Akhir-akhir ini dunia media sosial ramai dengan
perdebatan mengenai keabsahan keturunan Ba'alawi dengan keturunan Wali Songo.
Namun secara pribadi, saya hanya mengikutinya di YouTube. Terutama di channel
Kiai/Gus/Ustaz Zaini dalam channel Zaini, dan Channel Hanif Farhan. Ada
beberapa channel lain yang juga saya lihat, tapi tidak terlalu intens karena
saya senang dengan kedua anak muda tersebut yang menyajikan konten-konten yang
cerdas dan mengajak penonton untuk lebih cerdas dan mau berfikir lebih baik lagi.
Anak-anak muda seperti mereka sangat dibutuhkan di negeri ini untuk memberikan
pencerahan bagi masyarakat kita.
Menurut pendapat saya, keriuhan mengenai
perdebatan ini adalah aksi dan reaksi atas upaya beberapa kelompok yang mencoba
mengkapitalisasi massa menggunakan isu agama. Oleh karena itu, berbagai macam
cara, isu, serta dalil berusaha didoktrinasi kepada masyarakat yang kurang
mampu menggunakan intelektualitas mereka. Masalahnya timbul ketika satu
kelompok menyinggung atau mendegradasikan kelompok lain yang berada di luar
kelompok mereka.
Kapitalisasi massa ini memiliki dua keuntungan
jika doktrinisasi berhasil membuat pengikutnya menjadi fanatik yang ekstrem,
sehingga mereka tidak lgi dapat menggunakan logika berfikir yang kritis
terhadap setiap masalah dan persoalan. Keuntungan pertama, kelompok ini bisa
dijadikan alat untuk memperoleh materi dengan fanatisme dan doktrinisasi yang
telah dimasukkan. Nah, yang kedua ini menjadi modal yang besar, sebagai
investasi politik dan memiliki daya tawar politik yang besar bagi siapapun
kelompok politik yang ingin memanfaatkan kapitalisasi massa ini demi
kepentingan politik mereka, seperti untuk perolehan suara dan digerakkan untuk
mengangkat isu-isu politik bahkan hoaks sekalipun, biasanya akan termakan oleh
mereka yang sudah termakan oleh doktrin agama.
Oleh karena itu, masalah ini semakin meluas
seiring berjalannya waktu. Semuanya dimulai dari hasil telaah ilmiah KH.
Imaduddin tentang keabsahan Imam Ubaidillah, yang merupakan respons terhadap
ceramah-ceramah beberapa habib yang mendiskreditkan Kiai yang dekat dengan
pemerintah dan menafikkan keturunan WaliSongo.
Dan sekarang seolah-olah menjadi perseteruan antara
penceramah-penceramah pendatang dari Yaman dengan Ulama dan masyarakat pribumi
yang di dukung oleh keluarga Walisongo.
Dalam menyelesaikan masalah ini, kemungkinan
menggunakan laporan polisi atau debat terbuka antara kedua belah pihak cukup
rendah. Jika salah satu kelompok kalah dalam debat, kemungkinan mereka akan
terus saling serang di media sosial. Oleh karena itu, ada dua pilihan yang
perlu dipertimbangkan. Pertama, kita perlu berfokus pada upaya meningkatkan
pemahaman masyarakat agar lebih cerdas dan terbebas dari dogma dan doktrin yang
membelenggu. Dengan membangun kesadaran intelektual, masyarakat bisa mampu
menghadapi masalah seperti ini dengan lebih bijaksana. Kedua, penting untuk
mengamati apakah setelah pemilihan umum selesai, situasi ini akan mereda atau
tidak. Dalam hal apapun, solusi jangka panjang terletak pada pendidikan dan
kesadaran masyarakat yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar