Asal Goblek Negeri Tumaritis
ngalor-ngidul ngomong ngawur
Rabu, 09 Oktober 2024
CATATAN ASING TENTANG NUSANTARA
CATATAN TIONGKOK MENGENAI NUSANTARA
Senin, 07 Oktober 2024
Galuh Candrakirana dalam Cerita Panji:
Kamis, 19 September 2024
Legenda Sangkuriang dan Ilmu Geologi tanah Pasundan
Legenda Sangkuriang dan Kaitan Geologi dengan Gunung Sunda Purba serta Danau Bandung
Legenda Sangkuriang: Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu
Legenda Sangkuriang merupakan salah satu kisah rakyat yang sangat terkenal di tanah Sunda, khususnya di Jawa Barat. Cerita ini mengisahkan seorang pemuda bernama Sangkuriang yang jatuh cinta kepada ibunya sendiri, Dayang Sumbi, tanpa mengetahui identitasnya. Setelah mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya, Dayang Sumbi berusaha menghindari pernikahan tersebut dengan memberikan syarat yang hampir mustahil: Sangkuriang harus membuat sebuah danau dan perahu dalam satu malam. Sangkuriang dengan kekuatan gaib hampir berhasil, namun Dayang Sumbi menggagalkan usaha tersebut dengan menipu waktu subuh. Marah karena gagal, Sangkuriang menendang perahu yang telah dibuatnya, yang kemudian terbalik dan menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Kisah ini telah diceritakan turun-temurun, menjadi bagian dari kekayaan budaya Sunda. Namun, ada hal menarik yang dapat dihubungkan antara legenda tersebut dengan kenyataan geologis yang ditemukan oleh para ahli tentang terbentuknya wilayah Bandung.
Fakta Geologi: Gunung Sunda Purba dan Danau Bandung Purba
Secara geologis, daerah Bandung merupakan bagian dari kaldera gunung raksasa yang dikenal sebagai Gunung Sunda Purba. Ribuan tahun lalu, Gunung Sunda merupakan salah satu gunung berapi terbesar di wilayah Jawa Barat, yang mencapai ketinggian hingga ribuan meter. Namun, sekitar 55.000 tahun lalu, Gunung Sunda mengalami letusan dahsyat yang mengakibatkan puncaknya runtuh, menciptakan kaldera besar.
Setelah letusan tersebut, kaldera yang terbentuk diisi oleh air dan menciptakan Danau Bandung Purba. Danau ini membentang sangat luas, mencakup hampir seluruh cekungan Bandung yang kita kenal sekarang. Seiring waktu, aliran air yang membentuk danau ini kemudian mengering akibat erosi dan proses geologi lainnya, sehingga cekungan Bandung berubah menjadi daratan.
Gunung Tangkuban Perahu, yang hari ini berdiri megah, sebenarnya merupakan salah satu bagian yang tersisa dari Gunung Sunda Purba. Setelah letusan besar yang menghancurkan Gunung Sunda, gunung-gunung baru mulai terbentuk, termasuk Tangkuban Perahu, yang dikenal sebagai "anak" dari gunung purba tersebut. Bentuknya yang menyerupai perahu terbalik semakin memperkuat kaitannya dengan legenda Sangkuriang.
Keterkaitan Legenda dengan Fakta Geologi
Pertanyaannya sekarang, apakah mungkin orang-orang zaman dahulu menyadari informasi geologi tentang Gunung Sunda Purba dan Danau Bandung, dan kemudian mengemasnya dalam bentuk legenda seperti kisah Sangkuriang?
Dalam berbagai kebudayaan di dunia, seringkali mitos dan legenda memiliki akar yang kuat pada peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di masa lalu. Orang-orang zaman dahulu, meskipun tidak memiliki teknologi atau ilmu pengetahuan seperti sekarang, mengamati fenomena alam dengan seksama. Mereka mungkin tidak memahami detail teknis seperti proses vulkanologi atau geologi, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk merasakan dan mengabadikan fenomena tersebut melalui cerita.
Kisah tentang Sangkuriang, dengan unsur-unsur seperti gunung yang terbentuk dari perahu yang terbalik, secara tidak langsung mungkin menggambarkan proses terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu dari sisa-sisa Gunung Sunda Purba. Sangkuriang yang membangun danau juga bisa mencerminkan keberadaan Danau Bandung Purba di masa lalu. Walaupun cerita ini penuh dengan unsur magis, elemen-elemen utamanya mungkin terinspirasi oleh realitas geologi yang dialami oleh masyarakat saat itu.
Hal serupa terjadi di banyak tempat lain di dunia. Mitos tentang banjir besar, misalnya, sering ditemukan di berbagai budaya dan seringkali merujuk pada kejadian nyata, seperti banjir akibat letusan gunung atau perubahan iklim. Legenda-legenda semacam ini menjadi cara bagi masyarakat untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa besar yang mereka alami, dan kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.
Apakah Masyarakat Dulu Mengetahui Geologi?
Masyarakat kuno tidak memiliki akses ke ilmu geologi modern, tetapi mereka sangat dekat dengan alam. Pengamatan mereka terhadap siklus gunung berapi, banjir, gempa bumi, dan fenomena alam lainnya sering kali ditransformasikan menjadi mitos dan legenda. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa legenda Sangkuriang mencerminkan pengalaman nyata masyarakat Sunda kuno terhadap perubahan geologis yang terjadi di sekitar mereka.
Secara sadar atau tidak, legenda Sangkuriang membawa memori kolektif masyarakat Sunda tentang letusan dahsyat Gunung Sunda Purba dan terbentuknya Danau Bandung. Dengan demikian, meski dalam bentuk simbolik dan penuh elemen fantastis, cerita ini menjadi salah satu cara mereka memahami fenomena geologi besar yang membentuk wilayah tempat mereka tinggal.
Kesimpulan
Legenda Sangkuriang bukan hanya kisah rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi mungkin juga merupakan refleksi dari peristiwa geologi besar yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Masyarakat Sunda kuno, meskipun tidak memiliki pengetahuan ilmiah seperti sekarang, memiliki cara tersendiri untuk menceritakan fenomena alam yang terjadi di sekitar mereka. Melalui mitos, mereka mengabadikan proses terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu dan Danau Bandung Purba, yang hari ini diakui oleh ilmu geologi modern.
Kamis, 12 September 2024
Politisasi Intelektual Rendah: Strategi Politisi yang Memanfaatkan Psikologi Masyarakat
Dalam konteks politik, pemahaman akan psikologi
massa menjadi penting, terutama ketika politisi memanfaatkannya untuk
kepentingan mereka sendiri. Tulisan ini akan mengeksplorasi fenomena psikologis
di balik pola perilaku politisi yang memanfaatkan intelektual rendah
masyarakat, alih-alih mencerdaskan atau memberikan pendidikan politik yang baik.
1. Pengertian Psikologi Masyarakat dan
Intelektual Rendah:
Penjelasan tentang psikologi masyarakat dan
bagaimana tingkat intelektual seseorang memengaruhi pemahaman politik dan
partisipasi dalam proses politik.
Dampak dari intelektual rendah pada pola
perilaku dan keputusan politik.
2. Politisasi Intelektual Rendah:
Analisis tentang bagaimana politisi menggunakan
strategi untuk memanfaatkan intelektual rendah masyarakat demi keuntungan
politik pribadi.
Contoh-contoh konkrit dari praktik politisasi intelektual
rendah, seperti penyebaran informasi palsu, retorika yang menipu, dan
manipulasi emosi massa.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Politik Masyarakat:
Peran media massa dan teknologi dalam membentuk
opini dan sikap politik masyarakat.
Pengaruh lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi
terhadap persepsi politik dan partisipasi dalam proses politik.
4. Dampak Negatif Politisasi Intelektual
Rendah:
Konsekuensi dari politisasi intelektual rendah,
termasuk penurunan kualitas demokrasi, polarisasi politik, dan kerentanan
terhadap manipulasi politik.
Penyimpangan dari tujuan utama politik, yakni
melayani kepentingan publik dan memajukan kesejahteraan masyarakat.
5. Mengatasi Politisasi Intelektual Rendah:
Pendidikan politik yang inklusif dan terjangkau
untuk meningkatkan literasi politik masyarakat.
Pentingnya kritisisme dan skeptisisme dalam
menyikapi informasi politik yang diterima.
Peran aktivis masyarakat dan LSM dalam memantau
dan menentang praktik politik yang merugikan.
Kesimpulan: Mengakhiri tulisan dengan
menegaskan pentingnya kesadaran akan politisasi intelektual rendah dan perlunya
tindakan untuk melawan praktik-praktik manipulatif yang merugikan. Politisi dan
masyarakat sama-sama memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa politik berjalan
di jalur yang benar dan berpihak pada kepentingan publik, bukan kepentingan
pribadi belaka.
Minggu, 03 Maret 2024
Kebangkitan Nusantara
Sore itu udara cerah dan segar, angin semilir
membelai wajah membawa ketenangan. Mbah
Semar sedang asyik duduk di Pendopo di temani Petruk. Kopi dan gorengan menjadi teman yang nikmat
untuk menikmati hari.
Petruk : Romo, wis lama ini Nusantara menjadi
terbelakang dan kesuliatan bersaing dengan Negara-negara lain. Padahal dahulu kala Nusantara menjadi besar
dengan kerajaan-kerajaan super powernya.
Itu juga yang membuat Tumaritis gabung ke Nusantara.
Semar : Hehe yo opo toh... bangsa ini sudah terlalu
lama di didik untuk jadi pecundang oleh para pendatang yang ingin mengambil kekayaan
wilayah ini.
Petruk : Tapi Romo, katanya ada ramalan yang bilang
kalo Nusantara akan bangkit dan menjadi besar lagi.
Semar : Hehehe.. opo toh.. ramalan itu hanya bisa
terlaksana kalau penduduknya mau kembali ke masa keemasan Nusantara.
Petruk : Seperti apa itu Romo?
Semar : Setiap kejayaan suatu bangsa itu selalu di
sertai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di negeri itu. Rakyatnya berlomba-lomba untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan. Dan setiap jaman itu
selalu berbeda kebutuhannya untuk menjadikan suatu bangsa besar. Missal, dahulu kala siapa yang bisa
menaklukkan lautan maka dia akan menjadi Negara yang super power. Berikutnya ada jaman di mana teknologi mulai
di temukan dan Negara-negara yang menguasai teknologi dan mengatasi masalah
yang timbul karenanya akan menjadi Negara super. Seperti yang terjadi pada saat revolusi industry
awal terjadi. Dan sekarang eranya
teknologi informasi dan digital maka siapa yang bisa menguasainya dialah yang
akan Berjaya.
Petruk : Nah, sekarang negeri ini pengguna interntenya
dan teknologi informasinya termasuk yang terbesar di dunia, berarti kita akan
menjadi Negara besar?
Semar : Hehe.. yang membuat negeri ini jadi besar
bukan hanya karena penggunanya yang besar, tapi juga inovasi dan penciptaan
teknologi. Kalau Cuma menggunakan malah
jadi konsumen saja, mereka yang menguasai teknologi yang akan mendapat
keuntungan dan menguasai para pengguna.
Petruk : Nah berarti kita juga harus bisa membuat
teknologi seperti Facebook, Handphone dan lain-lain?
Semar : Kalau kita mulai lagi dari awal membangun
teknologi maka kita akan ketinggalan. Barang
kita tidak akan bisa bersaing, kalau mau bersaing bukan lagi mulai dari awal
dalam pengembangan teknologi, tapi justru mengembangkan teknologi yang lebih
maju lagi dari yang ada sekarang, sehingga kita bisa menjadi pioneer dalam
teknologi maupun industry. Masyarakat juga
harus mulai meningkatkan kualitas dan kapabilitas pengetahuan dan keahliannya
agar bisa bersaing dengan robot dan AI yang saat ini lebih murah dan efesien
dalam proses industry.
Petruk : Opo bisa room? Masyarakat kita masih manja
dan malas. Keahlian pas-pasan tapi
maunya di berikan pekerjaan dan fasilitas sementara dari luar
sumberdayamanusianya sudah jauh lebih terlatih dan ahli sehingga sulit untuk
bersaing dengan mereka.
Semar : Yo.. bisa ae... tinggal mau atau
tidaknya. Pemimpin-pemimpinnya mau ndak
mengembangkan sumberdaya yang ada, dan rakyatnya mau ndak belajar dan menjadi
lebih bersaing untuk menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas. Kalau ndak ya.. wassalam.
Petruk hanya manggut-manggut sambil menyeruput
kopinya. Sementara mbah Semar memandang kea
rah pegunungan yang asri dan mulai penuh dengan manusia.
Tradisi Politik di negeri Tumaritis
Yuk, kita lupain aja dulu tentang teori-teori
ilmu politik yang ada dalam berbagai literasi ilmu politik. Kita membaca realitas politik yang ada di
Tumaritis. Bagaimana cara bekerja dan
pengaruhnya terhadap masyarakat, baik secara intelektualitas maupun mentalitas
yang pasti bukan kualitas ataupun yang kapasitas terbatas... hehe.
Yuk..bisa yuk.. anak muda membaca dan
mengaktualisasikan dirinya ke dunia politik.
Politik santuy dan happy... tanpa Salma.. tapi kalau dia mau saya juga mau sih..:P dengan lolosnya saudara Komeng ke DPD, eh
saudaranya apa Komengnya ya?? :D ini
menunjukkan juga kalo politik santuy dan happy mulai bisa di terima
masyarakat. Mungkin udah bosen dengan omon-omon
yang pada akhirnya bukan mencerdaskan malah mengkerdilkan rakyat.
Pada dasarnya politik di negeri ini adalah
bagaimana menguasai persepsi public. Jika
bisa menguasai mayoriatas persepsi public walaupun itu adalah persepsi yang
salah ata upun bahkan cenderung menyesatkan taka pa yang penting mereka bisa di
arahkan seperti kerbau yang di cucuk hidungnya.
Makanya upaya untuk mencerdaskan rakyat itu Cuma slogan dan buaian agar
mereka bisa manfaatkan dengan kata “atas
nama rakyat “ atau “rakyat sudah cerdas”.
Tapi di lain waktu mereka akan mengatakan “rakyat masih bodoh” atau “pengetahuan
yang kurang”. :D
Memanfaatkan minimnya literasi rakyat,
kemampuan rasional mayoritas rakyat justru semakin di dorong dengan
pendoktrinan dan penggiringan opini yang memanfaatkan emosional rakyat. Seperti memanfaatkan rakyat marjinal, SARA
dll. Begitu juga dengan budaya dan
karakter masyarakat yang masih feudal di manfaatkan dengan baik. Kisah Petruk jadi raja selalu jadi bahan
untuk mendeligitimasi orang-orang yang memiliki kapasitas untuk menjadi
pemimpin tapi tidak memiliki trah atau darah bangsawan. Baik itu bangsawan tradisional maupun
bangsawan politik modern.
Itulah mengapa teori konspirasi, cocoklogi
menjadi isu-isu yang selalu di angkat dan di kedepankan dalam berbagai diskusi
di ruang public, termasuk dalam media massa mainstream seperti televise nasional. Bahkan dalam beberapa acara diskusi di televise
terlihat sekali pembawa acaranya mengarahkan pembicaraan ke persepsi yang di
inginkan. Indepedensi media jadi tidak
mendapat kepercayaan dari masyarakat hingga akhirnya dengan perkembangan
tekhnologi saat ini banyak pihak-pihak yang membuat tayangan tandingan yang
dapat di jadikan referensi alternative yang lebih netral oleh masyarakat.
Contoh peggiringan persepsi yang bisa di lihat
adalah ketika seorang tokoh yang bernama Ricky Gareng mengatakan bahwa Joko
Wibowo tidak bermoral karena tidak mendukung Capres yang di usung partainya
sebagai bentuk tidak bermoral. Sementara
untuk tokoh lain yang dulunya di angkat, di tolong dengan fasilitas dan materi
hingga di kenal luas, tapi pada akhrinya malah berbalik melawan bahkan menusuk
orang yang menolong dan mengangkatnya malah di sanjung dan di jadikan contoh
orang yang memiliki etika yang baik. Dari
sini aja kita bisa melihat bahwa apa yang di katakana Ricky Gareng ini sebagai
contoh orang yang tidak memiliki etika dan moralitas rendah. Tapi apalah-apalah.. karena feodalisme masih
begitu kuat maka ketokohannya menjadikan apa yang keluar dari mulutnya di
anggap benar sekalipun itu sampah.