Rabu, 09 Oktober 2024

CATATAN ASING TENTANG NUSANTARA

Selain dari Tiongkok, catatan mengenai Nusantara juga ditemukan dalam berbagai sumber dari wilayah lain di Asia. Catatan ini berasal dari prasasti maupun literatur yang ditulis oleh pelancong, pedagang, dan utusan dari berbagai negara, terutama India, Timur Tengah, dan wilayah Asia lainnya. Berikut adalah beberapa catatan penting dari wilayah-wilayah lain di Asia yang menyebutkan atau memberikan gambaran mengenai Nusantara:

1. Catatan India - Prasasti Nalanda (860 M)

Prasasti Nalanda adalah sebuah prasasti yang ditemukan di India dan menyebutkan raja dari kerajaan di Nusantara. Prasasti ini ditulis pada masa Raja Balaputradewa dari Kerajaan Srivijaya. Dalam prasasti tersebut, Balaputradewa disebut sebagai donatur besar yang mendirikan sebuah biara (vihara) di Nalanda, India, yang merupakan pusat pembelajaran Buddha terkemuka pada masa itu.

Prasasti Nalanda ini menegaskan adanya hubungan erat antara Srivijaya dan pusat pembelajaran Buddha di India. Srivijaya tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga pusat pembelajaran agama Buddha di Asia Tenggara.


2. Catatan Arab - Kitab "Akhbar al-Sin wa'l-Hind" (Abad ke-9)

Seorang penulis dan pelancong Arab bernama Sulayman al-Tajir mencatat perjalanannya ke India dan Cina dalam karyanya Akhbar al-Sin wa'l-Hind (Berita dari Cina dan India). Dalam catatannya, dia menyebut wilayah di Nusantara, terutama Sumatra, yang dia kunjungi selama perjalanannya.

Sulayman al-Tajir mencatat bahwa di Sumatra, ada kerajaan yang makmur berkat perdagangan rempah-rempah, emas, dan hasil hutan lainnya. Ini menunjukkan adanya hubungan dagang yang erat antara Nusantara dengan para pedagang dari Timur Tengah sejak abad ke-9.


3. Catatan Persia - "Silsilat al-Tawarikh" (Abad ke-14)

Silsilat al-Tawarikh adalah kronik sejarah yang ditulis oleh para cendekiawan Persia. Salah satu bagian dari karya ini menyebutkan tentang hubungan antara Kerajaan Samudera Pasai di Sumatra dengan pedagang dan ulama dari Persia.

Samudera Pasai disebut sebagai pusat kekuasaan Islam di Nusantara, di mana pedagang dan ulama dari Persia sering berkunjung untuk berdagang dan menyebarkan ajaran Islam. Hubungan ini memperlihatkan bahwa Samudera Pasai memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara.


4. Prasasti Ligor (Abad ke-8)

Prasasti Ligor ditemukan di Thailand selatan (Ligor) dan menyebut Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-8. Prasasti ini mencatat bahwa Sriwijaya memiliki pengaruh hingga ke wilayah Thailand selatan dan terlibat dalam perdagangan regional, termasuk dengan India dan Asia Selatan.

Prasasti ini menyebutkan pembangunan sebuah candi yang dilakukan oleh Sriwijaya di Ligor, menunjukkan bahwa Sriwijaya tidak hanya mengontrol perdagangan di wilayah ini, tetapi juga menyebarkan pengaruh agama Buddha di seluruh Asia Tenggara.


5. Prasasti Tanjore (1030 M)

Prasasti ini ditulis pada masa pemerintahan Raja Rajendra Chola I dari Dinasti Chola di India Selatan. Prasasti Tanjore mencatat ekspedisi militer Dinasti Chola ke beberapa kerajaan di Asia Tenggara, termasuk Sriwijaya.

Dalam prasasti ini, disebutkan bahwa Chola berhasil menyerang beberapa pelabuhan penting di Sumatra dan Semenanjung Malaya yang dikuasai Sriwijaya. Ini menunjukkan adanya persaingan antara kekuatan-kekuatan besar di wilayah Asia, di mana Sriwijaya dan Chola saling berkompetisi untuk menguasai jalur perdagangan maritim.


