Pada tahun 1619, J.P. Coen, seorang pejabat
VOC, memimpin ekspedisi ke Jawa Barat dan menemukan sebuah desa kecil bernama
Jayakarta. Desa ini merupakan pusat perdagangan penting di Jawa Barat dan menjadi
tempat tinggal orang-orang Cina dan pribumi. Coen melihat potensi besar di
daerah ini dan memutuskan untuk membangun sebuah kota perdagangan di sini.
Setelah berunding dengan raja Banten, VOC memperoleh hak untuk membangun kota
perdagangan baru di daerah tersebut.
VOC kemudian memulai pembangunan kota tersebut
pada bulan Mei 1619. Karena daerah tersebut sangat lembap, VOC harus
mengeringkan wilayah tersebut sebelum membangun kota. Mereka membangun tanggul
untuk menahan air laut dan memindahkan air dari sungai-sungai kecil di sekitar
daerah tersebut. Setelah berhasil mengeringkan daerah tersebut, VOC membangun
sebuah benteng yang dijuluki "Benteng Batavia", sebagai pusat
keamanan dan pertahanan kota.
Selain membangun benteng, VOC juga membangun
sebuah jalan utama yang menghubungkan kota ke pelabuhan di Teluk Jakarta.
Perjanjian tersebut memberi keuntungan besar
kepada VOC, karena seluruh wilayah sekitar Batavia menjadi wilayah
kekuasaannya. Selain itu, VOC juga mendapat izin untuk membangun benteng
pertahanan di sekitar Batavia. Namun, keuntungan ini tidak didapatkan dengan
mudah. VOC harus berjuang melawan para pemilik tanah dan raja-raja lokal yang
mencoba melawan kekuasaannya.
Pada awalnya, pemilik tanah sekitar Batavia
menolak untuk menyerahkan tanah mereka kepada VOC. Mereka merasa tidak puas
dengan nilai ganti rugi yang ditawarkan VOC. Akibatnya, VOC mengadakan
perundingan dengan para pemilik tanah untuk mencapai kesepakatan. Setelah
beberapa kali perundingan, pada tahun 1622 VOC berhasil mencapai kesepakatan
dengan para pemilik tanah. VOC memberikan ganti rugi yang lebih tinggi dan
memberikan hak milik atas tanah selama 30 tahun kepada para pemilik tanah.
Sementara itu, raja-raja lokal yang berkuasa di
sekitar Batavia juga mencoba melawan kekuasaan VOC. Salah satu raja yang paling
terkenal adalah Sultan Agung dari Mataram. Pada tahun 1628, Sultan Agung
menyerang Batavia dengan pasukan besar. Pasukan Sultan Agung berhasil menyerang
benteng VOC dan hampir berhasil merebut kota tersebut.
Namun, VOC berhasil mempertahankan diri dan
mengusir pasukan Sultan Agung. Setelah kejadian ini, VOC membangun benteng yang
lebih besar dan kuat untuk melindungi Batavia dari serangan musuh. Benteng
tersebut dikenal dengan nama Kasteel Batavia atau Fort Batavia.
Pada akhir tahun 1620-an, Batavia menjadi pusat
perdagangan penting di Asia Tenggara. Perdagangan rempah-rempah, kayu cendana,
kopi, gula, dan kain menjadi sumber keuntungan besar bagi VOC di Batavia. VOC
juga membangun infrastruktur penting seperti jalan-jalan, jembatan, dan kanal
untuk memudahkan transportasi dan perdagangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar