Minggu pagi adalah saat bagi keluarga kecilku
untuk berolahraga. Aku, istri, dan anak lelakiku yang baru berusia empat tahun
biasanya melakukan lari pagi menyusuri jalan raya berkeliling kampong. Setelah
cukup jauh berjalan, kami selalu mampir untuk sarapan bubur ayam. Waktu
menunjukkan pukul setengah enam pagi, kami memutuskan untuk pulang ke rumah.
Untuk mempersingkat perjalanan, kami memutuskan untuk memotong jalan melewati
pinggir sungai, melalui kebun yang masih sepi. Tidak ada siapa-siapa di kebun
itu pada saat itu karena memang masih terlalu pagi. Tiba-tiba, anakku bertanya
sambil menunjuk ke arah kebun, "Pa, itu siapa? Lagi ngapain?" Aku dan
istriku melihat ke arah yang ditunjuk anakku, namun tidak ada siapa-siapa di
sana. Istriku bergegas mempercepat langkah kakinya dan meninggalkan kami.
"Oh, itu orang lagi beresin kebun," kataku dengan santai agar anakku
tidak berfikir macam-macam atas apa yang dia lihat. Kami berdua melanjutkan
perjalanan dengan santai menyusul istriku yang sudah jauh meninggalkan kami.
Malam itu aku lembur, sehingga pulang larut
malam. Istriku tiba lebih dulu di rumah setelah pulang kerja. Setelah
membersihkan diri dan berganti pakaian, dia menjemput anakku yang dititipkan di
rumah orang tuanya yang tidak jauh dari rumah kami, sekitar limapuluh meter
saja. Mereka hanya berdua di rumah sementara aku belum pulang. Setelah sholat
isya, mereka menonton televisi dengan posisi berdampingan, menyandar ke lemari
yang menghadap televisi. Tiba-tiba, anakku bereaksi, "Awas dong, jangan
ngalangin, minggir," katanya sambil mengibaskan tangannya seolah-olah ada
orang yang menghalanginya di depan televisi. Istriku hanya diam, diliputi rasa
takut, namun apa boleh buat, mereka harus menungguku pulang karena aku pulang
larut malam. Setibanya aku di rumah, mereka berdua sudah tertidur. Keesokan
harinya, istriku menceritakan peristiwa tersebut, namun aku hanya tersenyum
sambil berkata, "Gakpapa," mencoba untuk menenangkan hatinya.
Malam itu, hari sudah larut, jam menunjukkan
pukul setengah sebelas malam. Aku duduk bersila di lantai, terpaku di depan
layar televisi sambil menjalani tugas kantor yang masih menumpuk. Adikku, yang
masih terjaga, duduk di sampingku, tertarik oleh tayangan yang sama.
Saat suasana mulai hening, tiba-tiba terdengar
suara mesin mainan anakku dari ember besar di dapur, di mana mainan anakku
biasanya disimpan. Kami saling melemparkan pandangan penuh tanda tanya.
"Tikus mungkin, Jak," ucapku kepada adikku, mencoba menenangkan dia
sekaligus mengecek asal suara.
Kami berdua bangkit dari tempat duduk dan
menuju dapur untuk menyelidiki. Aku menggenggam mainan bajaj yang sebelumnya
tiba-tiba aktif, sementara adikku memperhatikan dengan cermat isi ember besar
itu, mencari tanda-tanda keberadaan tikus. Khawatir tikus tidak dapat keluar
dari ember yang terlalu tinggi, kami berusaha memastikan tidak ada hewan
pengerat di sekitar.
Setelah memastikan situasi aman dan menutup
lubang-lubang yang berpotensi sebagai jalur masuk tikus, kami kembali ke ruang
keluarga dan duduk untuk melanjutkan aktivitas kami. Namun, tanpa disangka,
mainan tadi kembali berbunyi meskipun sudah kuhentikan sebelumnya. Aku bingung,
memperhatikan lingkungan sekeliling dan mencoba memahami kejadian yang aneh
ini.
Tak ada yang bisa kuperhatikan, kecuali mainan
yang sepertinya menghidupkan dirinya sendiri. Aneh, pikirku dalam hati, sambil
mencoba menenangkan diri. Setelah mematikan mainan kembali, aku menaruhnya ke
tempat semula dan berusaha fokus kembali pada pekerjaanku.
Adikku kemudian pamit untuk menginap di tempat
rental PS, meninggalkanku sendirian menyelesaikan tugas-tugas yang masih
menunggu. Meskipun ada kejadian aneh, aku memilih untuk tidak terlalu
terpengaruh. Tanpa insiden lain yang mencolok, akhirnya aku menyelesaikan
pekerjaanku dan beristirahat dengan tenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar