1. Catatan India - Prasasti Nalanda (860 M)
Prasasti Nalanda adalah sebuah prasasti yang ditemukan di India dan menyebutkan raja dari kerajaan di Nusantara. Prasasti ini ditulis pada masa Raja Balaputradewa dari Kerajaan Srivijaya. Dalam prasasti tersebut, Balaputradewa disebut sebagai donatur besar yang mendirikan sebuah biara (vihara) di Nalanda, India, yang merupakan pusat pembelajaran Buddha terkemuka pada masa itu.
Prasasti Nalanda ini menegaskan adanya hubungan erat antara Srivijaya dan pusat pembelajaran Buddha di India. Srivijaya tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga pusat pembelajaran agama Buddha di Asia Tenggara.
2. Catatan Arab - Kitab "Akhbar al-Sin wa'l-Hind" (Abad ke-9)
Seorang penulis dan pelancong Arab bernama Sulayman al-Tajir mencatat perjalanannya ke India dan Cina dalam karyanya Akhbar al-Sin wa'l-Hind (Berita dari Cina dan India). Dalam catatannya, dia menyebut wilayah di Nusantara, terutama Sumatra, yang dia kunjungi selama perjalanannya.
Sulayman al-Tajir mencatat bahwa di Sumatra, ada kerajaan yang makmur berkat perdagangan rempah-rempah, emas, dan hasil hutan lainnya. Ini menunjukkan adanya hubungan dagang yang erat antara Nusantara dengan para pedagang dari Timur Tengah sejak abad ke-9.
3. Catatan Persia - "Silsilat al-Tawarikh" (Abad ke-14)
Silsilat al-Tawarikh adalah kronik sejarah yang ditulis oleh para cendekiawan Persia. Salah satu bagian dari karya ini menyebutkan tentang hubungan antara Kerajaan Samudera Pasai di Sumatra dengan pedagang dan ulama dari Persia.
Samudera Pasai disebut sebagai pusat kekuasaan Islam di Nusantara, di mana pedagang dan ulama dari Persia sering berkunjung untuk berdagang dan menyebarkan ajaran Islam. Hubungan ini memperlihatkan bahwa Samudera Pasai memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara.
4. Prasasti Ligor (Abad ke-8)
Prasasti Ligor ditemukan di Thailand selatan (Ligor) dan menyebut Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-8. Prasasti ini mencatat bahwa Sriwijaya memiliki pengaruh hingga ke wilayah Thailand selatan dan terlibat dalam perdagangan regional, termasuk dengan India dan Asia Selatan.
Prasasti ini menyebutkan pembangunan sebuah candi yang dilakukan oleh Sriwijaya di Ligor, menunjukkan bahwa Sriwijaya tidak hanya mengontrol perdagangan di wilayah ini, tetapi juga menyebarkan pengaruh agama Buddha di seluruh Asia Tenggara.
5. Prasasti Tanjore (1030 M)
Prasasti ini ditulis pada masa pemerintahan Raja Rajendra Chola I dari Dinasti Chola di India Selatan. Prasasti Tanjore mencatat ekspedisi militer Dinasti Chola ke beberapa kerajaan di Asia Tenggara, termasuk Sriwijaya.
Dalam prasasti ini, disebutkan bahwa Chola berhasil menyerang beberapa pelabuhan penting di Sumatra dan Semenanjung Malaya yang dikuasai Sriwijaya. Ini menunjukkan adanya persaingan antara kekuatan-kekuatan besar di wilayah Asia, di mana Sriwijaya dan Chola saling berkompetisi untuk menguasai jalur perdagangan maritim.
6. Catatan Marco Polo (1292 M)
Marco Polo, seorang penjelajah dari Venesia, mencatat perjalanannya melewati Nusantara dalam perjalanan pulangnya dari Cina ke Eropa pada tahun 1292. Dalam catatannya, dia menyebut beberapa wilayah di Nusantara, seperti Sumatra dan Jawa.
Marco Polo menyebutkan bahwa wilayah Sumatra terbagi menjadi beberapa kerajaan kecil, beberapa di antaranya telah menganut Islam, sementara yang lainnya masih memeluk agama Buddha dan Hindu. Ini merupakan salah satu catatan tertua dari seorang penjelajah Eropa yang menyebutkan kehadiran Islam di Nusantara.
7. Prasasti Karangtengah (824 M)
Prasasti Karangtengah ditemukan di Jawa Tengah dan menyebutkan seorang raja dari Dinasti Syailendra yang memiliki hubungan dengan Sriwijaya. Prasasti ini memuat pernyataan tentang Raja Indra yang memberikan bantuan untuk pembangunan candi, serta hubungannya dengan kerajaan di luar Jawa.
Prasasti ini menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara dinasti-dinasti di Jawa dan Sumatra pada masa itu, terutama dalam konteks agama Buddha dan pembangunan candi.
8. Catatan Ibnu Battuta (Abad ke-14)
Ibnu Battuta, seorang pengembara Muslim dari Maroko, mengunjungi Sumatra pada abad ke-14 dalam perjalanannya ke Cina. Dalam catatannya, dia menyebutkan Kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Muslim yang makmur dan menjadi pusat perdagangan internasional di Asia Tenggara.
Ibnu Battuta mencatat bahwa raja Samudera Pasai sangat saleh dan memberikan sambutan yang baik kepada para pelancong Muslim. Ia juga mencatat tentang masjid-masjid dan kehidupan sosial yang berkembang di bawah pengaruh Islam di wilayah tersebut.
9. Catatan Tome Pires (1512-1515 M) - "Suma Oriental"
Tome Pires adalah seorang apoteker dan penjelajah Portugis yang menulis Suma Oriental, salah satu catatan paling rinci tentang Asia Tenggara pada awal abad ke-16. Dia mengunjungi banyak kerajaan di Nusantara, termasuk Malaka, Jawa, dan Sumatra.
Tome Pires menyebutkan beberapa kerajaan penting di Jawa dan Sumatra, seperti Demak, Sunda, dan Pasai. Dia mencatat bahwa wilayah Nusantara sangat kaya akan rempah-rempah dan barang dagangan lainnya, dan merupakan pusat perdagangan yang penting di antara Asia Timur, Timur Tengah, dan India.
10. Prasasti Laguna Copperplate (900 M)
Prasasti Laguna Copperplate adalah prasasti tembaga yang ditemukan di Laguna, Filipina, dan ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan aksara Kawi. Prasasti ini menyebutkan hubungan diplomatik dan perdagangan antara kerajaan di Filipina dan kerajaan di Jawa atau Sumatra pada abad ke-10.
Prasasti ini menunjukkan bahwa pengaruh kerajaan-kerajaan Nusantara tidak hanya terbatas pada wilayah Asia Tenggara, tetapi juga meluas ke Filipina dan sekitarnya.
Kesimpulan:
Catatan dan prasasti dari wilayah lain di Asia menunjukkan bahwa Nusantara telah menjadi pusat penting dalam jaringan perdagangan maritim internasional sejak zaman kuno. Nusantara dikenal oleh berbagai bangsa di Asia, seperti India, Persia, Arab, dan bahkan Asia Tenggara lainnya, sebagai wilayah yang kaya dan strategis, baik dalam hal ekonomi maupun agama.