Minggu, 03 Maret 2024

Tradisi Politik di negeri Tumaritis

 

Yuk, kita lupain aja dulu tentang teori-teori ilmu politik yang ada dalam berbagai literasi ilmu politik.  Kita membaca realitas politik yang ada di Tumaritis.  Bagaimana cara bekerja dan pengaruhnya terhadap masyarakat, baik secara intelektualitas maupun mentalitas yang pasti bukan kualitas ataupun yang kapasitas terbatas... hehe.

Yuk..bisa yuk.. anak muda membaca dan mengaktualisasikan dirinya ke dunia politik.  Politik santuy dan happy... tanpa Salma..  tapi kalau dia mau saya juga mau sih..:P  dengan lolosnya saudara Komeng ke DPD, eh saudaranya apa Komengnya ya?? :D  ini menunjukkan juga kalo politik santuy dan happy mulai bisa di terima masyarakat.  Mungkin udah bosen dengan omon-omon yang pada akhirnya bukan mencerdaskan malah mengkerdilkan rakyat. 

Pada dasarnya politik di negeri ini adalah bagaimana menguasai persepsi public.  Jika bisa menguasai mayoriatas persepsi public walaupun itu adalah persepsi yang salah ata upun bahkan cenderung menyesatkan taka pa yang penting mereka bisa di arahkan seperti kerbau yang di cucuk hidungnya.  Makanya upaya untuk mencerdaskan rakyat itu Cuma slogan dan buaian agar mereka bisa  manfaatkan dengan kata “atas nama rakyat “ atau “rakyat sudah cerdas”.  Tapi di lain waktu mereka akan mengatakan “rakyat masih bodoh” atau “pengetahuan yang kurang”.  :D

Memanfaatkan minimnya literasi rakyat, kemampuan rasional mayoritas rakyat justru semakin di dorong dengan pendoktrinan dan penggiringan opini yang memanfaatkan emosional rakyat.  Seperti memanfaatkan rakyat marjinal, SARA dll.  Begitu juga dengan budaya dan karakter masyarakat yang masih feudal di manfaatkan dengan baik.  Kisah Petruk jadi raja selalu jadi bahan untuk mendeligitimasi orang-orang yang memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin tapi tidak memiliki trah atau darah bangsawan.  Baik itu bangsawan tradisional maupun bangsawan politik modern.

Itulah mengapa teori konspirasi, cocoklogi menjadi isu-isu yang selalu di angkat dan di kedepankan dalam berbagai diskusi di ruang public, termasuk dalam media massa mainstream seperti televise nasional.  Bahkan dalam beberapa acara diskusi di televise terlihat sekali pembawa acaranya mengarahkan pembicaraan ke persepsi yang di inginkan.  Indepedensi media jadi tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat hingga akhirnya dengan perkembangan tekhnologi saat ini banyak pihak-pihak yang membuat tayangan tandingan yang dapat di jadikan referensi alternative yang lebih netral oleh masyarakat.

Contoh peggiringan persepsi yang bisa di lihat adalah ketika seorang tokoh yang bernama Ricky Gareng mengatakan bahwa Joko Wibowo tidak bermoral karena tidak mendukung Capres yang di usung partainya sebagai bentuk tidak bermoral.  Sementara untuk tokoh lain yang dulunya di angkat, di tolong dengan fasilitas dan materi hingga di kenal luas, tapi pada akhrinya malah berbalik melawan bahkan menusuk orang yang menolong dan mengangkatnya malah di sanjung dan di jadikan contoh orang yang memiliki etika yang baik.  Dari sini aja kita bisa melihat bahwa apa yang di katakana Ricky Gareng ini sebagai contoh orang yang tidak memiliki etika dan moralitas rendah.  Tapi apalah-apalah.. karena feodalisme masih begitu kuat maka ketokohannya menjadikan apa yang keluar dari mulutnya di anggap benar sekalipun itu sampah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar