Yuk, kita lupain aja dulu tentang teori-teori
ilmu politik yang ada dalam berbagai literasi ilmu politik. Kita membaca realitas politik yang ada di
Tumaritis. Bagaimana cara bekerja dan
pengaruhnya terhadap masyarakat, baik secara intelektualitas maupun mentalitas
yang pasti bukan kualitas ataupun yang kapasitas terbatas... hehe.
Yuk..bisa yuk.. anak muda membaca dan
mengaktualisasikan dirinya ke dunia politik.
Politik santuy dan happy... tanpa Salma.. tapi kalau dia mau saya juga mau sih..:P dengan lolosnya saudara Komeng ke DPD, eh
saudaranya apa Komengnya ya?? :D ini
menunjukkan juga kalo politik santuy dan happy mulai bisa di terima
masyarakat. Mungkin udah bosen dengan omon-omon
yang pada akhirnya bukan mencerdaskan malah mengkerdilkan rakyat.
Pada dasarnya politik di negeri ini adalah
bagaimana menguasai persepsi public. Jika
bisa menguasai mayoriatas persepsi public walaupun itu adalah persepsi yang
salah ata upun bahkan cenderung menyesatkan taka pa yang penting mereka bisa di
arahkan seperti kerbau yang di cucuk hidungnya.
Makanya upaya untuk mencerdaskan rakyat itu Cuma slogan dan buaian agar
mereka bisa manfaatkan dengan kata “atas
nama rakyat “ atau “rakyat sudah cerdas”.
Tapi di lain waktu mereka akan mengatakan “rakyat masih bodoh” atau “pengetahuan
yang kurang”. :D
Memanfaatkan minimnya literasi rakyat,
kemampuan rasional mayoritas rakyat justru semakin di dorong dengan
pendoktrinan dan penggiringan opini yang memanfaatkan emosional rakyat. Seperti memanfaatkan rakyat marjinal, SARA
dll. Begitu juga dengan budaya dan
karakter masyarakat yang masih feudal di manfaatkan dengan baik. Kisah Petruk jadi raja selalu jadi bahan
untuk mendeligitimasi orang-orang yang memiliki kapasitas untuk menjadi
pemimpin tapi tidak memiliki trah atau darah bangsawan. Baik itu bangsawan tradisional maupun
bangsawan politik modern.
Itulah mengapa teori konspirasi, cocoklogi
menjadi isu-isu yang selalu di angkat dan di kedepankan dalam berbagai diskusi
di ruang public, termasuk dalam media massa mainstream seperti televise nasional. Bahkan dalam beberapa acara diskusi di televise
terlihat sekali pembawa acaranya mengarahkan pembicaraan ke persepsi yang di
inginkan. Indepedensi media jadi tidak
mendapat kepercayaan dari masyarakat hingga akhirnya dengan perkembangan
tekhnologi saat ini banyak pihak-pihak yang membuat tayangan tandingan yang
dapat di jadikan referensi alternative yang lebih netral oleh masyarakat.
Contoh peggiringan persepsi yang bisa di lihat
adalah ketika seorang tokoh yang bernama Ricky Gareng mengatakan bahwa Joko
Wibowo tidak bermoral karena tidak mendukung Capres yang di usung partainya
sebagai bentuk tidak bermoral. Sementara
untuk tokoh lain yang dulunya di angkat, di tolong dengan fasilitas dan materi
hingga di kenal luas, tapi pada akhrinya malah berbalik melawan bahkan menusuk
orang yang menolong dan mengangkatnya malah di sanjung dan di jadikan contoh
orang yang memiliki etika yang baik. Dari
sini aja kita bisa melihat bahwa apa yang di katakana Ricky Gareng ini sebagai
contoh orang yang tidak memiliki etika dan moralitas rendah. Tapi apalah-apalah.. karena feodalisme masih
begitu kuat maka ketokohannya menjadikan apa yang keluar dari mulutnya di
anggap benar sekalipun itu sampah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar