massif (TSM) kerap kali dihembuskan, seperti yang dilakukan oleh pihak Prabowo Subianto setelah kalah dalam pemilu 2014 dan 2019. Kali ini, isu-isu tersebut juga diusung oleh pihak yang kalah dalam pemilu, terutama dari PDIP dan PKS.

Isu-isu tersebut terus dikampanyekan secara massif oleh para elit, meliputi kontroversi seputar film dokumenter Dirty Vote, masalah kode etik terkait keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), distribusi bantuan sosial (Bansos), dan penggantian pejabat sementara di daerah-daerah yang kepala daerahnya telah berakhir masa baktinya dan posisi tersebut kosong sementara karena adanya pilkada serentak pada tahun 2024.

Salah satu isu yang dipertanyakan adalah pelanggaran etik oleh Mahkamah Konstitusi, yang dianggap sebagai bagian dari rencana besar untuk menjadikan Gibran Rakabumingraka sebagai Wakil Presiden. Berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK), terungkap bahwa beberapa hakim MK melakukan pelanggaran etik dalam sebuah Judicial Review (JC) yang diajukan oleh... mengenai... Hasil keputusan siding MKMK nomor 5/MKMK/L/11/2023 menyatakan bahwa beberapa hakim MK melakukan pelanggaran etik berat, termasuk Ketua MK Anwar Usman yang dipecat dari jabatannya. Namun, menurut keterangan dari Jimly Ashidiqie, anggota MKMK yang menyelidiki kasus ini dalam beberapa podcast, kode etik yang dilanggar bersifat administratif dan bukan politis. Tidak ada indikasi campur tangan Presiden Jokowi dalam masalah ini. Untuk informasi lebih lanjut, keputusan tersebut dapat diakses melalui situs web mkri.id.

Dengan melakukan kajian tanpa tendensi apapun terhadap setiap isu ini, diharapkan kita dapat memahami dengan lebih jelas dinamika politik yang terjadi dan mengambil sikap yang obyektif dan bertanggung jawab.

Jika isu ini bukan hanya alat untuk mendiskreditkan seseorang, maka kita akan menunggu tindakan dari para pihak untuk menggugat kembali keputusan MK ini melalui Judicial Review atau membuat undang-undang baru yang kembali membatasi usia calon presiden dan wakil presiden. Jika tidak, maka pada dasarnya Judicial Review ini mereka akui, dan mungkin akan menguntungkan banyak pihak di masa depan. Hanya saja, kebetulan saat ini Gibran yang mendapat keuntungan dari keputusan MK ini, dan kebetulan pula bahwa beliau adalah anak dari presiden yang berkuasa saat ini sehingga di jadikan bulan-bulanan untuk mendiskreditkan beliau.

Lanskap Politik Pasca Pemilu 2024: Analisis Prospek dan Dinamika Partai

 

Pemilu Presiden dan Legislatif tahun 2024 baru saja berakhir, dan dengan menghormati proses yang dilakukan oleh KPU, kita dapat mencoba menganalisis lanskap politik Indonesia untuk lima tahun ke depan. Berdasarkan hasil Quick Count dari beberapa lembaga survei, pasangan Capres nomor urut 02, yakni Prabowo Subianto - Gibran Rakabumingraka, berhasil memperoleh dukungan tertinggi dengan kisaran antara 55-59 persen suara. Sementara itu, pasangan Anies Baswedan - Muhaimin Iskanda mendapatkan dukungan suara antara 23-25 persen, dan pasangan Ganjar Pranowo - Mahfud MD mendapatkan kisaran suara sebesar 16-17 persen.

Hasil perhitungan Quick Count juga menunjukkan bahwa PDIP, Golkar, dan Gerindra memperoleh suara tertinggi, dengan PDIP menduduki posisi teratas diikuti oleh Golkar dan Gerindra. Namun, terdapat anomali karena meskipun Prabowo Subianto didukung oleh Gerindra, partai tersebut tidak berhasil menjadi pemenang dalam Pileg kali ini. Di sisi lain, PDIP yang mengusung Ganjar Pranowo, meskipun mengalami penurunan suara, masih mampu memenangkan pemilu, meskipun dengan suara yang menurun secara signifikan.

Melihat situasi ini, ada kemungkinan bahwa PDIP akan berada dalam posisi oposisi terhadap pemerintahan selanjutnya. Narasi yang disampaikan oleh elit PDIP mulai menunjukkan pola komunikasi yang mirip dengan periode 2004-2009, ketika partai tersebut menjadi oposisi terhadap pemerintahan SBY. Posisi ini selama sepuluh tahun terakhir diambil alih oleh PKS. Ini menarik karena PKS, yang mendukung Anies Baswedan, juga kalah dalam pemilu. Teknik komunikasi yang kembali digunakan oleh PDIP, sementara PKS masih menggunakan pendekatan yang sama selama sepuluh tahun terakhir.

Secara politik dan komunikasi politik, kedua partai ini menggunakan pola yang sama namun memiliki ideologi yang berbeda. PDIP dianggap sebagai partai kiri, sementara PKS diidentifikasi sebagai partai kanan. Meskipun demikian, dalam beberapa kesempatan, Prabowo Subianto berupaya untuk merangkul semua partai untuk bersama-sama dalam pemerintahan.

Dengan karakteristik ketua umum partai-partai yang ada saat ini, terlihat bahwa kemungkinan partai yang akan menjadi oposisi adalah PDIP, mengingat pola komunikasi dan narasi yang mereka tunjukkan, yang menyerupai periode oposisi pada tahun 2004-2009. Namun, untuk PKS masih menjadi pertanyaan karena masih belum jelas apakah mereka akan bersinergi dengan PDIP sebagai oposisi.

Sementara itu, partai-partai lain seperti PPP dan Nasdem kemungkinan besar akan bergabung dengan pemenang pemilu, mengingat dukungan dan peran yang mereka miliki selama kampanye. Hal ini menunjukkan bahwa lanskap politik pasca pemilu tidak hanya mencerminkan persaingan antarpartai, tetapi juga kerjasama dan strategi untuk mencapai tujuan politik masing-masing.

Minggu, 11 Februari 2024

Politik Dinasti dan Demokrasi di Indonesia

 Politik Dinasti di Indonesia selalu menjadi isu yang sering di henbuskan dalam ranah politik di negeri ini. Fenomena di mana anggota keluarga pejabat publik atau anggota partai sering kali mengikuti jejak orang tua atau kerabat dekat mereka dalam dunia politik telah menjadi topik hangat dalam diskusi politik. Hal ini seringkali menimbulkan perdebatan mengenai kemungkinan adanya pemberian hak istimewa atau kesempatan yang tidak adil bagi mereka yang memiliki hubungan keluarga dengan pejabat publik yang berkuasa.

Adanya kecenderungan politik dinasti tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga umum ditemui di banyak negara demokratis lainnya, termasuk Amerika Serikat. Contohnya, keluarga Kennedy, Clinton, dan Bush yang memiliki anggota keluarga yang aktif dalam dunia politik, baik di tingkat lokal maupun nasional. Namun, di negara-negara tersebut, penerimaan masyarakat terhadap fenomena ini cenderung berbeda. Beberapa melihatnya sebagai bentuk kesinambungan dalam pelayanan publik yang diwarisi dari keluarga, sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk nepotisme atau kesempatan yang tidak adil.

Di Indonesia, terutama saat ini, perdebatan tentang politik dinasti seringkali terfokus pada keluarga Presiden Jokowi. Meskipun banyak anggota keluarga Jokowi yang terlibat dalam politik, baik di tingkat lokal maupun nasional, penting untuk dicatat bahwa mereka juga harus melewati proses yang sama dengan kandidat lain dalam mendapatkan posisi politik mereka. Namun demikian, keberadaan orang tua yang berada dalam posisi berpengaruh tentu memberikan pengaruh dan akses yang lebih besar dalam dunia politik.

Selain itu, perlunya mempertanyakan sistem politik yang ada menjadi hal yang sangat penting. Sistem politik yang transparan, akuntabel, dan merata dalam memberikan kesempatan bagi semua warga negara adalah kunci untuk mengatasi masalah politik dinasti. Pendidikan politik yang baik juga perlu ditingkatkan agar masyarakat dapat memahami pentingnya memilih pemimpin berdasarkan kualifikasi dan visi, bukan hanya karena hubungan keluarga atau kekuatan politik tertentu.

Integritas dan independensi lembaga-lembaga pengawas, seperti lembaga legislatif, juga harus diperkuat untuk memastikan bahwa tidak ada penyalahgunaan kekuasaan atau fasilitas negara yang terjadi dalam proses politik. Konflik kepentingan dan praktik-praktik korupsi harus ditekan dengan keras agar proses politik berjalan secara adil dan demokratis.

Mengakhiri praktik politik dinasti bukanlah tugas yang mudah, tetapi dengan komitmen untuk memperbaiki sistem politik yang ada, serta meningkatkan kesadaran politik masyarakat, kita dapat menuju ke arah yang lebih baik dalam memperkuat demokrasi dan keadilan politik di Indonesia.

Jumat, 09 Februari 2024

IKN, untuk kepentingan siapa?

 Pembangunan Ibukota Nusantara (IKN) dan rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur merupakan inisiatif besar yang telah menimbulkan berbagai kritik. Namun, beberapa kritik yang sering dilontarkan ternyata didasari oleh mispersepsi yang perlu diperjelas. Mari kita telaah lebih dalam.

1. Pembangunan IKN Hanya untuk Kepentingan Aparat, Bukan untuk Pemerataan Pembangunan dan Ekonomi

Faktanya, pembangunan IKN adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong pemerataan pembangunan dan ekonomi di seluruh Indonesia. Dengan memindahkan aparat pemerintahan pusat ke IKN, maka  aktivitas ekonomi di sana akan meningkat secara signifikan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa kehadiran aparat pemerintahan pusat dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan demikian, pembangunan IKN bukan hanya untuk kepentingan aparat, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di daerah-daerah di luar Jawa, utamanya di wilayah timur Indonesia.

2. Pemindahan Ibu Kota Hanya untuk Menghindari Masalah yang Ada di Jakarta Saat Ini

Salah kaprah untuk menganggap bahwa pemindahan ibu kota adalah upaya untuk menghindari masalah di Jakarta. Sebaliknya, ini adalah langkah strategis untuk mengatasi masalah-masalah yang telah lama menghantui ibu kota, seperti kemacetan, banjir, dan overcapacity.

Sebagai tambahan, pemindahan ibu kota tidak akan mengurangi tanggung jawab Gubernur Jakarta dalam menangani masalah di ibu kota. Sebaliknya, ini akan memungkinkan pemerintah pusat dan daerah untuk bekerja sama dalam menangani masalah infrastruktur dan lingkungan yang kompleks di Jakarta. 

Pemindahan ibu kota bukan hanya tentang mengurangi beban Jakarta, tetapi juga tentang memperkuat daerah-daerah lain di Indonesia. Dengan mengalihkan pusat administrasi negara ke Kalimantan Timur, ini akan membantu mengurangi ketimpangan antara Jakarta dan daerah-daerah lainnya.

Sebagai tambahan, ini akan mengurangi ketergantungan Jakarta pada pemerintah pusat, sehingga tidak akan ada kesenjangan perlakuan dari pemerintah pusat terhadap Jakarta dibandingkan dengan daerah lainnya.

Penutup: Meluruskan Persepsi

Melalui penjelasan ini, diharapkan masyarakat dapat melihat bahwa kritik terhadap rencana pembangunan IKN dan pemindahan ibu kota seringkali didasari oleh pemahaman yang kurang tepat. Pembangunan ini bukan hanya tentang kepentingan aparat atau untuk menghindari masalah, tetapi merupakan langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan memperkuat seluruh Indonesia.

Rabu, 07 Februari 2024

KULTUR FEODAL DI INDONESIA

 

Definisi dan makna feodalisme dapat bervariasi tergantung pada konteks sejarah, sosial, dan politiknya. Secara umum, feodalisme merujuk pada sistem sosial, politik, dan ekonomi yang berkembang di Eropa Barat pada Abad Pertengahan (sekitar abad ke-9 hingga ke-15), meskipun konsep ini juga dapat diterapkan pada beberapa masyarakat di luar Eropa. Berikut adalah makna dan definisi feodalisme yang umum:

 

Definisi Feodalisme:

·         Sistem Hierarki:

Feodalisme adalah sistem hierarki di mana kekuasaan dan sumber daya terpusat di tangan seorang penguasa atau kelompok kecil elite. Kepemilikan tanah adalah salah satu faktor utama dalam menentukan struktur kekuasaan dan status sosial.

 

·         Hubungan Feodal:

Feodalisme melibatkan hubungan feodal antara penguasa (biasanya seorang bangsawan atau raja) dan vassal (biasanya seorang bangsawan kecil atau ksatria). Penguasa memberikan tanah dan perlindungan kepada vassal dalam pertukaran atas pengabdiannya dan setia.

 

·         Pertukaran Loyalitas:

Salah satu karakteristik utama feodalisme adalah sistem pertukaran loyalitas. Penguasa memberikan perlindungan dan tanah kepada vassal, dan vassal mengabdi kepada penguasa, memberikan loyalitas, dan memberikan bantuan militer atau jasa lainnya sesuai kebutuhan.

 

·         Ketergantungan Sosial:

Feodalisme menciptakan ketergantungan sosial yang kompleks antara penguasa dan vassal, serta antara vassal dan petani atau pekerja lainnya. Kekuasaan dan otoritas berpusat di tangan elit, sementara masyarakat biasa mengalami keterbatasan dalam mobilitas sosial dan hak-hak politik.

 

Makna Feodalisme:

·         Sistem Sosial dan Ekonomi:

Feodalisme adalah sistem sosial dan ekonomi yang melibatkan hubungan hierarkis yang kuat antara penguasa dan subjeknya, dengan tanah sebagai basis utama kekuasaan dan pertukaran ekonomi.

 

·         Ketergantungan dan Perlindungan:

Feodalisme menciptakan hubungan ketergantungan dan perlindungan di antara kelas-kelas sosial yang berbeda, dengan penguasa memberikan perlindungan dan tanah kepada vassal dalam pertukaran atas jasa dan loyalitas mereka.

 

·         Warisan Sejarah:

Feodalisme adalah bagian integral dari sejarah Eropa pada Abad Pertengahan dan merupakan landasan bagi struktur sosial, politik, dan ekonomi di masa tersebut. Meskipun tidak lagi ada dalam bentuk aslinya, warisan feodalisme masih dapat ditemukan dalam beberapa aspek masyarakat modern.

 

Dengan demikian, feodalisme merupakan sistem yang kompleks dengan implikasi yang luas dalam pembentukan struktur sosial dan politik di masa lalu, meskipun keberadaannya tidak lagi signifikan dalam masyarakat modern.

 

Kultur Feodal di Masyarakat saat ini

 

Memahami bahwa Indonesia memiliki karakteristik feodal yang masih tercermin dalam struktur masyarakat saat ini adalah penting dalam menggali dinamika sosial dan politik negara tersebut. Berikut adalah beberapa karakteristik masyarakat Indonesia yang masih mencerminkan unsur-unsur feodalisme:

 

1. Struktur Sosial Hierarkis:

Indonesia masih memiliki struktur sosial yang relatif hierarkis, di mana kedudukan dan status seseorang sering kali ditentukan oleh faktor-faktor seperti kekayaan, keturunan, dan kedudukan sosial keluarga. Kelompok elite, termasuk politisi, bisnis, dan keluarga bangsawan, cenderung memiliki akses yang lebih besar terhadap sumber daya dan kekuasaan.

 

2. Ketergantungan pada Kepemimpinan Otoriter:

Ketergantungan pada pemimpin yang otoriter atau berkuasa masih cukup kuat dalam masyarakat Indonesia. Budaya patron-client, di mana individu atau kelompok bergantung pada figur otoriter untuk perlindungan atau keberhasilan, adalah contoh klasik dari sisa-sisa feodalisme.

 

3. Kebijakan Nepotisme dan Klientelisme:

Praktik nepotisme, di mana posisi atau kesempatan didapatkan melalui hubungan keluarga atau personal, dan klientelisme, di mana pengaruh politik didapatkan melalui jaringan pribadi atau patron, masih umum terjadi di Indonesia. Hal ini mencerminkan hubungan feodal antara penguasa dan vassal, di mana loyalitas dan perlindungan diberikan dalam pertukaran atas keuntungan pribadi.

 

4. Pembagian Sosial yang Ketat:

Terdapat pembagian yang ketat antara kelas sosial di Indonesia, dengan kesenjangan ekonomi dan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja yang besar antara yang kaya dan yang miskin. Hal ini mencerminkan struktur sosial feodal di mana kekayaan dan kekuasaan terpusat pada segelintir elite.

 

5. Pemertahanan Tradisi dan Adat Istiadat:

Masyarakat Indonesia seringkali masih menghormati tradisi dan adat istiadat secara mendalam, yang mencerminkan warisan feodalisme di mana norma-norma sosial dan budaya dihormati dan dijunjung tinggi.

 

6. Ketidaksetaraan Gender:

Ketidaksetaraan gender masih menjadi masalah serius di Indonesia, dengan wanita seringkali mengalami diskriminasi dalam hal akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan keputusan politik. Ini sejalan dengan pola feodalisme di mana posisi wanita sering kali lebih rendah dari pada pria dalam hierarki sosial.

 

Dengan memahami karakteristik ini, kita dapat melihat bagaimana sisa-sisa feodalisme masih terkandung dalam struktur dan pola perilaku masyarakat Indonesia saat ini. Upaya untuk mengatasi masalah ini melibatkan transformasi sosial, politik, dan budaya yang berkelanjutan untuk mencapai kesetaraan, keadilan, dan kesejahteraan yang lebih besar bagi semua warga negara.

 

Feodalisme dalam partai politik

 

Kultur feodal yang masih terdapat dalam partai politik Indonesia merupakan fenomena yang menarik dan sering kali menjadi contoh nyata bagaimana sisa-sisa feodalisme dapat bertahan dalam institusi yang seharusnya mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana kultur feodal masih tercermin dalam partai politik di Indonesia:

 

1. Pemilihan Kepemimpinan Berdasarkan Keturunan atau Trah Tertentu:

Dalam beberapa partai politik di Indonesia, proses pemilihan ketua partai atau tokoh penting lainnya masih seringkali berdasarkan pada faktor keturunan atau garis keturunan tertentu. Hal ini mencerminkan praktik feodalisme di mana kekuasaan dan otoritas diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga atau golongan tertentu.

 

2. Ketergantungan pada Pemimpin Otoriter:

Banyak partai politik masih memiliki struktur kepemimpinan yang sangat otoriter, di mana keputusan dan arahan diberikan oleh satu atau beberapa tokoh penting, sementara anggota partai lainnya cenderung tunduk pada otoritas mereka. Hal ini mencerminkan ketergantungan pada pemimpin yang merupakan ciri khas feodalisme.

 

3. Praktik Nepotisme dan Klientelisme:

Dalam proses rekrutmen kader atau penunjukan posisi penting dalam partai politik, seringkali terjadi praktik nepotisme dan klientelisme di mana kepentingan pribadi atau keluarga menjadi prioritas, daripada kualifikasi atau kinerja yang seharusnya menjadi pertimbangan utama. Hal ini mirip dengan hubungan feodal antara penguasa dan vassal di mana perlindungan dan keuntungan diberikan dalam pertukaran atas kesetiaan dan jasa.

 

4. Pembatasan Akses dan Mobilitas Politik:

Beberapa partai politik juga menerapkan pembatasan akses atau mobilitas politik bagi individu yang tidak memiliki hubungan atau afiliasi dengan kelompok tertentu. Hal ini menciptakan hambatan bagi partisipasi politik yang inklusif dan adil, yang seharusnya menjadi prinsip utama dalam sistem demokrasi.

 

5. Pembentukan Aliansi Berdasarkan Keturunan atau Afinitas Lainnya:

Dalam proses pembentukan koalisi atau aliansi politik, seringkali faktor-faktor keturunan atau afinitas pribadi lebih dipertimbangkan daripada agenda politik atau ideologi. Hal ini mencerminkan prinsip feodalisme di mana hubungan personal atau keluarga diutamakan di atas kepentingan umum.

 

Dengan menyadari adanya kultur feodal dalam partai politik, penting bagi masyarakat untuk mendorong transparansi, akuntabilitas, dan reformasi internal dalam partai politik untuk memastikan bahwa mereka sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang seharusnya mereka wakili.