Hasil pemilu 2024, sebagaimana pemilu-pemilu
sebelumnya, terus menjadi sasaran permasalahan oleh pihak yang kalah, dengan
isu-isu yang diangkat pun tetap konsisten. Namun, ada aspek menarik yang patut
dibahas, yang banyak disoroti oleh elit kita, bahkan disampaikan oleh Pndji
Pragiwaksono dalam podcastnya bersama Kemal Pahlevi, yaitu mengenai pengetahuan
tentang orde baru dan pengangkatan Kaesang sebagai ketua umum PSI.
Pengetahuan mengenai orde baru tentunya berbeda
bagi setiap individu, dan ini tercermin dalam berbagai pandangan yang beragam.
Misalnya, masih terdapat jargon seperti "Enak jamaku toh.." yang
menunjukkan variasi dalam sikap terhadap orde baru. Bagi sebagian masyarakat
yang tidak aktif dalam politik pada masa orde baru, pemahaman mereka tentang
situasi politik pada masa tersebut mungkin terbatas. Informasi yang mereka
terima bisa berasal dari cerita orang tua atau bahan bacaan yang mereka temui,
yang tentunya bisa sangat beragam tergantung sudut pandang penulisnya.
Perlu dicatat bahwa membandingkan kondisi hari
ini dengan masa orde baru bisa menghasilkan perbedaan yang mencolok. Namun,
kita juga perlu memahami bahwa politik dapat berubah dari waktu ke waktu,
sementara aspek-aspek budaya dan sosial masyarakat seringkali tetap konsisten.
Misalnya, budaya feudal masih sangat kental dalam masyarakat kita, bahkan di
kalangan elit politik. Seringkali hal ini diabaikan oleh kalangan intelektual,
sehingga terdapat kesenjangan antara teori politik Barat yang mereka pelajari
dengan realitas politik kita yang masih sangat terpengaruh oleh budaya lokal.
Dalam sebuah podcast antara Kemal Pahlevi dan
Pandji Pragiwaksono, Pandji mengemukakan pendapatnya bahwa pemilihan Kaesang
sebagai ketua umum PSI tidak mencerminkan demokrasi. Pendapat ini menimbulkan
pertanyaan, apakah ini sesuai dengan makna sebenarnya dari demokrasi. Secara
teoritis, demokrasi mencakup prinsip-prinsip seperti kebebasan berpendapat,
kesetaraan hak dan kewajiban, serta hak yang sama bagi setiap individu untuk
memilih dan dipilih. Namun, apakah ketidakterpilihannya Kaesang sebagai contoh
dari pelanggaran terhadap prinsip-prinsip demokrasi? Seharusnya kita
menafsirkan bahwa pemilihan ini bukanlah soal demokrasi, melainkan kualitas dan
kompetensi dalam lingkup politik. Pandangan yang diutarakan bertentangan dengan
prinsip dasar demokrasi, mengingat tidak menghargainya suara mayoritas anggota
PSI yang memilih Kaesang sebagai ketua umum, terlepas dari alasan-alasannya. Di
Indonesia, kejadian semacam ini mungkin tidaklah aneh karena kultur feudal yang
masih kuat, baik dalam masyarakat umum maupun di dalam partai politik. Oleh
karena itu, penting bagi pendidikan untuk menyampaikan informasi secara jujur
dan utuh, daripada memanipulasi kata-kata untuk memaksakan kehendaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar