Suatu hari, Petruk, Gareng, Bagong, dan Semar
sedang duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi.
Petruk : (sambil menyeduh kopi) Eh, tahu nggak,
hari ini saya membaca bahwa jika seseorang suka minum kopi, maka dia pasti
orang yang cerdas dan berkarakter kuat!
Gareng: Wah, bener nggak tuh, Petruk?
Petruk: Tentu saja! Lihat saja, kita semua suka
minum kopi, kan? Itu artinya kita semua orang yang cerdas dan berkarakter kuat!
Semar: (sambil tersenyum) Maaf, nak, tapi itu
adalah contoh dari logical fallacy yang disebut sebagai generalisasi.
Bagong: Generalisasi? Apa itu, Bapak?
Semar: Generalisasi adalah kesalahan berpikir
di mana seseorang membuat kesimpulan umum tentang sebuah kelompok berdasarkan
pada informasi yang tidak memadai atau hanya berdasarkan pada sedikit data.
Gareng: Oh, jadi nggak semua orang yang suka
minum kopi otomatis cerdas dan berkarakter kuat?
Semar: Betul, Gareng. Ada banyak faktor lain
yang mempengaruhi kepintaran dan karakter seseorang, bukan hanya dari minuman
yang mereka konsumsi.
Petruk: (sambil menggelengkan kepala) Waduh,
saya salah lagi. Tapi tetap saja, minum kopi itu enak!
Bagong: Iya, Bapak. Lagian, kalau minum kopi
bikin pintar, aku mau minum kopi terus biar jadi jenius!
Semar: (tersenyum) Baiklah, tetapi ingat,
cerdas dan berkarakter tidak hanya ditentukan oleh minuman yang kita minum.
Yang penting adalah bagaimana kita menggunakan pikiran dan sikap kita dalam
kehidupan sehari-hari.
Dalam cerita ini, tokoh-tokoh menggunakan
generalisasi (logical fallacy) untuk menyimpulkan bahwa mereka semua cerdas dan
berkarakter kuat hanya karena suka minum kopi, padahal hal tersebut tidak bisa
dipastikan secara logis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar