Jumat, 16 Februari 2024

Lanskap Politik Pasca Pemilu 2024: Analisis Prospek dan Dinamika Partai

 

Pemilu Presiden dan Legislatif tahun 2024 baru saja berakhir, dan dengan menghormati proses yang dilakukan oleh KPU, kita dapat mencoba menganalisis lanskap politik Indonesia untuk lima tahun ke depan. Berdasarkan hasil Quick Count dari beberapa lembaga survei, pasangan Capres nomor urut 02, yakni Prabowo Subianto - Gibran Rakabumingraka, berhasil memperoleh dukungan tertinggi dengan kisaran antara 55-59 persen suara. Sementara itu, pasangan Anies Baswedan - Muhaimin Iskanda mendapatkan dukungan suara antara 23-25 persen, dan pasangan Ganjar Pranowo - Mahfud MD mendapatkan kisaran suara sebesar 16-17 persen.

Hasil perhitungan Quick Count juga menunjukkan bahwa PDIP, Golkar, dan Gerindra memperoleh suara tertinggi, dengan PDIP menduduki posisi teratas diikuti oleh Golkar dan Gerindra. Namun, terdapat anomali karena meskipun Prabowo Subianto didukung oleh Gerindra, partai tersebut tidak berhasil menjadi pemenang dalam Pileg kali ini. Di sisi lain, PDIP yang mengusung Ganjar Pranowo, meskipun mengalami penurunan suara, masih mampu memenangkan pemilu, meskipun dengan suara yang menurun secara signifikan.

Melihat situasi ini, ada kemungkinan bahwa PDIP akan berada dalam posisi oposisi terhadap pemerintahan selanjutnya. Narasi yang disampaikan oleh elit PDIP mulai menunjukkan pola komunikasi yang mirip dengan periode 2004-2009, ketika partai tersebut menjadi oposisi terhadap pemerintahan SBY. Posisi ini selama sepuluh tahun terakhir diambil alih oleh PKS. Ini menarik karena PKS, yang mendukung Anies Baswedan, juga kalah dalam pemilu. Teknik komunikasi yang kembali digunakan oleh PDIP, sementara PKS masih menggunakan pendekatan yang sama selama sepuluh tahun terakhir.

Secara politik dan komunikasi politik, kedua partai ini menggunakan pola yang sama namun memiliki ideologi yang berbeda. PDIP dianggap sebagai partai kiri, sementara PKS diidentifikasi sebagai partai kanan. Meskipun demikian, dalam beberapa kesempatan, Prabowo Subianto berupaya untuk merangkul semua partai untuk bersama-sama dalam pemerintahan.

Dengan karakteristik ketua umum partai-partai yang ada saat ini, terlihat bahwa kemungkinan partai yang akan menjadi oposisi adalah PDIP, mengingat pola komunikasi dan narasi yang mereka tunjukkan, yang menyerupai periode oposisi pada tahun 2004-2009. Namun, untuk PKS masih menjadi pertanyaan karena masih belum jelas apakah mereka akan bersinergi dengan PDIP sebagai oposisi.

Sementara itu, partai-partai lain seperti PPP dan Nasdem kemungkinan besar akan bergabung dengan pemenang pemilu, mengingat dukungan dan peran yang mereka miliki selama kampanye. Hal ini menunjukkan bahwa lanskap politik pasca pemilu tidak hanya mencerminkan persaingan antarpartai, tetapi juga kerjasama dan strategi untuk mencapai tujuan politik masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar