Pemilu Presiden dan Legislatif tahun 2024 baru
saja berakhir, dan dengan menghormati proses yang dilakukan oleh KPU, kita
dapat mencoba menganalisis lanskap politik Indonesia untuk lima tahun ke depan.
Berdasarkan hasil Quick Count dari beberapa lembaga survei, pasangan Capres
nomor urut 02, yakni Prabowo Subianto - Gibran Rakabumingraka, berhasil
memperoleh dukungan tertinggi dengan kisaran antara 55-59 persen suara. Sementara
itu, pasangan Anies Baswedan - Muhaimin Iskanda mendapatkan dukungan suara
antara 23-25 persen, dan pasangan Ganjar Pranowo - Mahfud MD mendapatkan
kisaran suara sebesar 16-17 persen.
Hasil perhitungan Quick Count juga menunjukkan
bahwa PDIP, Golkar, dan Gerindra memperoleh suara tertinggi, dengan PDIP
menduduki posisi teratas diikuti oleh Golkar dan Gerindra. Namun, terdapat
anomali karena meskipun Prabowo Subianto didukung oleh Gerindra, partai
tersebut tidak berhasil menjadi pemenang dalam Pileg kali ini. Di sisi lain,
PDIP yang mengusung Ganjar Pranowo, meskipun mengalami penurunan suara, masih
mampu memenangkan pemilu, meskipun dengan suara yang menurun secara signifikan.
Melihat situasi ini, ada kemungkinan bahwa PDIP
akan berada dalam posisi oposisi terhadap pemerintahan selanjutnya. Narasi yang
disampaikan oleh elit PDIP mulai menunjukkan pola komunikasi yang mirip dengan
periode 2004-2009, ketika partai tersebut menjadi oposisi terhadap pemerintahan
SBY. Posisi ini selama sepuluh tahun terakhir diambil alih oleh PKS. Ini
menarik karena PKS, yang mendukung Anies Baswedan, juga kalah dalam pemilu.
Teknik komunikasi yang kembali digunakan oleh PDIP, sementara PKS masih
menggunakan pendekatan yang sama selama sepuluh tahun terakhir.
Secara politik dan komunikasi politik, kedua
partai ini menggunakan pola yang sama namun memiliki ideologi yang berbeda.
PDIP dianggap sebagai partai kiri, sementara PKS diidentifikasi sebagai partai
kanan. Meskipun demikian, dalam beberapa kesempatan, Prabowo Subianto berupaya
untuk merangkul semua partai untuk bersama-sama dalam pemerintahan.
Dengan karakteristik ketua umum partai-partai
yang ada saat ini, terlihat bahwa kemungkinan partai yang akan menjadi oposisi
adalah PDIP, mengingat pola komunikasi dan narasi yang mereka tunjukkan, yang
menyerupai periode oposisi pada tahun 2004-2009. Namun, untuk PKS masih menjadi
pertanyaan karena masih belum jelas apakah mereka akan bersinergi dengan PDIP
sebagai oposisi.
Sementara itu, partai-partai lain seperti PPP
dan Nasdem kemungkinan besar akan bergabung dengan pemenang pemilu, mengingat
dukungan dan peran yang mereka miliki selama kampanye. Hal ini menunjukkan
bahwa lanskap politik pasca pemilu tidak hanya mencerminkan persaingan
antarpartai, tetapi juga kerjasama dan strategi untuk mencapai tujuan politik masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar