Kota Batavia atau yang sekarang di kenal dengan
nama kota Jakarta, atau daerah khusus ibukota Jakarta memiliki sejarah yang
menarik untuk di teliti.
Wilayah ini merupakan kota pelabuhan yang sudah
ada sejak masa klasik, bahkan kemungkinan sudah ada sejak sebelum masehi, namun
berdasarkan penemua prasasti yang ada di wilayah Jakarta, wilayah ini mulai
tercatat di masa kerajaan Tarumanegara sekitar abad ke-3 sampai dengan abad
ke-10 masehi.
Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanegara,
wilayah ini di kuasai oleh kerajaan Sunda, atau juga Pajajaran yang merupakan
gabungan dari kerajaan Sunda dan Galuh, dan di kenal dengan nama Sunda
Kelapa. Dan Sunda Kelapa ini menjadi
kota pelabuhan yang penting dalam perdagangan di Nusantara. Sebagai sebuah kota pelabuhan yang ramai dan
strategis kota pelabuhan Sunda Kelapa menjadi wilayah yang menarik bagi banyak
pihak, sehingga penduduk di kota ini menjadi beragam.
Pada tahun 1619 VOC membangun banteng dan
gudang-gudang dan kantor di Sunda Kelapa yang di prakarsai Gubernur Jenderal
saat itu Jan Pieterzoon Coen, mereka membangun pusat perdagangan VOC di wilayah
Nusantara, Pelabuhan Sunda Kelapa atau Jayakarta di yakini menjadi tempat yang
di anggap paling strategis dalam menguasai dan memonopoli perdagarngan rempah. Dan
wilayah pelabuhan tersebut mereka beri nama Batavia, mengapa mereka member nama
Batavia untuk kota yang mereka bangun itu?
nama Batavia dengan suku Batavi di Belanda.
Suku Batavi adalah sebuah suku Jermanik yang dikenal sebagai bagian dari
Konfederasi Jermanik di masa lalu. Pada abad ke-1, mereka tinggal di wilayah
yang sekarang disebut Betuwe di Belanda, di sekitar Sungai Rhine.
Ketika VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie)
mendirikan kota Batavia pada tahun 1619, mereka memilih nama Batavia sebagai
penghormatan kepada suku Batavi di Belanda. Hal ini mungkin dilakukan karena
anggota-anggota VOC yang memimpin pendirian kota Batavia berasal dari daerah
Belanda di sekitar Betuwe dan merasa memiliki hubungan historis dengan suku
Batavi.
Selain itu, nama Batavia juga terkait dengan
sejarah Romawi kuno. Pada abad ke-1 Masehi, wilayah yang sekarang disebut
Belanda pernah dikuasai oleh Kekaisaran Romawi. Pada saat itu, wilayah ini
dikenal dengan nama "Batavia" oleh bangsa Romawi.
Jadi, nama Batavia memang memiliki hubungan
dengan suku Batavi di Belanda, tetapi juga terkait dengan sejarah Romawi.
Sebelum VOC berhasil mendirikan kota Batavia,
terdapat konflik yang cukup serius antara VOC dengan penguasa Jayakarta yang
pada saat itu menguasai wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Jakarta.
Konflik ini dimulai pada awal abad ke-17 ketika VOC berusaha untuk membangun
benteng di dekat pelabuhan Jayakarta untuk melindungi kepentingan dagang mereka
di wilayah tersebut.
Penguasa Jayakarta, yaitu Sultan Agung, merasa
bahwa pendirian benteng tersebut merupakan ancaman terhadap kedaulatan
Jayakarta dan menentang rencana VOC tersebut. Konflik kemudian semakin memanas ketika
VOC menuduh Jayakarta melakukan penyerangan terhadap benteng mereka dan meminta
bantuan dari VOC di Batavia.
Pada akhirnya, VOC berhasil mengalahkan pasukan
Jayakarta dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1619 dan berhasil merebut
wilayah tersebut. VOC kemudian membangun kota Batavia di lokasi tersebut dan
mengembangkan wilayah tersebut menjadi pusat perdagangan yang sangat penting di
Asia Tenggara.
Sultan Agung kemudian berusaha untuk merebut
kembali wilayah tersebut dengan bantuan dari Mataram, namun usaha tersebut
gagal. Pada akhirnya, Jayakarta menjadi kota Batavia dan VOC menguasai wilayah
tersebut hingga akhir abad ke-18. Konflik dengan Jayakarta ini menunjukkan
bahwa VOC sangat berambisi untuk menguasai wilayah-wilayah strategis di wilayah
Hindia Timur demi kepentingan dagang mereka.
Pembangunan kota Batavia dimulai pada tahun
1619 dan selesai pada sekitar awal abad ke-18. Selama hampir 200 tahun itu,
kota Batavia mengalami perkembangan dan perubahan yang signifikan. Awalnya,
kota Batavia hanya berupa pelabuhan kecil dengan beberapa gudang dan benteng
yang dibangun untuk melindungi kepentingan dagang VOC di wilayah tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, kota Batavia berkembang menjadi kota yang
lebih besar dengan berbagai fasilitas dan bangunan publik seperti gereja, rumah
sakit, sekolah, dan kantor pemerintah VOC.
Pada saat pendirian kota Batavia, VOC telah
menguasai beberapa wilayah penting di Asia Tenggara dan Hindia Timur. Berikut
adalah beberapa wilayah yang dikuasai oleh VOC pada saat itu:
1.
Maluku:
Maluku merupakan wilayah di Indonesia yang sangat kaya akan rempah-rempah
seperti cengkih dan pala. VOC sangat tertarik untuk menguasai wilayah ini
karena rempah-rempah tersebut sangat bernilai tinggi di pasar Eropa.
2.
Hindia
Timur: Selain Maluku, VOC juga menguasai beberapa wilayah di Hindia Timur
seperti Jawa, Sumatra, Bali, dan Sulawesi. Wilayah-wilayah ini sangat penting
dalam perdagangan rempah-rempah dan juga menjadi sumber daya alam seperti kayu
dan bijih timah.
3.
Formosa:
Formosa (sekarang Taiwan) juga menjadi wilayah penting yang dikuasai oleh VOC
pada saat itu. Wilayah ini memiliki posisi strategis yang sangat penting dalam
perdagangan dengan Tiongkok.
4.
Ceylon:
Ceylon (sekarang Sri Lanka) juga dikuasai oleh VOC pada saat itu. Wilayah ini
kaya akan hasil bumi seperti teh dan kayu manis, serta menjadi pos perdagangan
penting di Asia Selatan.
Dengan menguasai wilayah-wilayah tersebut, VOC
dapat memperoleh sumber daya alam dan bahan mentah yang dibutuhkan untuk
perdagangan dengan Eropa. Selain itu, VOC juga dapat mengontrol pasar
perdagangan di Asia dan menjadi salah satu perusahaan dagang terbesar dan
terkuat di dunia pada abad ke-17 dan ke-18.