Senin, 08 Mei 2023

SEJARAH DAN ASAL USUL NAMA KOTA BATAVIA 1619

 

Kota Batavia atau yang sekarang di kenal dengan nama kota Jakarta, atau daerah khusus ibukota Jakarta memiliki sejarah yang menarik untuk di teliti. 

 

Wilayah ini merupakan kota pelabuhan yang sudah ada sejak masa klasik, bahkan kemungkinan sudah ada sejak sebelum masehi, namun berdasarkan penemua prasasti yang ada di wilayah Jakarta, wilayah ini mulai tercatat di masa kerajaan Tarumanegara sekitar abad ke-3 sampai dengan abad ke-10 masehi.

 

Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanegara, wilayah ini di kuasai oleh kerajaan Sunda, atau juga Pajajaran yang merupakan gabungan dari kerajaan Sunda dan Galuh, dan di kenal dengan nama Sunda Kelapa.  Dan Sunda Kelapa ini menjadi kota pelabuhan yang penting dalam perdagangan di Nusantara.  Sebagai sebuah kota pelabuhan yang ramai dan strategis kota pelabuhan Sunda Kelapa menjadi wilayah yang menarik bagi banyak pihak, sehingga penduduk di kota ini menjadi beragam.

 

Pada tahun 1619 VOC membangun banteng dan gudang-gudang dan kantor di Sunda Kelapa yang di prakarsai Gubernur Jenderal saat itu Jan Pieterzoon Coen, mereka membangun pusat perdagangan VOC di wilayah Nusantara, Pelabuhan Sunda Kelapa atau Jayakarta di yakini menjadi tempat yang di anggap paling strategis dalam menguasai dan memonopoli perdagarngan rempah. Dan wilayah pelabuhan tersebut mereka beri nama Batavia, mengapa mereka member nama Batavia untuk kota yang mereka bangun itu?

 

nama Batavia dengan suku Batavi di Belanda. Suku Batavi adalah sebuah suku Jermanik yang dikenal sebagai bagian dari Konfederasi Jermanik di masa lalu. Pada abad ke-1, mereka tinggal di wilayah yang sekarang disebut Betuwe di Belanda, di sekitar Sungai Rhine.

 

Ketika VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) mendirikan kota Batavia pada tahun 1619, mereka memilih nama Batavia sebagai penghormatan kepada suku Batavi di Belanda. Hal ini mungkin dilakukan karena anggota-anggota VOC yang memimpin pendirian kota Batavia berasal dari daerah Belanda di sekitar Betuwe dan merasa memiliki hubungan historis dengan suku Batavi.

 

Selain itu, nama Batavia juga terkait dengan sejarah Romawi kuno. Pada abad ke-1 Masehi, wilayah yang sekarang disebut Belanda pernah dikuasai oleh Kekaisaran Romawi. Pada saat itu, wilayah ini dikenal dengan nama "Batavia" oleh bangsa Romawi.

 

Jadi, nama Batavia memang memiliki hubungan dengan suku Batavi di Belanda, tetapi juga terkait dengan sejarah Romawi.

 

Sebelum VOC berhasil mendirikan kota Batavia, terdapat konflik yang cukup serius antara VOC dengan penguasa Jayakarta yang pada saat itu menguasai wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Jakarta. Konflik ini dimulai pada awal abad ke-17 ketika VOC berusaha untuk membangun benteng di dekat pelabuhan Jayakarta untuk melindungi kepentingan dagang mereka di wilayah tersebut.

 

Penguasa Jayakarta, yaitu Sultan Agung, merasa bahwa pendirian benteng tersebut merupakan ancaman terhadap kedaulatan Jayakarta dan menentang rencana VOC tersebut. Konflik kemudian semakin memanas ketika VOC menuduh Jayakarta melakukan penyerangan terhadap benteng mereka dan meminta bantuan dari VOC di Batavia.

 

Pada akhirnya, VOC berhasil mengalahkan pasukan Jayakarta dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1619 dan berhasil merebut wilayah tersebut. VOC kemudian membangun kota Batavia di lokasi tersebut dan mengembangkan wilayah tersebut menjadi pusat perdagangan yang sangat penting di Asia Tenggara.

 

Sultan Agung kemudian berusaha untuk merebut kembali wilayah tersebut dengan bantuan dari Mataram, namun usaha tersebut gagal. Pada akhirnya, Jayakarta menjadi kota Batavia dan VOC menguasai wilayah tersebut hingga akhir abad ke-18. Konflik dengan Jayakarta ini menunjukkan bahwa VOC sangat berambisi untuk menguasai wilayah-wilayah strategis di wilayah Hindia Timur demi kepentingan dagang mereka.

 

Pembangunan kota Batavia dimulai pada tahun 1619 dan selesai pada sekitar awal abad ke-18. Selama hampir 200 tahun itu, kota Batavia mengalami perkembangan dan perubahan yang signifikan. Awalnya, kota Batavia hanya berupa pelabuhan kecil dengan beberapa gudang dan benteng yang dibangun untuk melindungi kepentingan dagang VOC di wilayah tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, kota Batavia berkembang menjadi kota yang lebih besar dengan berbagai fasilitas dan bangunan publik seperti gereja, rumah sakit, sekolah, dan kantor pemerintah VOC.

 

Pada saat pendirian kota Batavia, VOC telah menguasai beberapa wilayah penting di Asia Tenggara dan Hindia Timur. Berikut adalah beberapa wilayah yang dikuasai oleh VOC pada saat itu:

 

1.       Maluku: Maluku merupakan wilayah di Indonesia yang sangat kaya akan rempah-rempah seperti cengkih dan pala. VOC sangat tertarik untuk menguasai wilayah ini karena rempah-rempah tersebut sangat bernilai tinggi di pasar Eropa.

 

2.       Hindia Timur: Selain Maluku, VOC juga menguasai beberapa wilayah di Hindia Timur seperti Jawa, Sumatra, Bali, dan Sulawesi. Wilayah-wilayah ini sangat penting dalam perdagangan rempah-rempah dan juga menjadi sumber daya alam seperti kayu dan bijih timah.

 

3.       Formosa: Formosa (sekarang Taiwan) juga menjadi wilayah penting yang dikuasai oleh VOC pada saat itu. Wilayah ini memiliki posisi strategis yang sangat penting dalam perdagangan dengan Tiongkok.

 

4.       Ceylon: Ceylon (sekarang Sri Lanka) juga dikuasai oleh VOC pada saat itu. Wilayah ini kaya akan hasil bumi seperti teh dan kayu manis, serta menjadi pos perdagangan penting di Asia Selatan.

 

Dengan menguasai wilayah-wilayah tersebut, VOC dapat memperoleh sumber daya alam dan bahan mentah yang dibutuhkan untuk perdagangan dengan Eropa. Selain itu, VOC juga dapat mengontrol pasar perdagangan di Asia dan menjadi salah satu perusahaan dagang terbesar dan terkuat di dunia pada abad ke-17 dan ke-18.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar