Rabu, 28 Februari 2024

Cerita Misteri : Gangguan di rumah lama

 

Minggu pagi adalah saat bagi keluarga kecilku untuk berolahraga. Aku, istri, dan anak lelakiku yang baru berusia empat tahun biasanya melakukan lari pagi menyusuri jalan raya berkeliling kampong. Setelah cukup jauh berjalan, kami selalu mampir untuk sarapan bubur ayam. Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Untuk mempersingkat perjalanan, kami memutuskan untuk memotong jalan melewati pinggir sungai, melalui kebun yang masih sepi. Tidak ada siapa-siapa di kebun itu pada saat itu karena memang masih terlalu pagi. Tiba-tiba, anakku bertanya sambil menunjuk ke arah kebun, "Pa, itu siapa? Lagi ngapain?" Aku dan istriku melihat ke arah yang ditunjuk anakku, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Istriku bergegas mempercepat langkah kakinya dan meninggalkan kami. "Oh, itu orang lagi beresin kebun," kataku dengan santai agar anakku tidak berfikir macam-macam atas apa yang dia lihat. Kami berdua melanjutkan perjalanan dengan santai menyusul istriku yang sudah jauh meninggalkan kami.

Malam itu aku lembur, sehingga pulang larut malam. Istriku tiba lebih dulu di rumah setelah pulang kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, dia menjemput anakku yang dititipkan di rumah orang tuanya yang tidak jauh dari rumah kami, sekitar limapuluh meter saja. Mereka hanya berdua di rumah sementara aku belum pulang. Setelah sholat isya, mereka menonton televisi dengan posisi berdampingan, menyandar ke lemari yang menghadap televisi. Tiba-tiba, anakku bereaksi, "Awas dong, jangan ngalangin, minggir," katanya sambil mengibaskan tangannya seolah-olah ada orang yang menghalanginya di depan televisi. Istriku hanya diam, diliputi rasa takut, namun apa boleh buat, mereka harus menungguku pulang karena aku pulang larut malam. Setibanya aku di rumah, mereka berdua sudah tertidur. Keesokan harinya, istriku menceritakan peristiwa tersebut, namun aku hanya tersenyum sambil berkata, "Gakpapa," mencoba untuk menenangkan hatinya.

Malam itu, hari sudah larut, jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Aku duduk bersila di lantai, terpaku di depan layar televisi sambil menjalani tugas kantor yang masih menumpuk. Adikku, yang masih terjaga, duduk di sampingku, tertarik oleh tayangan yang sama.

Saat suasana mulai hening, tiba-tiba terdengar suara mesin mainan anakku dari ember besar di dapur, di mana mainan anakku biasanya disimpan. Kami saling melemparkan pandangan penuh tanda tanya. "Tikus mungkin, Jak," ucapku kepada adikku, mencoba menenangkan dia sekaligus mengecek asal suara.

Kami berdua bangkit dari tempat duduk dan menuju dapur untuk menyelidiki. Aku menggenggam mainan bajaj yang sebelumnya tiba-tiba aktif, sementara adikku memperhatikan dengan cermat isi ember besar itu, mencari tanda-tanda keberadaan tikus. Khawatir tikus tidak dapat keluar dari ember yang terlalu tinggi, kami berusaha memastikan tidak ada hewan pengerat di sekitar.

Setelah memastikan situasi aman dan menutup lubang-lubang yang berpotensi sebagai jalur masuk tikus, kami kembali ke ruang keluarga dan duduk untuk melanjutkan aktivitas kami. Namun, tanpa disangka, mainan tadi kembali berbunyi meskipun sudah kuhentikan sebelumnya. Aku bingung, memperhatikan lingkungan sekeliling dan mencoba memahami kejadian yang aneh ini.

Tak ada yang bisa kuperhatikan, kecuali mainan yang sepertinya menghidupkan dirinya sendiri. Aneh, pikirku dalam hati, sambil mencoba menenangkan diri. Setelah mematikan mainan kembali, aku menaruhnya ke tempat semula dan berusaha fokus kembali pada pekerjaanku.

Adikku kemudian pamit untuk menginap di tempat rental PS, meninggalkanku sendirian menyelesaikan tugas-tugas yang masih menunggu. Meskipun ada kejadian aneh, aku memilih untuk tidak terlalu terpengaruh. Tanpa insiden lain yang mencolok, akhirnya aku menyelesaikan pekerjaanku dan beristirahat dengan tenang.

Kamis, 22 Februari 2024

Cerita Misteri : Pengalaman aneh di tahun 2019

 

Pada tahun 2019, saya mengalami serangkaian peristiwa yang membuat saya merasa bingung dan terganggu. Awalnya, hampir setiap malam saya mendengar suara orang yang tampaknya melompat dari atas tembok ke tempat di belakang samping rumah saya, yang biasanya saya gunakan untuk menjemur pakaian. Rumah kami berbentuk kotak dengan dua kamar tidur yang saling berdekatan secara linier, dengan pintu yang menghadap ke ruang tamu dan ruang keluarga tanpa sekat. Hal ini memungkinkan saya untuk melihat televisi dari ruang tamu yang terletak di balik dinding kamar mandi. Di samping kamar belakang adalah dapur, yang berdekatan dengan kamar mandi dan memiliki pintu keluar di samping rumah. Jendela kamar belakang menghadap ke samping rumah yang sudah ditutup dengan tembok.

Suara-suara ini membuat saya terganggu, terutama karena ketika saya mencoba untuk memeriksanya, tidak ada orang yang terlihat di sana. Meskipun demikian, suara langkah orang di atas atap yang sering terdengar saya abaikan.  Pada suatu waktu saya pernah meminta istri dan anak saya untuk mengintip lewat jendela kamar sementara saya dengan berbekal tongkat satpam meyergap dari pintu dapur.  Saya meminta mereka teriak untuk member tahu posisi maling jika memang ada dan saya tidak bisa melihatnya, karena kondisi yang kurang penerangan.  Dengan sigap saya menyeruak cepat dengan posisi siaga setelah membuka pintu.  Namun tidak ada apa-apa, tidak ada pergerakan atau apapun.  Saya mencoba memperhatikan sekeliling namun tidak menemukan tanda-tanda apapun atau keberadaan orang.  Setelah yakin aman maka saya kembali masuk dan menemukan istri dan anak-anak sedang duduk di sofa ruang televise.  “Heh, gimana tadi? Gak liat sesuatu?” tanyaku ke mereka dengan sedikit heran.  “boro-boro pah, orang tadi mama langsung kabur, jadi kita ikutan kabur kesini..” kata anakku yang besar.  “yah.. pantesan tadi sepi-sepi aja..” jawabku.   “Takut... nanti pas buka gorden tahu-tahunya ada wajah di jendela..” jawab istriku senyum-senyum.. jadi setelah kejadian itu aku mengabaikan jika mendengar suara-suara aneh di belakang atau di atap.

Hari itu sudah agak siang, sekita jam tujuh pagi.  Anak-anak dan istriku sudah berangkat ke sekolah dan kantor.  Aku mengambil handuk dan bersiap mandi, namun badanku rasanya agak aneh.  Tidak biasanya aku merasa kedinginan, padahal biasanya aku mandi jam tiga atau empat pagi dan tidak pernah kedinginan.  “Mungkin badan lagi drop..” kataku dalam hati.  Aku meneruskan mandiku dan... AArrhhh... aku mengerang kesakitan.  Kedua telapak tanganku terasa begitu sakit seperti di tusuk=tusuk jarum saat aku menyiram air ke tubuhku.  Aku coba abaikan dan meneruskan mandi, tapi sakitnya semakin terasa jadi aku memutuskan untuk menyelsaikan mandiku tanpa sabunan.

Hari berikutnya pun sama.  Sabtu dan minggu, setiap aku mandi aku berteriak menahan rasa sakit setiap kali mandi, sehingga istriku menanyakannya.  Aku juga tidak mengerti kenapa kedua telapak tanganku terasa sakit setiap kali mandi.  Tapi secara fisik aku merasa baik-baik saja.  Dan seninnya badanku demam dan jatuh sakit.  Yang kurasakan seperti sakit gejala typus yang pernah kualami dulu.  Jadi aku memutuskan untuk tidak ke dokter, tapi menitip ke istriku untuk membelikan obat untuk gejala typus.  Dan sakit itu berjalan selama dua minggu.  Namun di hari sabtu dan minggu badanku terasa enak dan sehat, nanti seninnya sakit lagi.  Di minggu kedualah aku merasa benar-benar sehat.

Namun pada seninya aku kembali sakit.  Kali ini perutku terasa sakit sekali sehingga aku tidak bangun dari tempat tidur.  Kali ini aku tidak tahu sakitnya apa karena aku belum pernah merasakan sakit seperti ini.  Aku pernah sakit maag, asam lambung dank ram usus.  Namun sakit kali ini beda dengan sakit-sakait sebelumnya itu.  Tapi aku tetap mengkonsumsi obat lambung dan menggunakan obat-obatan herbal juga untuk pengobatan.  Dan seperti biasa di hari sabtu sakitnya hilang, badanku sudah sehat kembali walau berat badanku mulai berkurang , karena selama aku sakit makanan sulit untuk masuk.  Sehingga aku minta di sediakan kurma untuk menjaga metabolisme agar tetap sehat walau hanya makan tiga butir setiap jam makan.  Di minggu kedua sakit lambung ini aku coba minum jamu kunyit untuk mengobati lambungku, tapi bukannya berkurang sakitnya malah semakin menjadi-jadi tidak ada jedanya.  Untungnya setelah dua minggu lambungku mulai enakkan tidak sakit lagi.  Dan itu terjadi di hari sabtunya.

Sabtu, minggu berlalu aku merasa sudah cukup sehat karena aku juga sudah bisa makan normal.  Perutku tidak lagi sakit dan mual, begitu juga saat aku makan.    Aku punya kebiasaan bangun di malam hari untuk buang air kecil.  Itu biasa terjadi antara jam satu sampai dengan jam tiga pagi.  Begitu juga senin itu.  Malam itu aku terbangun, kebetulan aku tidur sendirian di kamar depan, istriku tidur bersama dengan anak-anak di kamar belakang.  Saat aku bangun telapak kakiku terasa sakit sekali.  Setiap kali aku bangun berdiri, telapak dan punggung kaki kananku sakit sehingga aku terjatuh lagi karena tidak bisa menahan rasa sakitnya.  Karena sudah kebelet aku berusaha untuk bangun dengan sedikit mengerang untuk menambah tenaga.  Namun sia-sia bukannya berhasil malah suaraku membangunkan istriku dan menghampiriku.  “Kenapa pa?” Tanya istriku.  “ Gak tahu nih, kaki sakit banget..” kataku sambil memegang kaki kananku dan mengelus posisi yang sakit.  Istriku mengambil minyak gosok dan kakiku.  “arrgghh.. sakit.” Kataku.  “Cuma di oles koq, gak di teken..” kata istriku.    Iya, tapi sakit banget..” kataku.  Akhirnya aku sendiri yang mengoleskannya.  Dan dengan rasa sakit yang masih terasa aku merangkak ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Sebenarnya aku agak bingun dengan sakitku kali ini.  Karena rasanya sakit sekali, aku coba berfikir apa ini karena tidak mungkin asam urat karena pisisinya bukan di persendian. Dan selama ini juga aku belum pernah bermasalah dengan asam urat, kolesterol ataupun gula darah.  Sebelumnya aku rutin memeriksa darahku dan hasilnya selalu normal.  Kalaupun karena makanan rasanya aneh, karena sudah beberapa waktu makanku hanya kurma, baru dua hari ini aku bisa makan normal.  Walaupun agak bingung tapi aku anggap saja aku asam urat jadi aku kembali makan kurma dan minum air putih seperti sebelumnya.  Dan di hari sabtu sakitnya hilang, aku kembali beraktifitas normal.  Dan senin atau selasa sakitnya kembali datang.  Setelah sakit yang pertama selesai setelah beberapa waktu, aku lupa waktunya tapi setiap hari sabtu dan minggu sakitnya pasti hilang dan sembuh.

Berikutnya sakitnya berpindah-pindah, setelah di telapak dan punggung kaki kanan sembuh, berikutnya pindah di bawah pegelangan jempol kaki sebelah kiri.  Sakitnya sma seperti kecengklak.  Rasa sakitnya sama seperti waktu aku main bola tanpa sepatu dan jempolnya ketarik.  Aku mulai curiga dengan sakitku, karena ini tidak normal menurutku.  Selain sakitnya berpindah-pindah, aku juga tidak kemana-mana dan tidak ngapa-ngapain jadi tidak mungkin kakiku terkilir.  Kali ini aku biarkan saja sakitnya.  Kutahan rasa sakit sambil melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.  Dan benar saja setelah sakit di bawah pergelangan jempol kaki selesai pindah ke sebelahnya, di bawah pergelangan telunjuk kaki, setelah itu selesai pindah lagi sebelahnya.. begitu terus setelah sampi ke kelingking, berikutnya semua bagian itu sakit.  Kali aku coba mencerna apa yang terjadi.  Termasuk coba untuk merukyah diri sendiri setiap saat. 

Aku coba mencari tahu apakah aku pernah menyakiti seseorang akhir-akhir ini? Masalahnya aku jarang sekali keluar rumah dan berinteraksi dengan orang-orang setelah resign.  Waktuku lebih banyak kuhabiskan di rumah bersama keluarga.  Jadi aku tidak bisa menemukan apa yang bisa membuat orang ingin melakukan hal-hal seperti ini kepadaku.  Karena tidak mendapatkan jawaban jadi mengabaikannya tapi sakitnya terus berpindah hingga ke lutut kiriku.  Kali ini rasanya seperti dengkul kita baru saja menabrak mobil saat kita di bonceng motor.  Saya pernah merasakan itu ketika di bonceng teman sekitar belasan tahun yang lalu.  Tapi kali ini rasanya jauh lebih sakit yang membuat aku tidak bisa menggerakkan kakiku.  Jadi kaki kirikku tidak bisa di tekuk jika sudah lurus dan begitu juga sebaliknya.  Rasanya sakit sekali.

Karena sudah terlalu lama sakit yang ku derita, istriku berinisiatif untuk memanggil tukang urut yang kebetulan masih tetangga.  Awalnya aku menolak, tapi karena setelah istriku berangkat kerja ternyata tukang urutnya dating jadi mau tidak mau aku di urut.  Dan jadilah kedua kakiku di urut.  Malamnya setelah di urut kedua kakiku benar-benar sakit tidak karuan.  Bahkan kali ini aku benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan sakitnya benar-benar tanpa jeda.  Bukan nyut-nyutan sakitnya tapi terus menerus dan luar biasa. Selama beberapa hari aku merasakan sakit ini dan sudah tidak bisa bangun lagi sehingga untuk makan dan minum di taroh di samping tempat tidurku, dan begitu juga untuk buang air kecil.  Aku minta di sediakan botol mineral kosong ukuran satu liter.  Kadang-kadang aku memaksa ke kamar mandi dengan menggunakan skateboard anakku untuk ke kamar mandi.

Sakit ini berlangsung beberapa minggu, hingga rekan-rekan kerja istriku datang untuk menjengukku namun tidak ada perubahan sakitnya.  Sementara adikku beberapakali datang untuk menemaniku selagi aku sendiri di siang hari.  Hingga pada akhirnya keluarga istriku mengetahui kondisi sakitku dan memaksaku untuk berobat ke dokter.  Dengan di gotong aku di bawa ke klinik untuk di periksa.  Namun hasil pemeriksaan klinik menunjukkan kondisiku baik-baik saja.  Hasil laboratorium pemeriksaan darah menunjukkan kondisiku sehat dan normal.  Karena kondisiku yang parah tidak bisa jalan, bahkan tidak bisa berdiri kami meminta surat rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut.  Seharian saya di rumah sakit menunggu hasil lab yang lebih lengkap.  Sementara aku menunggu dengan infusan yang berisi obat pereda nyeri dan cairan.  Dan setelah menunggu seharian, di waktu maghrib hasil lab keluar, dan hasilnya...... Normal.... Sehat... tidak ada penyakit apapun.  Kolesterol, asam urat, gula darah dll entah apa itu karena terlalu banyak.. semuanya menunjukkan kondisi yang sehat.  Begitulah karena tidak ada penyakitnya maka akupun di pulangkan dengan di berikan obat pereda nyeri  selama ada obat pereda nyeri itu aku berusaha melatih kakiku untuk bisa berdiri dan berjalan.  Dan akhirnya berhasil  setelah obat pereda nyerinya habis aku sudah bisa berjalan lagi, walau masih sempoyongan dan tidak normal..  dan saat menonton berita di tv, ada berita tentang Corona yang melanda China.

Senin, 19 Februari 2024

Catatan untuk Pandji Pragiwaksono

 

Hasil pemilu 2024, sebagaimana pemilu-pemilu sebelumnya, terus menjadi sasaran permasalahan oleh pihak yang kalah, dengan isu-isu yang diangkat pun tetap konsisten. Namun, ada aspek menarik yang patut dibahas, yang banyak disoroti oleh elit kita, bahkan disampaikan oleh Pndji Pragiwaksono dalam podcastnya bersama Kemal Pahlevi, yaitu mengenai pengetahuan tentang orde baru dan pengangkatan Kaesang sebagai ketua umum PSI.

Pengetahuan mengenai orde baru tentunya berbeda bagi setiap individu, dan ini tercermin dalam berbagai pandangan yang beragam. Misalnya, masih terdapat jargon seperti "Enak jamaku toh.." yang menunjukkan variasi dalam sikap terhadap orde baru. Bagi sebagian masyarakat yang tidak aktif dalam politik pada masa orde baru, pemahaman mereka tentang situasi politik pada masa tersebut mungkin terbatas. Informasi yang mereka terima bisa berasal dari cerita orang tua atau bahan bacaan yang mereka temui, yang tentunya bisa sangat beragam tergantung sudut pandang penulisnya.

Perlu dicatat bahwa membandingkan kondisi hari ini dengan masa orde baru bisa menghasilkan perbedaan yang mencolok. Namun, kita juga perlu memahami bahwa politik dapat berubah dari waktu ke waktu, sementara aspek-aspek budaya dan sosial masyarakat seringkali tetap konsisten. Misalnya, budaya feudal masih sangat kental dalam masyarakat kita, bahkan di kalangan elit politik. Seringkali hal ini diabaikan oleh kalangan intelektual, sehingga terdapat kesenjangan antara teori politik Barat yang mereka pelajari dengan realitas politik kita yang masih sangat terpengaruh oleh budaya lokal.

Dalam sebuah podcast antara Kemal Pahlevi dan Pandji Pragiwaksono, Pandji mengemukakan pendapatnya bahwa pemilihan Kaesang sebagai ketua umum PSI tidak mencerminkan demokrasi. Pendapat ini menimbulkan pertanyaan, apakah ini sesuai dengan makna sebenarnya dari demokrasi. Secara teoritis, demokrasi mencakup prinsip-prinsip seperti kebebasan berpendapat, kesetaraan hak dan kewajiban, serta hak yang sama bagi setiap individu untuk memilih dan dipilih. Namun, apakah ketidakterpilihannya Kaesang sebagai contoh dari pelanggaran terhadap prinsip-prinsip demokrasi? Seharusnya kita menafsirkan bahwa pemilihan ini bukanlah soal demokrasi, melainkan kualitas dan kompetensi dalam lingkup politik. Pandangan yang diutarakan bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi, mengingat tidak menghargainya suara mayoritas anggota PSI yang memilih Kaesang sebagai ketua umum, terlepas dari alasan-alasannya. Di Indonesia, kejadian semacam ini mungkin tidaklah aneh karena kultur feudal yang masih kuat, baik dalam masyarakat umum maupun di dalam partai politik. Oleh karena itu, penting bagi pendidikan untuk menyampaikan informasi secara jujur dan utuh, daripada memanipulasi kata-kata untuk memaksakan kehendaknya.

Minggu, 18 Februari 2024

Memahami Kontroversi: Tinjauan Terhadap Tuduhan Kecurangan dan Pelanggaran Etik dalam Pemilu 2024 2

 

Setelah proses pemilihan berlangsung, data quick count menjadi sorotan utama, dengan pihak yang kalah dalam quick count mulai menyebarkan narasi untuk mendiskreditkan penyelenggaraan pemilu. Narasi tersebut, tidak berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, mencakup tuduhan kecurangan standar yang terkesan bodoh, seperti surat suara yang sudah tercoblos sebelum digunakan, serta ketidaksesuaian data real count KPU dengan formulir C1 yang diunggah ke sistem.

Pertama, terkait surat suara yang sudah tercoblos sebelum digunakan, jika ada upaya kecurangan semacam ini, dianggap bodoh karena KPU telah mengantisipasinya dengan pemeriksaan oleh KPPS serta disaksikan oleh saksi-saksi dan masyarakat. Kemungkinan lainnya adalah hal ini merupayakan upaya upaya untuk mendiskreditkan KPU sebagai penyelenggara pemilu.

Kedua, ketidaksesuaian antara formulir C1 dalam sistem KPU dengan rekapan dalam sistem tersebut, jika dianggap sebagai bukti kecurangan, terkesan aneh karena KPU memungkinkan akses terbuka ke formulir C1 untuk memungkinkan deteksi kesalahan. Namun, ini juga menjadi kritik terhadap KPU terkait pengembangan sistemnya, yang seharusnya diperbaiki dan disempurnakan. Dengan besarnya anggaran yang di gunakan sudah seharusnya hal-hal seperti ini tidak terjadi.  Harus ada peningkatan dalam penggunaan teknologi jika memang di rasa perlu gunakan tenaga-tenaga professional untuk membuat sistem yang baik dan mumpuni.

Ketiga, pernyataan elit politik bahwa quick count itu bohong menunjukkan ketidakpedulian terhadap rakyat. Hal ini juga mencerminkan upaya memanfaatkan kurangnya literasi dan pengetahuan masyarakat daripada memberikan pendidikan untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk membuat perkiraan berdasarkan sistem sampling.

Sementara, perlu dicatat bahwa kritik yang konstruktif dan upaya untuk memperbaiki sistem pemilihan serta meningkatkan literasi politik masyarakat merupakan langkah penting dalam memperkuat demokrasi dan kepercayaan publik terhadap institusi pemilu.

Jumat, 16 Februari 2024

Memahami Kontroversi: Tinjauan Terhadap Tuduhan Kecurangan dan Pelanggaran Etik dalam Pemilu 2024

 

Isu-isu yang berkembang terkait tuduhan kecurangan dalam Pemilu 2024 telah menjadi perhatian utama, mirip dengan tuduhan yang terjadi pada pemilu sebelumnya. Tuduhan kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan massif (TSM) kerap kali dihembuskan, seperti yang dilakukan oleh pihak Prabowo Subianto setelah kalah dalam pemilu 2014 dan 2019. Kali ini, isu-isu tersebut juga diusung oleh pihak yang kalah dalam pemilu, terutama dari PDIP dan PKS.

Isu-isu tersebut terus dikampanyekan secara massif oleh para elit, meliputi kontroversi seputar film dokumenter Dirty Vote, masalah kode etik terkait keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), distribusi bantuan sosial (Bansos), dan penggantian pejabat sementara di daerah-daerah yang kepala daerahnya telah berakhir masa baktinya dan posisi tersebut kosong sementara karena adanya pilkada serentak pada tahun 2024.

Salah satu isu yang dipertanyakan adalah pelanggaran etik oleh Mahkamah Konstitusi, yang dianggap sebagai bagian dari rencana besar untuk menjadikan Gibran Rakabumingraka sebagai Wakil Presiden. Berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK), terungkap bahwa beberapa hakim MK melakukan pelanggaran etik dalam sebuah Judicial Review (JC) yang diajukan oleh... mengenai... Hasil keputusan siding MKMK nomor 5/MKMK/L/11/2023 menyatakan bahwa beberapa hakim MK melakukan pelanggaran etik berat, termasuk Ketua MK Anwar Usman yang dipecat dari jabatannya. Namun, menurut keterangan dari Jimly Ashidiqie, anggota MKMK yang menyelidiki kasus ini dalam beberapa podcast, kode etik yang dilanggar bersifat administratif dan bukan politis. Tidak ada indikasi campur tangan Presiden Jokowi dalam masalah ini. Untuk informasi lebih lanjut, keputusan tersebut dapat diakses melalui situs web mkri.id.

Dengan melakukan kajian tanpa tendensi apapun terhadap setiap isu ini, diharapkan kita dapat memahami dengan lebih jelas dinamika politik yang terjadi dan mengambil sikap yang obyektif dan bertanggung jawab.

Jika isu ini bukan hanya alat untuk mendiskreditkan seseorang, maka kita akan menunggu tindakan dari para pihak untuk menggugat kembali keputusan MK ini melalui Judicial Review atau membuat undang-undang baru yang kembali membatasi usia calon presiden dan wakil presiden. Jika tidak, maka pada dasarnya Judicial Review ini mereka akui, dan mungkin akan menguntungkan banyak pihak di masa depan. Hanya saja, kebetulan saat ini Gibran yang mendapat keuntungan dari keputusan MK ini, dan kebetulan pula bahwa beliau adalah anak dari presiden yang berkuasa saat ini sehingga di jadikan bulan-bulanan untuk mendiskreditkan beliau.

Lanskap Politik Pasca Pemilu 2024: Analisis Prospek dan Dinamika Partai

 

Pemilu Presiden dan Legislatif tahun 2024 baru saja berakhir, dan dengan menghormati proses yang dilakukan oleh KPU, kita dapat mencoba menganalisis lanskap politik Indonesia untuk lima tahun ke depan. Berdasarkan hasil Quick Count dari beberapa lembaga survei, pasangan Capres nomor urut 02, yakni Prabowo Subianto - Gibran Rakabumingraka, berhasil memperoleh dukungan tertinggi dengan kisaran antara 55-59 persen suara. Sementara itu, pasangan Anies Baswedan - Muhaimin Iskanda mendapatkan dukungan suara antara 23-25 persen, dan pasangan Ganjar Pranowo - Mahfud MD mendapatkan kisaran suara sebesar 16-17 persen.

Hasil perhitungan Quick Count juga menunjukkan bahwa PDIP, Golkar, dan Gerindra memperoleh suara tertinggi, dengan PDIP menduduki posisi teratas diikuti oleh Golkar dan Gerindra. Namun, terdapat anomali karena meskipun Prabowo Subianto didukung oleh Gerindra, partai tersebut tidak berhasil menjadi pemenang dalam Pileg kali ini. Di sisi lain, PDIP yang mengusung Ganjar Pranowo, meskipun mengalami penurunan suara, masih mampu memenangkan pemilu, meskipun dengan suara yang menurun secara signifikan.

Melihat situasi ini, ada kemungkinan bahwa PDIP akan berada dalam posisi oposisi terhadap pemerintahan selanjutnya. Narasi yang disampaikan oleh elit PDIP mulai menunjukkan pola komunikasi yang mirip dengan periode 2004-2009, ketika partai tersebut menjadi oposisi terhadap pemerintahan SBY. Posisi ini selama sepuluh tahun terakhir diambil alih oleh PKS. Ini menarik karena PKS, yang mendukung Anies Baswedan, juga kalah dalam pemilu. Teknik komunikasi yang kembali digunakan oleh PDIP, sementara PKS masih menggunakan pendekatan yang sama selama sepuluh tahun terakhir.

Secara politik dan komunikasi politik, kedua partai ini menggunakan pola yang sama namun memiliki ideologi yang berbeda. PDIP dianggap sebagai partai kiri, sementara PKS diidentifikasi sebagai partai kanan. Meskipun demikian, dalam beberapa kesempatan, Prabowo Subianto berupaya untuk merangkul semua partai untuk bersama-sama dalam pemerintahan.

Dengan karakteristik ketua umum partai-partai yang ada saat ini, terlihat bahwa kemungkinan partai yang akan menjadi oposisi adalah PDIP, mengingat pola komunikasi dan narasi yang mereka tunjukkan, yang menyerupai periode oposisi pada tahun 2004-2009. Namun, untuk PKS masih menjadi pertanyaan karena masih belum jelas apakah mereka akan bersinergi dengan PDIP sebagai oposisi.

Sementara itu, partai-partai lain seperti PPP dan Nasdem kemungkinan besar akan bergabung dengan pemenang pemilu, mengingat dukungan dan peran yang mereka miliki selama kampanye. Hal ini menunjukkan bahwa lanskap politik pasca pemilu tidak hanya mencerminkan persaingan antarpartai, tetapi juga kerjasama dan strategi untuk mencapai tujuan politik masing-masing.

Minggu, 11 Februari 2024

Politik Dinasti dan Demokrasi di Indonesia

 Politik Dinasti di Indonesia selalu menjadi isu yang sering di henbuskan dalam ranah politik di negeri ini. Fenomena di mana anggota keluarga pejabat publik atau anggota partai sering kali mengikuti jejak orang tua atau kerabat dekat mereka dalam dunia politik telah menjadi topik hangat dalam diskusi politik. Hal ini seringkali menimbulkan perdebatan mengenai kemungkinan adanya pemberian hak istimewa atau kesempatan yang tidak adil bagi mereka yang memiliki hubungan keluarga dengan pejabat publik yang berkuasa.

Adanya kecenderungan politik dinasti tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga umum ditemui di banyak negara demokratis lainnya, termasuk Amerika Serikat. Contohnya, keluarga Kennedy, Clinton, dan Bush yang memiliki anggota keluarga yang aktif dalam dunia politik, baik di tingkat lokal maupun nasional. Namun, di negara-negara tersebut, penerimaan masyarakat terhadap fenomena ini cenderung berbeda. Beberapa melihatnya sebagai bentuk kesinambungan dalam pelayanan publik yang diwarisi dari keluarga, sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk nepotisme atau kesempatan yang tidak adil.

Di Indonesia, terutama saat ini, perdebatan tentang politik dinasti seringkali terfokus pada keluarga Presiden Jokowi. Meskipun banyak anggota keluarga Jokowi yang terlibat dalam politik, baik di tingkat lokal maupun nasional, penting untuk dicatat bahwa mereka juga harus melewati proses yang sama dengan kandidat lain dalam mendapatkan posisi politik mereka. Namun demikian, keberadaan orang tua yang berada dalam posisi berpengaruh tentu memberikan pengaruh dan akses yang lebih besar dalam dunia politik.

Selain itu, perlunya mempertanyakan sistem politik yang ada menjadi hal yang sangat penting. Sistem politik yang transparan, akuntabel, dan merata dalam memberikan kesempatan bagi semua warga negara adalah kunci untuk mengatasi masalah politik dinasti. Pendidikan politik yang baik juga perlu ditingkatkan agar masyarakat dapat memahami pentingnya memilih pemimpin berdasarkan kualifikasi dan visi, bukan hanya karena hubungan keluarga atau kekuatan politik tertentu.

Integritas dan independensi lembaga-lembaga pengawas, seperti lembaga legislatif, juga harus diperkuat untuk memastikan bahwa tidak ada penyalahgunaan kekuasaan atau fasilitas negara yang terjadi dalam proses politik. Konflik kepentingan dan praktik-praktik korupsi harus ditekan dengan keras agar proses politik berjalan secara adil dan demokratis.

Mengakhiri praktik politik dinasti bukanlah tugas yang mudah, tetapi dengan komitmen untuk memperbaiki sistem politik yang ada, serta meningkatkan kesadaran politik masyarakat, kita dapat menuju ke arah yang lebih baik dalam memperkuat demokrasi dan keadilan politik di Indonesia.

Jumat, 09 Februari 2024

IKN, untuk kepentingan siapa?

 Pembangunan Ibukota Nusantara (IKN) dan rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur merupakan inisiatif besar yang telah menimbulkan berbagai kritik. Namun, beberapa kritik yang sering dilontarkan ternyata didasari oleh mispersepsi yang perlu diperjelas. Mari kita telaah lebih dalam.

1. Pembangunan IKN Hanya untuk Kepentingan Aparat, Bukan untuk Pemerataan Pembangunan dan Ekonomi

Faktanya, pembangunan IKN adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong pemerataan pembangunan dan ekonomi di seluruh Indonesia. Dengan memindahkan aparat pemerintahan pusat ke IKN, maka  aktivitas ekonomi di sana akan meningkat secara signifikan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa kehadiran aparat pemerintahan pusat dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan demikian, pembangunan IKN bukan hanya untuk kepentingan aparat, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di daerah-daerah di luar Jawa, utamanya di wilayah timur Indonesia.

2. Pemindahan Ibu Kota Hanya untuk Menghindari Masalah yang Ada di Jakarta Saat Ini

Salah kaprah untuk menganggap bahwa pemindahan ibu kota adalah upaya untuk menghindari masalah di Jakarta. Sebaliknya, ini adalah langkah strategis untuk mengatasi masalah-masalah yang telah lama menghantui ibu kota, seperti kemacetan, banjir, dan overcapacity.

Sebagai tambahan, pemindahan ibu kota tidak akan mengurangi tanggung jawab Gubernur Jakarta dalam menangani masalah di ibu kota. Sebaliknya, ini akan memungkinkan pemerintah pusat dan daerah untuk bekerja sama dalam menangani masalah infrastruktur dan lingkungan yang kompleks di Jakarta. 

Pemindahan ibu kota bukan hanya tentang mengurangi beban Jakarta, tetapi juga tentang memperkuat daerah-daerah lain di Indonesia. Dengan mengalihkan pusat administrasi negara ke Kalimantan Timur, ini akan membantu mengurangi ketimpangan antara Jakarta dan daerah-daerah lainnya.

Sebagai tambahan, ini akan mengurangi ketergantungan Jakarta pada pemerintah pusat, sehingga tidak akan ada kesenjangan perlakuan dari pemerintah pusat terhadap Jakarta dibandingkan dengan daerah lainnya.

Penutup: Meluruskan Persepsi

Melalui penjelasan ini, diharapkan masyarakat dapat melihat bahwa kritik terhadap rencana pembangunan IKN dan pemindahan ibu kota seringkali didasari oleh pemahaman yang kurang tepat. Pembangunan ini bukan hanya tentang kepentingan aparat atau untuk menghindari masalah, tetapi merupakan langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan memperkuat seluruh Indonesia.

Rabu, 07 Februari 2024

KULTUR FEODAL DI INDONESIA

 

Definisi dan makna feodalisme dapat bervariasi tergantung pada konteks sejarah, sosial, dan politiknya. Secara umum, feodalisme merujuk pada sistem sosial, politik, dan ekonomi yang berkembang di Eropa Barat pada Abad Pertengahan (sekitar abad ke-9 hingga ke-15), meskipun konsep ini juga dapat diterapkan pada beberapa masyarakat di luar Eropa. Berikut adalah makna dan definisi feodalisme yang umum:

 

Definisi Feodalisme:

·         Sistem Hierarki:

Feodalisme adalah sistem hierarki di mana kekuasaan dan sumber daya terpusat di tangan seorang penguasa atau kelompok kecil elite. Kepemilikan tanah adalah salah satu faktor utama dalam menentukan struktur kekuasaan dan status sosial.

 

·         Hubungan Feodal:

Feodalisme melibatkan hubungan feodal antara penguasa (biasanya seorang bangsawan atau raja) dan vassal (biasanya seorang bangsawan kecil atau ksatria). Penguasa memberikan tanah dan perlindungan kepada vassal dalam pertukaran atas pengabdiannya dan setia.

 

·         Pertukaran Loyalitas:

Salah satu karakteristik utama feodalisme adalah sistem pertukaran loyalitas. Penguasa memberikan perlindungan dan tanah kepada vassal, dan vassal mengabdi kepada penguasa, memberikan loyalitas, dan memberikan bantuan militer atau jasa lainnya sesuai kebutuhan.

 

·         Ketergantungan Sosial:

Feodalisme menciptakan ketergantungan sosial yang kompleks antara penguasa dan vassal, serta antara vassal dan petani atau pekerja lainnya. Kekuasaan dan otoritas berpusat di tangan elit, sementara masyarakat biasa mengalami keterbatasan dalam mobilitas sosial dan hak-hak politik.

 

Makna Feodalisme:

·         Sistem Sosial dan Ekonomi:

Feodalisme adalah sistem sosial dan ekonomi yang melibatkan hubungan hierarkis yang kuat antara penguasa dan subjeknya, dengan tanah sebagai basis utama kekuasaan dan pertukaran ekonomi.

 

·         Ketergantungan dan Perlindungan:

Feodalisme menciptakan hubungan ketergantungan dan perlindungan di antara kelas-kelas sosial yang berbeda, dengan penguasa memberikan perlindungan dan tanah kepada vassal dalam pertukaran atas jasa dan loyalitas mereka.

 

·         Warisan Sejarah:

Feodalisme adalah bagian integral dari sejarah Eropa pada Abad Pertengahan dan merupakan landasan bagi struktur sosial, politik, dan ekonomi di masa tersebut. Meskipun tidak lagi ada dalam bentuk aslinya, warisan feodalisme masih dapat ditemukan dalam beberapa aspek masyarakat modern.

 

Dengan demikian, feodalisme merupakan sistem yang kompleks dengan implikasi yang luas dalam pembentukan struktur sosial dan politik di masa lalu, meskipun keberadaannya tidak lagi signifikan dalam masyarakat modern.

 

Kultur Feodal di Masyarakat saat ini

 

Memahami bahwa Indonesia memiliki karakteristik feodal yang masih tercermin dalam struktur masyarakat saat ini adalah penting dalam menggali dinamika sosial dan politik negara tersebut. Berikut adalah beberapa karakteristik masyarakat Indonesia yang masih mencerminkan unsur-unsur feodalisme:

 

1. Struktur Sosial Hierarkis:

Indonesia masih memiliki struktur sosial yang relatif hierarkis, di mana kedudukan dan status seseorang sering kali ditentukan oleh faktor-faktor seperti kekayaan, keturunan, dan kedudukan sosial keluarga. Kelompok elite, termasuk politisi, bisnis, dan keluarga bangsawan, cenderung memiliki akses yang lebih besar terhadap sumber daya dan kekuasaan.

 

2. Ketergantungan pada Kepemimpinan Otoriter:

Ketergantungan pada pemimpin yang otoriter atau berkuasa masih cukup kuat dalam masyarakat Indonesia. Budaya patron-client, di mana individu atau kelompok bergantung pada figur otoriter untuk perlindungan atau keberhasilan, adalah contoh klasik dari sisa-sisa feodalisme.

 

3. Kebijakan Nepotisme dan Klientelisme:

Praktik nepotisme, di mana posisi atau kesempatan didapatkan melalui hubungan keluarga atau personal, dan klientelisme, di mana pengaruh politik didapatkan melalui jaringan pribadi atau patron, masih umum terjadi di Indonesia. Hal ini mencerminkan hubungan feodal antara penguasa dan vassal, di mana loyalitas dan perlindungan diberikan dalam pertukaran atas keuntungan pribadi.

 

4. Pembagian Sosial yang Ketat:

Terdapat pembagian yang ketat antara kelas sosial di Indonesia, dengan kesenjangan ekonomi dan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja yang besar antara yang kaya dan yang miskin. Hal ini mencerminkan struktur sosial feodal di mana kekayaan dan kekuasaan terpusat pada segelintir elite.

 

5. Pemertahanan Tradisi dan Adat Istiadat:

Masyarakat Indonesia seringkali masih menghormati tradisi dan adat istiadat secara mendalam, yang mencerminkan warisan feodalisme di mana norma-norma sosial dan budaya dihormati dan dijunjung tinggi.

 

6. Ketidaksetaraan Gender:

Ketidaksetaraan gender masih menjadi masalah serius di Indonesia, dengan wanita seringkali mengalami diskriminasi dalam hal akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan keputusan politik. Ini sejalan dengan pola feodalisme di mana posisi wanita sering kali lebih rendah dari pada pria dalam hierarki sosial.

 

Dengan memahami karakteristik ini, kita dapat melihat bagaimana sisa-sisa feodalisme masih terkandung dalam struktur dan pola perilaku masyarakat Indonesia saat ini. Upaya untuk mengatasi masalah ini melibatkan transformasi sosial, politik, dan budaya yang berkelanjutan untuk mencapai kesetaraan, keadilan, dan kesejahteraan yang lebih besar bagi semua warga negara.

 

Feodalisme dalam partai politik

 

Kultur feodal yang masih terdapat dalam partai politik Indonesia merupakan fenomena yang menarik dan sering kali menjadi contoh nyata bagaimana sisa-sisa feodalisme dapat bertahan dalam institusi yang seharusnya mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana kultur feodal masih tercermin dalam partai politik di Indonesia:

 

1. Pemilihan Kepemimpinan Berdasarkan Keturunan atau Trah Tertentu:

Dalam beberapa partai politik di Indonesia, proses pemilihan ketua partai atau tokoh penting lainnya masih seringkali berdasarkan pada faktor keturunan atau garis keturunan tertentu. Hal ini mencerminkan praktik feodalisme di mana kekuasaan dan otoritas diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga atau golongan tertentu.

 

2. Ketergantungan pada Pemimpin Otoriter:

Banyak partai politik masih memiliki struktur kepemimpinan yang sangat otoriter, di mana keputusan dan arahan diberikan oleh satu atau beberapa tokoh penting, sementara anggota partai lainnya cenderung tunduk pada otoritas mereka. Hal ini mencerminkan ketergantungan pada pemimpin yang merupakan ciri khas feodalisme.

 

3. Praktik Nepotisme dan Klientelisme:

Dalam proses rekrutmen kader atau penunjukan posisi penting dalam partai politik, seringkali terjadi praktik nepotisme dan klientelisme di mana kepentingan pribadi atau keluarga menjadi prioritas, daripada kualifikasi atau kinerja yang seharusnya menjadi pertimbangan utama. Hal ini mirip dengan hubungan feodal antara penguasa dan vassal di mana perlindungan dan keuntungan diberikan dalam pertukaran atas kesetiaan dan jasa.

 

4. Pembatasan Akses dan Mobilitas Politik:

Beberapa partai politik juga menerapkan pembatasan akses atau mobilitas politik bagi individu yang tidak memiliki hubungan atau afiliasi dengan kelompok tertentu. Hal ini menciptakan hambatan bagi partisipasi politik yang inklusif dan adil, yang seharusnya menjadi prinsip utama dalam sistem demokrasi.

 

5. Pembentukan Aliansi Berdasarkan Keturunan atau Afinitas Lainnya:

Dalam proses pembentukan koalisi atau aliansi politik, seringkali faktor-faktor keturunan atau afinitas pribadi lebih dipertimbangkan daripada agenda politik atau ideologi. Hal ini mencerminkan prinsip feodalisme di mana hubungan personal atau keluarga diutamakan di atas kepentingan umum.

 

Dengan menyadari adanya kultur feodal dalam partai politik, penting bagi masyarakat untuk mendorong transparansi, akuntabilitas, dan reformasi internal dalam partai politik untuk memastikan bahwa mereka sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang seharusnya mereka wakili.