6. Catatan Marco Polo (1292 M)

Marco Polo, seorang penjelajah dari Venesia, mencatat perjalanannya melewati Nusantara dalam perjalanan pulangnya dari Cina ke Eropa pada tahun 1292. Dalam catatannya, dia menyebut beberapa wilayah di Nusantara, seperti Sumatra dan Jawa.

Marco Polo menyebutkan bahwa wilayah Sumatra terbagi menjadi beberapa kerajaan kecil, beberapa di antaranya telah menganut Islam, sementara yang lainnya masih memeluk agama Buddha dan Hindu. Ini merupakan salah satu catatan tertua dari seorang penjelajah Eropa yang menyebutkan kehadiran Islam di Nusantara.


7. Prasasti Karangtengah (824 M)

Prasasti Karangtengah ditemukan di Jawa Tengah dan menyebutkan seorang raja dari Dinasti Syailendra yang memiliki hubungan dengan Sriwijaya. Prasasti ini memuat pernyataan tentang Raja Indra yang memberikan bantuan untuk pembangunan candi, serta hubungannya dengan kerajaan di luar Jawa.

Prasasti ini menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara dinasti-dinasti di Jawa dan Sumatra pada masa itu, terutama dalam konteks agama Buddha dan pembangunan candi.


8. Catatan Ibnu Battuta (Abad ke-14)

Ibnu Battuta, seorang pengembara Muslim dari Maroko, mengunjungi Sumatra pada abad ke-14 dalam perjalanannya ke Cina. Dalam catatannya, dia menyebutkan Kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Muslim yang makmur dan menjadi pusat perdagangan internasional di Asia Tenggara.

Ibnu Battuta mencatat bahwa raja Samudera Pasai sangat saleh dan memberikan sambutan yang baik kepada para pelancong Muslim. Ia juga mencatat tentang masjid-masjid dan kehidupan sosial yang berkembang di bawah pengaruh Islam di wilayah tersebut.


9. Catatan Tome Pires (1512-1515 M) - "Suma Oriental"

Tome Pires adalah seorang apoteker dan penjelajah Portugis yang menulis Suma Oriental, salah satu catatan paling rinci tentang Asia Tenggara pada awal abad ke-16. Dia mengunjungi banyak kerajaan di Nusantara, termasuk Malaka, Jawa, dan Sumatra.

Tome Pires menyebutkan beberapa kerajaan penting di Jawa dan Sumatra, seperti Demak, Sunda, dan Pasai. Dia mencatat bahwa wilayah Nusantara sangat kaya akan rempah-rempah dan barang dagangan lainnya, dan merupakan pusat perdagangan yang penting di antara Asia Timur, Timur Tengah, dan India.


10. Prasasti Laguna Copperplate (900 M)

Prasasti Laguna Copperplate adalah prasasti tembaga yang ditemukan di Laguna, Filipina, dan ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan aksara Kawi. Prasasti ini menyebutkan hubungan diplomatik dan perdagangan antara kerajaan di Filipina dan kerajaan di Jawa atau Sumatra pada abad ke-10.

Prasasti ini menunjukkan bahwa pengaruh kerajaan-kerajaan Nusantara tidak hanya terbatas pada wilayah Asia Tenggara, tetapi juga meluas ke Filipina dan sekitarnya.


Kesimpulan:

Catatan dan prasasti dari wilayah lain di Asia menunjukkan bahwa Nusantara telah menjadi pusat penting dalam jaringan perdagangan maritim internasional sejak zaman kuno. Nusantara dikenal oleh berbagai bangsa di Asia, seperti India, Persia, Arab, dan bahkan Asia Tenggara lainnya, sebagai wilayah yang kaya dan strategis, baik dalam hal ekonomi maupun agama.


CATATAN TIONGKOK MENGENAI NUSANTARA

Catatan Tiongkok mengenai Nusantara (Kepulauan Indonesia) dari berbagai masa memberikan wawasan yang sangat berharga tentang hubungan antara kedua kawasan. Para pelancong dan duta dari Tiongkok mencatat interaksi dagang, budaya, serta politik dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Berikut beberapa catatan penting dari Tiongkok yang memuat informasi mengenai Nusantara:

1. Catatan Ma Huan (Zheng He’s Expedition) - "Yingya Shenglan" (1433)

Ma Huan adalah seorang penerjemah Muslim Tiongkok yang mengikuti ekspedisi Laksamana Cheng Ho (Zheng He) ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, termasuk Nusantara, pada abad ke-15. Dalam Yingya Shenglan, Ma Huan memberikan deskripsi mengenai berbagai kerajaan di Nusantara, seperti:

Majapahit: Ma Huan mencatat kekayaan Majapahit dan menyebutkan bahwa kerajaan ini memiliki sistem pemerintahan yang maju dan kaya akan hasil bumi seperti rempah-rempah dan emas. Ia juga mencatat tentang tata kota, kehidupan masyarakat, dan hubungan perdagangan yang luas antara Majapahit dan Tiongkok.

Samudera Pasai: Ma Huan mencatat adanya hubungan dagang yang erat antara Tiongkok dan Kerajaan Samudera Pasai, kerajaan Islam di Sumatera. Dia menggambarkan Samudera Pasai sebagai pusat perdagangan besar, khususnya dalam hal rempah-rempah, kain sutra, dan perak.


2. Catatan Zhao Rugua - "Zhufan Zhi" (1225)

Zhao Rugua adalah pejabat dinasti Song yang menulis tentang berbagai kerajaan asing dalam Zhufan Zhi ("Deskripsi Negara-Negara Barbar"). Dalam karyanya, Zhao Rugua mencatat keberadaan kerajaan-kerajaan di Nusantara:

Kerajaan Srivijaya: Zhao Rugua menyebut Srivijaya (dikenal dalam catatan Tiongkok sebagai Shih-li-fo-shih) sebagai kerajaan yang kaya raya dan memiliki pelabuhan dagang yang penting. Srivijaya adalah pusat perdagangan maritim di Asia Tenggara dan dikenal sebagai tempat transit untuk perdagangan barang-barang dari India dan Tiongkok.

Jawa: Ia juga mencatat tentang kerajaan-kerajaan di Jawa, terutama dalam konteks perannya sebagai pusat perdagangan rempah-rempah. Zhao Rugua mencatat bahwa orang Jawa sangat ahli dalam perdagangan dan memiliki peradaban yang maju.


3. Catatan dari Dinasti Tang - "Xin Tangshu" (Abad ke-7 hingga ke-10)

Dalam Xin Tangshu (Buku Sejarah Tang Baru), terdapat beberapa catatan tentang hubungan Dinasti Tang dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama kerajaan Srivijaya yang dikenal sebagai Shih-li-fo-shih dalam catatan tersebut:

Srivijaya: Dinasti Tang menjalin hubungan diplomatik dengan Srivijaya, yang menjadi salah satu pusat kekuasaan maritim terbesar di Asia Tenggara pada saat itu. Pada abad ke-7, Raja Sri Jayanasa dari Srivijaya mengirimkan utusan ke istana Tang, mempererat hubungan diplomatik dan perdagangan antara Tiongkok dan Nusantara. Utusan Srivijaya membawa barang-barang seperti gading, cengkeh, dan emas sebagai hadiah.


4. Catatan Dinasti Yuan - "Daoyi Zhilüe" (1349)

Wang Dayuan, seorang pelancong dan pedagang Tiongkok, menulis tentang kunjungannya ke berbagai tempat di Asia Tenggara dalam Daoyi Zhilüe ("Ringkasan Negara-Negara Kepulauan"). Dalam catatan ini, Wang Dayuan menggambarkan keadaan di beberapa kerajaan di Nusantara:

Tumasik (Singapura): Wang Dayuan mencatat tentang keberadaan Tumasik sebagai salah satu pelabuhan yang penting di jalur perdagangan antara India dan Tiongkok. Ia juga mencatat tentang persaingan dan pertempuran antara kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut.

Jawa: Wang Dayuan menyebut bahwa pulau Jawa (Tionghoa: Zhao-wa) memiliki kekayaan alam yang melimpah, termasuk beras, kapas, dan rempah-rempah. Jawa adalah pusat perdagangan yang menarik para pedagang dari berbagai belahan dunia, termasuk Arab dan India.


5. Catatan Dinasti Ming - Catatan Cheng Ho (Abad ke-15)

Laksamana Cheng Ho memimpin beberapa ekspedisi besar ke Nusantara antara 1405 dan 1433. Selama ekspedisinya, ia berlayar ke banyak kerajaan di Nusantara, termasuk Majapahit, Samudera Pasai, dan Palembang (bekas pusat Srivijaya):

Cheng Ho memperkuat hubungan diplomatik antara Dinasti Ming dan kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama dengan kerajaan-kerajaan Muslim seperti Samudera Pasai dan Malaka. Dia juga membawa hadiah dari Tiongkok dan menegosiasikan perjanjian dagang.


6. Catatan I-Tsing (Yi Jing) - Abad ke-7

Seorang biksu Buddha dari Tiongkok bernama I-Tsing melakukan perjalanan melalui Nusantara pada abad ke-7. Ia singgah di Srivijaya (Sumatra) selama beberapa tahun sebelum melanjutkan perjalanannya ke India untuk belajar agama Buddha. Dalam catatannya, ia menyebut Srivijaya sebagai pusat pembelajaran Buddha dan menyarankan biksu-biksu lain untuk belajar di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke India.

Catatan-catatan ini memberikan gambaran tentang bagaimana kerajaan-kerajaan di Nusantara dilihat oleh bangsa Tiongkok, terutama dalam hal kekayaan alam, perdagangan, dan hubungan diplomatik. Hubungan antara Tiongkok dan Nusantara telah berlangsung selama berabad-abad dan memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi dan budaya di kedua wilayah.

Senin, 07 Oktober 2024

Galuh Candrakirana dalam Cerita Panji:

Galuh Candrakirana adalah putri cantik dari kerajaan Daha (Kediri) yang menjadi pusat cerita "Panji." Kisah ini berkisar pada percintaannya dengan Panji Asmarabangun, seorang pangeran dari Kerajaan Kahuripan (atau Jenggala). Cerita ini merupakan salah satu bentuk epos romansa Jawa, dengan unsur drama, intrik politik, dan petualangan.

Dalam kisah Panji, Galuh Candrakirana bertunangan dengan Panji Asmarabangun sejak kecil. Namun, berbagai konflik politik dan peperangan antara dua kerajaan, Daha dan Kahuripan, memisahkan mereka. Banyak intrik yang membuat kisah cinta mereka penuh liku-liku, dengan Galuh Candrakirana sering kali diculik atau menghilang, dan Panji harus berjuang untuk menemukannya.

Tema Kisah Panji:

Kesetiaan dan Cinta Sejati: Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana harus melalui banyak cobaan, termasuk pemisahan paksa, penyamaran, dan serangkaian tantangan sebelum akhirnya bersatu kembali. Cerita ini sering dianggap sebagai simbol cinta yang abadi, dan keduanya tetap setia meskipun banyak rintangan.

Penyamaran: Salah satu tema utama dalam siklus cerita Panji adalah penyamaran. Kedua tokoh utama, baik Panji maupun Galuh, sering kali menyamar sebagai orang biasa selama perjalanan mereka, sehingga kisah ini penuh dengan petualangan, pertemuan, dan konflik yang kompleks.

Perjalanan dan Pencarian: Cerita ini banyak melibatkan perjalanan panjang yang dilakukan Panji untuk menemukan Galuh setelah mereka terpisah. Dalam perjalanan tersebut, Panji menghadapi banyak rintangan dan lawan, termasuk raja-raja dan pangeran dari kerajaan lain yang juga ingin mempersunting Galuh Candrakirana.


Pengaruh dalam Budaya Jawa:

Kisah Panji, termasuk tokoh Galuh Candrakirana, telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak karya seni dan budaya di Nusantara. Cerita Panji sering dijadikan bahan lakon dalam pertunjukan wayang, tari, dan kesusastraan. Di masa Majapahit, kisah Panji populer tidak hanya di kalangan rakyat, tetapi juga di kalangan bangsawan.

Cerita Panji juga menyebar ke daerah lain di Asia Tenggara, seperti Thailand, Kamboja, dan Malaysia, di mana tokoh-tokoh seperti Panji dan Galuh Candrakirana dikenal dengan nama yang berbeda, tetapi intisari cerita tetap sama.

Galuh Candrakirana sebagai Simbol Wanita Ideal:

Galuh Candrakirana dalam kisah ini dilukiskan sebagai wanita yang sangat cantik, bijaksana, dan setia. Ia menjadi simbol kecantikan fisik dan batin dalam budaya Jawa kuno. Kesetiaannya terhadap Panji meski dihadapkan pada berbagai cobaan dan godaan dari pria-pria lain menunjukkan kekuatan moral dan spiritualnya.

Warisan Sastra Panji:

Cerita Panji dan tokoh Galuh Candrakirana masih bertahan hingga kini, di mana beberapa naskah kuno yang menceritakan kisah ini dapat ditemukan di berbagai perpustakaan di Indonesia dan mancanegara. Kisah ini juga terus dipelajari dalam studi sastra Jawa, karena menjadi salah satu cerita epik yang paling berpengaruh pada kebudayaan Jawa hingga hari ini.


Kamis, 19 September 2024

Legenda Sangkuriang dan Ilmu Geologi tanah Pasundan

 Legenda Sangkuriang dan Kaitan Geologi dengan Gunung Sunda Purba serta Danau Bandung

Legenda Sangkuriang: Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu

Legenda Sangkuriang merupakan salah satu kisah rakyat yang sangat terkenal di tanah Sunda, khususnya di Jawa Barat. Cerita ini mengisahkan seorang pemuda bernama Sangkuriang yang jatuh cinta kepada ibunya sendiri, Dayang Sumbi, tanpa mengetahui identitasnya. Setelah mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya, Dayang Sumbi berusaha menghindari pernikahan tersebut dengan memberikan syarat yang hampir mustahil: Sangkuriang harus membuat sebuah danau dan perahu dalam satu malam. Sangkuriang dengan kekuatan gaib hampir berhasil, namun Dayang Sumbi menggagalkan usaha tersebut dengan menipu waktu subuh. Marah karena gagal, Sangkuriang menendang perahu yang telah dibuatnya, yang kemudian terbalik dan menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Kisah ini telah diceritakan turun-temurun, menjadi bagian dari kekayaan budaya Sunda. Namun, ada hal menarik yang dapat dihubungkan antara legenda tersebut dengan kenyataan geologis yang ditemukan oleh para ahli tentang terbentuknya wilayah Bandung.

Fakta Geologi: Gunung Sunda Purba dan Danau Bandung Purba

Secara geologis, daerah Bandung merupakan bagian dari kaldera gunung raksasa yang dikenal sebagai Gunung Sunda Purba. Ribuan tahun lalu, Gunung Sunda merupakan salah satu gunung berapi terbesar di wilayah Jawa Barat, yang mencapai ketinggian hingga ribuan meter. Namun, sekitar 55.000 tahun lalu, Gunung Sunda mengalami letusan dahsyat yang mengakibatkan puncaknya runtuh, menciptakan kaldera besar.

Setelah letusan tersebut, kaldera yang terbentuk diisi oleh air dan menciptakan Danau Bandung Purba. Danau ini membentang sangat luas, mencakup hampir seluruh cekungan Bandung yang kita kenal sekarang. Seiring waktu, aliran air yang membentuk danau ini kemudian mengering akibat erosi dan proses geologi lainnya, sehingga cekungan Bandung berubah menjadi daratan.

Gunung Tangkuban Perahu, yang hari ini berdiri megah, sebenarnya merupakan salah satu bagian yang tersisa dari Gunung Sunda Purba. Setelah letusan besar yang menghancurkan Gunung Sunda, gunung-gunung baru mulai terbentuk, termasuk Tangkuban Perahu, yang dikenal sebagai "anak" dari gunung purba tersebut. Bentuknya yang menyerupai perahu terbalik semakin memperkuat kaitannya dengan legenda Sangkuriang.

Keterkaitan Legenda dengan Fakta Geologi

Pertanyaannya sekarang, apakah mungkin orang-orang zaman dahulu menyadari informasi geologi tentang Gunung Sunda Purba dan Danau Bandung, dan kemudian mengemasnya dalam bentuk legenda seperti kisah Sangkuriang?

Dalam berbagai kebudayaan di dunia, seringkali mitos dan legenda memiliki akar yang kuat pada peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di masa lalu. Orang-orang zaman dahulu, meskipun tidak memiliki teknologi atau ilmu pengetahuan seperti sekarang, mengamati fenomena alam dengan seksama. Mereka mungkin tidak memahami detail teknis seperti proses vulkanologi atau geologi, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk merasakan dan mengabadikan fenomena tersebut melalui cerita.

Kisah tentang Sangkuriang, dengan unsur-unsur seperti gunung yang terbentuk dari perahu yang terbalik, secara tidak langsung mungkin menggambarkan proses terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu dari sisa-sisa Gunung Sunda Purba. Sangkuriang yang membangun danau juga bisa mencerminkan keberadaan Danau Bandung Purba di masa lalu. Walaupun cerita ini penuh dengan unsur magis, elemen-elemen utamanya mungkin terinspirasi oleh realitas geologi yang dialami oleh masyarakat saat itu.

Hal serupa terjadi di banyak tempat lain di dunia. Mitos tentang banjir besar, misalnya, sering ditemukan di berbagai budaya dan seringkali merujuk pada kejadian nyata, seperti banjir akibat letusan gunung atau perubahan iklim. Legenda-legenda semacam ini menjadi cara bagi masyarakat untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa besar yang mereka alami, dan kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Apakah Masyarakat Dulu Mengetahui Geologi?

Masyarakat kuno tidak memiliki akses ke ilmu geologi modern, tetapi mereka sangat dekat dengan alam. Pengamatan mereka terhadap siklus gunung berapi, banjir, gempa bumi, dan fenomena alam lainnya sering kali ditransformasikan menjadi mitos dan legenda. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa legenda Sangkuriang mencerminkan pengalaman nyata masyarakat Sunda kuno terhadap perubahan geologis yang terjadi di sekitar mereka.

Secara sadar atau tidak, legenda Sangkuriang membawa memori kolektif masyarakat Sunda tentang letusan dahsyat Gunung Sunda Purba dan terbentuknya Danau Bandung. Dengan demikian, meski dalam bentuk simbolik dan penuh elemen fantastis, cerita ini menjadi salah satu cara mereka memahami fenomena geologi besar yang membentuk wilayah tempat mereka tinggal.

Kesimpulan

Legenda Sangkuriang bukan hanya kisah rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi mungkin juga merupakan refleksi dari peristiwa geologi besar yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Masyarakat Sunda kuno, meskipun tidak memiliki pengetahuan ilmiah seperti sekarang, memiliki cara tersendiri untuk menceritakan fenomena alam yang terjadi di sekitar mereka. Melalui mitos, mereka mengabadikan proses terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu dan Danau Bandung Purba, yang hari ini diakui oleh ilmu geologi modern.

Kamis, 12 September 2024

Politisasi Intelektual Rendah: Strategi Politisi yang Memanfaatkan Psikologi Masyarakat

 

Dalam konteks politik, pemahaman akan psikologi massa menjadi penting, terutama ketika politisi memanfaatkannya untuk kepentingan mereka sendiri. Tulisan ini akan mengeksplorasi fenomena psikologis di balik pola perilaku politisi yang memanfaatkan intelektual rendah masyarakat, alih-alih mencerdaskan atau memberikan pendidikan politik yang baik.

 

1. Pengertian Psikologi Masyarakat dan Intelektual Rendah:

 

Penjelasan tentang psikologi masyarakat dan bagaimana tingkat intelektual seseorang memengaruhi pemahaman politik dan partisipasi dalam proses politik.

Dampak dari intelektual rendah pada pola perilaku dan keputusan politik.

 

2. Politisasi Intelektual Rendah:

 

Analisis tentang bagaimana politisi menggunakan strategi untuk memanfaatkan intelektual rendah masyarakat demi keuntungan politik pribadi.

Contoh-contoh konkrit dari praktik politisasi intelektual rendah, seperti penyebaran informasi palsu, retorika yang menipu, dan manipulasi emosi massa.

 

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Politik Masyarakat:

 

Peran media massa dan teknologi dalam membentuk opini dan sikap politik masyarakat.

Pengaruh lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi terhadap persepsi politik dan partisipasi dalam proses politik.

 

4. Dampak Negatif Politisasi Intelektual Rendah:

 

Konsekuensi dari politisasi intelektual rendah, termasuk penurunan kualitas demokrasi, polarisasi politik, dan kerentanan terhadap manipulasi politik.

Penyimpangan dari tujuan utama politik, yakni melayani kepentingan publik dan memajukan kesejahteraan masyarakat.

 

5. Mengatasi Politisasi Intelektual Rendah:

 

Pendidikan politik yang inklusif dan terjangkau untuk meningkatkan literasi politik masyarakat.

Pentingnya kritisisme dan skeptisisme dalam menyikapi informasi politik yang diterima.

Peran aktivis masyarakat dan LSM dalam memantau dan menentang praktik politik yang merugikan.

Kesimpulan: Mengakhiri tulisan dengan menegaskan pentingnya kesadaran akan politisasi intelektual rendah dan perlunya tindakan untuk melawan praktik-praktik manipulatif yang merugikan. Politisi dan masyarakat sama-sama memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa politik berjalan di jalur yang benar dan berpihak pada kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi belaka.

Minggu, 03 Maret 2024

Kebangkitan Nusantara

 

 

Sore itu udara cerah dan segar, angin semilir membelai wajah membawa ketenangan.  Mbah Semar sedang asyik duduk di Pendopo di temani Petruk.  Kopi dan gorengan menjadi teman yang nikmat untuk menikmati hari.

Petruk                  :  Romo, wis lama ini Nusantara menjadi terbelakang dan kesuliatan bersaing dengan Negara-negara lain.  Padahal dahulu kala Nusantara menjadi besar dengan kerajaan-kerajaan super powernya.  Itu juga yang membuat Tumaritis gabung ke Nusantara.

Semar                   :  Hehe yo opo toh... bangsa ini sudah terlalu lama di didik untuk jadi pecundang oleh para pendatang yang ingin mengambil kekayaan wilayah ini.

Petruk                  :  Tapi Romo, katanya ada ramalan yang bilang kalo Nusantara akan bangkit dan menjadi besar lagi.

Semar                   :  Hehehe.. opo toh.. ramalan itu hanya bisa terlaksana kalau penduduknya mau kembali ke masa keemasan Nusantara.

Petruk                  :  Seperti apa itu Romo?

Semar                   :  Setiap kejayaan suatu bangsa itu selalu di sertai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di negeri itu.  Rakyatnya berlomba-lomba untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.  Dan setiap jaman itu selalu berbeda kebutuhannya untuk menjadikan suatu bangsa besar.  Missal, dahulu kala siapa yang bisa menaklukkan lautan maka dia akan menjadi Negara yang super power.  Berikutnya ada jaman di mana teknologi mulai di temukan dan Negara-negara yang menguasai teknologi dan mengatasi masalah yang timbul karenanya akan menjadi Negara super.  Seperti yang terjadi pada saat revolusi industry awal terjadi.  Dan sekarang eranya teknologi informasi dan digital maka siapa yang bisa menguasainya dialah yang akan Berjaya.

Petruk                  :  Nah, sekarang negeri ini pengguna interntenya dan teknologi informasinya termasuk yang terbesar di dunia, berarti kita akan menjadi Negara besar?

Semar                   :  Hehe.. yang membuat negeri ini jadi besar bukan hanya karena penggunanya yang besar, tapi juga inovasi dan penciptaan teknologi.  Kalau Cuma menggunakan malah jadi konsumen saja, mereka yang menguasai teknologi yang akan mendapat keuntungan dan menguasai para pengguna.

Petruk                  :  Nah berarti kita juga harus bisa membuat teknologi seperti Facebook, Handphone dan lain-lain?

Semar                   :  Kalau kita mulai lagi dari awal membangun teknologi maka kita akan ketinggalan.  Barang kita tidak akan bisa bersaing, kalau mau bersaing bukan lagi mulai dari awal dalam pengembangan teknologi, tapi justru mengembangkan teknologi yang lebih maju lagi dari yang ada sekarang, sehingga kita bisa menjadi pioneer dalam teknologi maupun industry.  Masyarakat juga harus mulai meningkatkan kualitas dan kapabilitas pengetahuan dan keahliannya agar bisa bersaing dengan robot dan AI yang saat ini lebih murah dan efesien dalam proses industry.

Petruk                  :  Opo bisa room? Masyarakat kita masih manja dan malas.  Keahlian pas-pasan tapi maunya di berikan pekerjaan dan fasilitas sementara dari luar sumberdayamanusianya sudah jauh lebih terlatih dan ahli sehingga sulit untuk bersaing dengan mereka.

Semar                   :  Yo.. bisa ae... tinggal mau atau tidaknya.  Pemimpin-pemimpinnya mau ndak mengembangkan sumberdaya yang ada, dan rakyatnya mau ndak belajar dan menjadi lebih bersaing untuk menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas.  Kalau ndak ya.. wassalam.

Petruk hanya manggut-manggut sambil menyeruput kopinya.  Sementara mbah Semar memandang kea rah pegunungan yang asri dan mulai penuh dengan manusia.

Tradisi Politik di negeri Tumaritis

 

Yuk, kita lupain aja dulu tentang teori-teori ilmu politik yang ada dalam berbagai literasi ilmu politik.  Kita membaca realitas politik yang ada di Tumaritis.  Bagaimana cara bekerja dan pengaruhnya terhadap masyarakat, baik secara intelektualitas maupun mentalitas yang pasti bukan kualitas ataupun yang kapasitas terbatas... hehe.

Yuk..bisa yuk.. anak muda membaca dan mengaktualisasikan dirinya ke dunia politik.  Politik santuy dan happy... tanpa Salma..  tapi kalau dia mau saya juga mau sih..:P  dengan lolosnya saudara Komeng ke DPD, eh saudaranya apa Komengnya ya?? :D  ini menunjukkan juga kalo politik santuy dan happy mulai bisa di terima masyarakat.  Mungkin udah bosen dengan omon-omon yang pada akhirnya bukan mencerdaskan malah mengkerdilkan rakyat. 

Pada dasarnya politik di negeri ini adalah bagaimana menguasai persepsi public.  Jika bisa menguasai mayoriatas persepsi public walaupun itu adalah persepsi yang salah ata upun bahkan cenderung menyesatkan taka pa yang penting mereka bisa di arahkan seperti kerbau yang di cucuk hidungnya.  Makanya upaya untuk mencerdaskan rakyat itu Cuma slogan dan buaian agar mereka bisa  manfaatkan dengan kata “atas nama rakyat “ atau “rakyat sudah cerdas”.  Tapi di lain waktu mereka akan mengatakan “rakyat masih bodoh” atau “pengetahuan yang kurang”.  :D

Memanfaatkan minimnya literasi rakyat, kemampuan rasional mayoritas rakyat justru semakin di dorong dengan pendoktrinan dan penggiringan opini yang memanfaatkan emosional rakyat.  Seperti memanfaatkan rakyat marjinal, SARA dll.  Begitu juga dengan budaya dan karakter masyarakat yang masih feudal di manfaatkan dengan baik.  Kisah Petruk jadi raja selalu jadi bahan untuk mendeligitimasi orang-orang yang memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin tapi tidak memiliki trah atau darah bangsawan.  Baik itu bangsawan tradisional maupun bangsawan politik modern.

Itulah mengapa teori konspirasi, cocoklogi menjadi isu-isu yang selalu di angkat dan di kedepankan dalam berbagai diskusi di ruang public, termasuk dalam media massa mainstream seperti televise nasional.  Bahkan dalam beberapa acara diskusi di televise terlihat sekali pembawa acaranya mengarahkan pembicaraan ke persepsi yang di inginkan.  Indepedensi media jadi tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat hingga akhirnya dengan perkembangan tekhnologi saat ini banyak pihak-pihak yang membuat tayangan tandingan yang dapat di jadikan referensi alternative yang lebih netral oleh masyarakat.

Contoh peggiringan persepsi yang bisa di lihat adalah ketika seorang tokoh yang bernama Ricky Gareng mengatakan bahwa Joko Wibowo tidak bermoral karena tidak mendukung Capres yang di usung partainya sebagai bentuk tidak bermoral.  Sementara untuk tokoh lain yang dulunya di angkat, di tolong dengan fasilitas dan materi hingga di kenal luas, tapi pada akhrinya malah berbalik melawan bahkan menusuk orang yang menolong dan mengangkatnya malah di sanjung dan di jadikan contoh orang yang memiliki etika yang baik.  Dari sini aja kita bisa melihat bahwa apa yang di katakana Ricky Gareng ini sebagai contoh orang yang tidak memiliki etika dan moralitas rendah.  Tapi apalah-apalah.. karena feodalisme masih begitu kuat maka ketokohannya menjadikan apa yang keluar dari mulutnya di anggap benar sekalipun itu sampah.