Catatan Tiongkok mengenai Nusantara (Kepulauan Indonesia) dari berbagai masa memberikan wawasan yang sangat berharga tentang hubungan antara kedua kawasan. Para pelancong dan duta dari Tiongkok mencatat interaksi dagang, budaya, serta politik dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Berikut beberapa catatan penting dari Tiongkok yang memuat informasi mengenai Nusantara:
1. Catatan Ma Huan (Zheng He’s Expedition) - "Yingya Shenglan" (1433)
Ma Huan adalah seorang penerjemah Muslim Tiongkok yang mengikuti ekspedisi Laksamana Cheng Ho (Zheng He) ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, termasuk Nusantara, pada abad ke-15. Dalam Yingya Shenglan, Ma Huan memberikan deskripsi mengenai berbagai kerajaan di Nusantara, seperti:
Majapahit: Ma Huan mencatat kekayaan Majapahit dan menyebutkan bahwa kerajaan ini memiliki sistem pemerintahan yang maju dan kaya akan hasil bumi seperti rempah-rempah dan emas. Ia juga mencatat tentang tata kota, kehidupan masyarakat, dan hubungan perdagangan yang luas antara Majapahit dan Tiongkok.
Samudera Pasai: Ma Huan mencatat adanya hubungan dagang yang erat antara Tiongkok dan Kerajaan Samudera Pasai, kerajaan Islam di Sumatera. Dia menggambarkan Samudera Pasai sebagai pusat perdagangan besar, khususnya dalam hal rempah-rempah, kain sutra, dan perak.
2. Catatan Zhao Rugua - "Zhufan Zhi" (1225)
Zhao Rugua adalah pejabat dinasti Song yang menulis tentang berbagai kerajaan asing dalam Zhufan Zhi ("Deskripsi Negara-Negara Barbar"). Dalam karyanya, Zhao Rugua mencatat keberadaan kerajaan-kerajaan di Nusantara:
Kerajaan Srivijaya: Zhao Rugua menyebut Srivijaya (dikenal dalam catatan Tiongkok sebagai Shih-li-fo-shih) sebagai kerajaan yang kaya raya dan memiliki pelabuhan dagang yang penting. Srivijaya adalah pusat perdagangan maritim di Asia Tenggara dan dikenal sebagai tempat transit untuk perdagangan barang-barang dari India dan Tiongkok.
Jawa: Ia juga mencatat tentang kerajaan-kerajaan di Jawa, terutama dalam konteks perannya sebagai pusat perdagangan rempah-rempah. Zhao Rugua mencatat bahwa orang Jawa sangat ahli dalam perdagangan dan memiliki peradaban yang maju.
3. Catatan dari Dinasti Tang - "Xin Tangshu" (Abad ke-7 hingga ke-10)
Dalam Xin Tangshu (Buku Sejarah Tang Baru), terdapat beberapa catatan tentang hubungan Dinasti Tang dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama kerajaan Srivijaya yang dikenal sebagai Shih-li-fo-shih dalam catatan tersebut:
Srivijaya: Dinasti Tang menjalin hubungan diplomatik dengan Srivijaya, yang menjadi salah satu pusat kekuasaan maritim terbesar di Asia Tenggara pada saat itu. Pada abad ke-7, Raja Sri Jayanasa dari Srivijaya mengirimkan utusan ke istana Tang, mempererat hubungan diplomatik dan perdagangan antara Tiongkok dan Nusantara. Utusan Srivijaya membawa barang-barang seperti gading, cengkeh, dan emas sebagai hadiah.
4. Catatan Dinasti Yuan - "Daoyi Zhilüe" (1349)
Wang Dayuan, seorang pelancong dan pedagang Tiongkok, menulis tentang kunjungannya ke berbagai tempat di Asia Tenggara dalam Daoyi Zhilüe ("Ringkasan Negara-Negara Kepulauan"). Dalam catatan ini, Wang Dayuan menggambarkan keadaan di beberapa kerajaan di Nusantara:
Tumasik (Singapura): Wang Dayuan mencatat tentang keberadaan Tumasik sebagai salah satu pelabuhan yang penting di jalur perdagangan antara India dan Tiongkok. Ia juga mencatat tentang persaingan dan pertempuran antara kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut.
Jawa: Wang Dayuan menyebut bahwa pulau Jawa (Tionghoa: Zhao-wa) memiliki kekayaan alam yang melimpah, termasuk beras, kapas, dan rempah-rempah. Jawa adalah pusat perdagangan yang menarik para pedagang dari berbagai belahan dunia, termasuk Arab dan India.
5. Catatan Dinasti Ming - Catatan Cheng Ho (Abad ke-15)
Laksamana Cheng Ho memimpin beberapa ekspedisi besar ke Nusantara antara 1405 dan 1433. Selama ekspedisinya, ia berlayar ke banyak kerajaan di Nusantara, termasuk Majapahit, Samudera Pasai, dan Palembang (bekas pusat Srivijaya):
Cheng Ho memperkuat hubungan diplomatik antara Dinasti Ming dan kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama dengan kerajaan-kerajaan Muslim seperti Samudera Pasai dan Malaka. Dia juga membawa hadiah dari Tiongkok dan menegosiasikan perjanjian dagang.
6. Catatan I-Tsing (Yi Jing) - Abad ke-7
Seorang biksu Buddha dari Tiongkok bernama I-Tsing melakukan perjalanan melalui Nusantara pada abad ke-7. Ia singgah di Srivijaya (Sumatra) selama beberapa tahun sebelum melanjutkan perjalanannya ke India untuk belajar agama Buddha. Dalam catatannya, ia menyebut Srivijaya sebagai pusat pembelajaran Buddha dan menyarankan biksu-biksu lain untuk belajar di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Catatan-catatan ini memberikan gambaran tentang bagaimana kerajaan-kerajaan di Nusantara dilihat oleh bangsa Tiongkok, terutama dalam hal kekayaan alam, perdagangan, dan hubungan diplomatik. Hubungan antara Tiongkok dan Nusantara telah berlangsung selama berabad-abad dan memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi dan budaya di kedua wilayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar