Rabu, 28 Februari 2024

Cerita Misteri : Gangguan di rumah lama

 

Minggu pagi adalah saat bagi keluarga kecilku untuk berolahraga. Aku, istri, dan anak lelakiku yang baru berusia empat tahun biasanya melakukan lari pagi menyusuri jalan raya berkeliling kampong. Setelah cukup jauh berjalan, kami selalu mampir untuk sarapan bubur ayam. Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Untuk mempersingkat perjalanan, kami memutuskan untuk memotong jalan melewati pinggir sungai, melalui kebun yang masih sepi. Tidak ada siapa-siapa di kebun itu pada saat itu karena memang masih terlalu pagi. Tiba-tiba, anakku bertanya sambil menunjuk ke arah kebun, "Pa, itu siapa? Lagi ngapain?" Aku dan istriku melihat ke arah yang ditunjuk anakku, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Istriku bergegas mempercepat langkah kakinya dan meninggalkan kami. "Oh, itu orang lagi beresin kebun," kataku dengan santai agar anakku tidak berfikir macam-macam atas apa yang dia lihat. Kami berdua melanjutkan perjalanan dengan santai menyusul istriku yang sudah jauh meninggalkan kami.

Malam itu aku lembur, sehingga pulang larut malam. Istriku tiba lebih dulu di rumah setelah pulang kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, dia menjemput anakku yang dititipkan di rumah orang tuanya yang tidak jauh dari rumah kami, sekitar limapuluh meter saja. Mereka hanya berdua di rumah sementara aku belum pulang. Setelah sholat isya, mereka menonton televisi dengan posisi berdampingan, menyandar ke lemari yang menghadap televisi. Tiba-tiba, anakku bereaksi, "Awas dong, jangan ngalangin, minggir," katanya sambil mengibaskan tangannya seolah-olah ada orang yang menghalanginya di depan televisi. Istriku hanya diam, diliputi rasa takut, namun apa boleh buat, mereka harus menungguku pulang karena aku pulang larut malam. Setibanya aku di rumah, mereka berdua sudah tertidur. Keesokan harinya, istriku menceritakan peristiwa tersebut, namun aku hanya tersenyum sambil berkata, "Gakpapa," mencoba untuk menenangkan hatinya.

Malam itu, hari sudah larut, jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Aku duduk bersila di lantai, terpaku di depan layar televisi sambil menjalani tugas kantor yang masih menumpuk. Adikku, yang masih terjaga, duduk di sampingku, tertarik oleh tayangan yang sama.

Saat suasana mulai hening, tiba-tiba terdengar suara mesin mainan anakku dari ember besar di dapur, di mana mainan anakku biasanya disimpan. Kami saling melemparkan pandangan penuh tanda tanya. "Tikus mungkin, Jak," ucapku kepada adikku, mencoba menenangkan dia sekaligus mengecek asal suara.

Kami berdua bangkit dari tempat duduk dan menuju dapur untuk menyelidiki. Aku menggenggam mainan bajaj yang sebelumnya tiba-tiba aktif, sementara adikku memperhatikan dengan cermat isi ember besar itu, mencari tanda-tanda keberadaan tikus. Khawatir tikus tidak dapat keluar dari ember yang terlalu tinggi, kami berusaha memastikan tidak ada hewan pengerat di sekitar.

Setelah memastikan situasi aman dan menutup lubang-lubang yang berpotensi sebagai jalur masuk tikus, kami kembali ke ruang keluarga dan duduk untuk melanjutkan aktivitas kami. Namun, tanpa disangka, mainan tadi kembali berbunyi meskipun sudah kuhentikan sebelumnya. Aku bingung, memperhatikan lingkungan sekeliling dan mencoba memahami kejadian yang aneh ini.

Tak ada yang bisa kuperhatikan, kecuali mainan yang sepertinya menghidupkan dirinya sendiri. Aneh, pikirku dalam hati, sambil mencoba menenangkan diri. Setelah mematikan mainan kembali, aku menaruhnya ke tempat semula dan berusaha fokus kembali pada pekerjaanku.

Adikku kemudian pamit untuk menginap di tempat rental PS, meninggalkanku sendirian menyelesaikan tugas-tugas yang masih menunggu. Meskipun ada kejadian aneh, aku memilih untuk tidak terlalu terpengaruh. Tanpa insiden lain yang mencolok, akhirnya aku menyelesaikan pekerjaanku dan beristirahat dengan tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar