Rabu, 09 Oktober 2024

CATATAN ASING TENTANG NUSANTARA

Selain dari Tiongkok, catatan mengenai Nusantara juga ditemukan dalam berbagai sumber dari wilayah lain di Asia. Catatan ini berasal dari prasasti maupun literatur yang ditulis oleh pelancong, pedagang, dan utusan dari berbagai negara, terutama India, Timur Tengah, dan wilayah Asia lainnya. Berikut adalah beberapa catatan penting dari wilayah-wilayah lain di Asia yang menyebutkan atau memberikan gambaran mengenai Nusantara:

1. Catatan India - Prasasti Nalanda (860 M)

Prasasti Nalanda adalah sebuah prasasti yang ditemukan di India dan menyebutkan raja dari kerajaan di Nusantara. Prasasti ini ditulis pada masa Raja Balaputradewa dari Kerajaan Srivijaya. Dalam prasasti tersebut, Balaputradewa disebut sebagai donatur besar yang mendirikan sebuah biara (vihara) di Nalanda, India, yang merupakan pusat pembelajaran Buddha terkemuka pada masa itu.

Prasasti Nalanda ini menegaskan adanya hubungan erat antara Srivijaya dan pusat pembelajaran Buddha di India. Srivijaya tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga pusat pembelajaran agama Buddha di Asia Tenggara.


2. Catatan Arab - Kitab "Akhbar al-Sin wa'l-Hind" (Abad ke-9)

Seorang penulis dan pelancong Arab bernama Sulayman al-Tajir mencatat perjalanannya ke India dan Cina dalam karyanya Akhbar al-Sin wa'l-Hind (Berita dari Cina dan India). Dalam catatannya, dia menyebut wilayah di Nusantara, terutama Sumatra, yang dia kunjungi selama perjalanannya.

Sulayman al-Tajir mencatat bahwa di Sumatra, ada kerajaan yang makmur berkat perdagangan rempah-rempah, emas, dan hasil hutan lainnya. Ini menunjukkan adanya hubungan dagang yang erat antara Nusantara dengan para pedagang dari Timur Tengah sejak abad ke-9.


3. Catatan Persia - "Silsilat al-Tawarikh" (Abad ke-14)

Silsilat al-Tawarikh adalah kronik sejarah yang ditulis oleh para cendekiawan Persia. Salah satu bagian dari karya ini menyebutkan tentang hubungan antara Kerajaan Samudera Pasai di Sumatra dengan pedagang dan ulama dari Persia.

Samudera Pasai disebut sebagai pusat kekuasaan Islam di Nusantara, di mana pedagang dan ulama dari Persia sering berkunjung untuk berdagang dan menyebarkan ajaran Islam. Hubungan ini memperlihatkan bahwa Samudera Pasai memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara.


4. Prasasti Ligor (Abad ke-8)

Prasasti Ligor ditemukan di Thailand selatan (Ligor) dan menyebut Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-8. Prasasti ini mencatat bahwa Sriwijaya memiliki pengaruh hingga ke wilayah Thailand selatan dan terlibat dalam perdagangan regional, termasuk dengan India dan Asia Selatan.

Prasasti ini menyebutkan pembangunan sebuah candi yang dilakukan oleh Sriwijaya di Ligor, menunjukkan bahwa Sriwijaya tidak hanya mengontrol perdagangan di wilayah ini, tetapi juga menyebarkan pengaruh agama Buddha di seluruh Asia Tenggara.


5. Prasasti Tanjore (1030 M)

Prasasti ini ditulis pada masa pemerintahan Raja Rajendra Chola I dari Dinasti Chola di India Selatan. Prasasti Tanjore mencatat ekspedisi militer Dinasti Chola ke beberapa kerajaan di Asia Tenggara, termasuk Sriwijaya.

Dalam prasasti ini, disebutkan bahwa Chola berhasil menyerang beberapa pelabuhan penting di Sumatra dan Semenanjung Malaya yang dikuasai Sriwijaya. Ini menunjukkan adanya persaingan antara kekuatan-kekuatan besar di wilayah Asia, di mana Sriwijaya dan Chola saling berkompetisi untuk menguasai jalur perdagangan maritim.


6. Catatan Marco Polo (1292 M)

Marco Polo, seorang penjelajah dari Venesia, mencatat perjalanannya melewati Nusantara dalam perjalanan pulangnya dari Cina ke Eropa pada tahun 1292. Dalam catatannya, dia menyebut beberapa wilayah di Nusantara, seperti Sumatra dan Jawa.

Marco Polo menyebutkan bahwa wilayah Sumatra terbagi menjadi beberapa kerajaan kecil, beberapa di antaranya telah menganut Islam, sementara yang lainnya masih memeluk agama Buddha dan Hindu. Ini merupakan salah satu catatan tertua dari seorang penjelajah Eropa yang menyebutkan kehadiran Islam di Nusantara.


7. Prasasti Karangtengah (824 M)

Prasasti Karangtengah ditemukan di Jawa Tengah dan menyebutkan seorang raja dari Dinasti Syailendra yang memiliki hubungan dengan Sriwijaya. Prasasti ini memuat pernyataan tentang Raja Indra yang memberikan bantuan untuk pembangunan candi, serta hubungannya dengan kerajaan di luar Jawa.

Prasasti ini menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara dinasti-dinasti di Jawa dan Sumatra pada masa itu, terutama dalam konteks agama Buddha dan pembangunan candi.


8. Catatan Ibnu Battuta (Abad ke-14)

Ibnu Battuta, seorang pengembara Muslim dari Maroko, mengunjungi Sumatra pada abad ke-14 dalam perjalanannya ke Cina. Dalam catatannya, dia menyebutkan Kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Muslim yang makmur dan menjadi pusat perdagangan internasional di Asia Tenggara.

Ibnu Battuta mencatat bahwa raja Samudera Pasai sangat saleh dan memberikan sambutan yang baik kepada para pelancong Muslim. Ia juga mencatat tentang masjid-masjid dan kehidupan sosial yang berkembang di bawah pengaruh Islam di wilayah tersebut.


9. Catatan Tome Pires (1512-1515 M) - "Suma Oriental"

Tome Pires adalah seorang apoteker dan penjelajah Portugis yang menulis Suma Oriental, salah satu catatan paling rinci tentang Asia Tenggara pada awal abad ke-16. Dia mengunjungi banyak kerajaan di Nusantara, termasuk Malaka, Jawa, dan Sumatra.

Tome Pires menyebutkan beberapa kerajaan penting di Jawa dan Sumatra, seperti Demak, Sunda, dan Pasai. Dia mencatat bahwa wilayah Nusantara sangat kaya akan rempah-rempah dan barang dagangan lainnya, dan merupakan pusat perdagangan yang penting di antara Asia Timur, Timur Tengah, dan India.


10. Prasasti Laguna Copperplate (900 M)

Prasasti Laguna Copperplate adalah prasasti tembaga yang ditemukan di Laguna, Filipina, dan ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan aksara Kawi. Prasasti ini menyebutkan hubungan diplomatik dan perdagangan antara kerajaan di Filipina dan kerajaan di Jawa atau Sumatra pada abad ke-10.

Prasasti ini menunjukkan bahwa pengaruh kerajaan-kerajaan Nusantara tidak hanya terbatas pada wilayah Asia Tenggara, tetapi juga meluas ke Filipina dan sekitarnya.


Kesimpulan:

Catatan dan prasasti dari wilayah lain di Asia menunjukkan bahwa Nusantara telah menjadi pusat penting dalam jaringan perdagangan maritim internasional sejak zaman kuno. Nusantara dikenal oleh berbagai bangsa di Asia, seperti India, Persia, Arab, dan bahkan Asia Tenggara lainnya, sebagai wilayah yang kaya dan strategis, baik dalam hal ekonomi maupun agama.


CATATAN TIONGKOK MENGENAI NUSANTARA

Catatan Tiongkok mengenai Nusantara (Kepulauan Indonesia) dari berbagai masa memberikan wawasan yang sangat berharga tentang hubungan antara kedua kawasan. Para pelancong dan duta dari Tiongkok mencatat interaksi dagang, budaya, serta politik dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Berikut beberapa catatan penting dari Tiongkok yang memuat informasi mengenai Nusantara:

1. Catatan Ma Huan (Zheng He’s Expedition) - "Yingya Shenglan" (1433)

Ma Huan adalah seorang penerjemah Muslim Tiongkok yang mengikuti ekspedisi Laksamana Cheng Ho (Zheng He) ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, termasuk Nusantara, pada abad ke-15. Dalam Yingya Shenglan, Ma Huan memberikan deskripsi mengenai berbagai kerajaan di Nusantara, seperti:

Majapahit: Ma Huan mencatat kekayaan Majapahit dan menyebutkan bahwa kerajaan ini memiliki sistem pemerintahan yang maju dan kaya akan hasil bumi seperti rempah-rempah dan emas. Ia juga mencatat tentang tata kota, kehidupan masyarakat, dan hubungan perdagangan yang luas antara Majapahit dan Tiongkok.

Samudera Pasai: Ma Huan mencatat adanya hubungan dagang yang erat antara Tiongkok dan Kerajaan Samudera Pasai, kerajaan Islam di Sumatera. Dia menggambarkan Samudera Pasai sebagai pusat perdagangan besar, khususnya dalam hal rempah-rempah, kain sutra, dan perak.


2. Catatan Zhao Rugua - "Zhufan Zhi" (1225)

Zhao Rugua adalah pejabat dinasti Song yang menulis tentang berbagai kerajaan asing dalam Zhufan Zhi ("Deskripsi Negara-Negara Barbar"). Dalam karyanya, Zhao Rugua mencatat keberadaan kerajaan-kerajaan di Nusantara:

Kerajaan Srivijaya: Zhao Rugua menyebut Srivijaya (dikenal dalam catatan Tiongkok sebagai Shih-li-fo-shih) sebagai kerajaan yang kaya raya dan memiliki pelabuhan dagang yang penting. Srivijaya adalah pusat perdagangan maritim di Asia Tenggara dan dikenal sebagai tempat transit untuk perdagangan barang-barang dari India dan Tiongkok.

Jawa: Ia juga mencatat tentang kerajaan-kerajaan di Jawa, terutama dalam konteks perannya sebagai pusat perdagangan rempah-rempah. Zhao Rugua mencatat bahwa orang Jawa sangat ahli dalam perdagangan dan memiliki peradaban yang maju.


3. Catatan dari Dinasti Tang - "Xin Tangshu" (Abad ke-7 hingga ke-10)

Dalam Xin Tangshu (Buku Sejarah Tang Baru), terdapat beberapa catatan tentang hubungan Dinasti Tang dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama kerajaan Srivijaya yang dikenal sebagai Shih-li-fo-shih dalam catatan tersebut:

Srivijaya: Dinasti Tang menjalin hubungan diplomatik dengan Srivijaya, yang menjadi salah satu pusat kekuasaan maritim terbesar di Asia Tenggara pada saat itu. Pada abad ke-7, Raja Sri Jayanasa dari Srivijaya mengirimkan utusan ke istana Tang, mempererat hubungan diplomatik dan perdagangan antara Tiongkok dan Nusantara. Utusan Srivijaya membawa barang-barang seperti gading, cengkeh, dan emas sebagai hadiah.


4. Catatan Dinasti Yuan - "Daoyi Zhilüe" (1349)

Wang Dayuan, seorang pelancong dan pedagang Tiongkok, menulis tentang kunjungannya ke berbagai tempat di Asia Tenggara dalam Daoyi Zhilüe ("Ringkasan Negara-Negara Kepulauan"). Dalam catatan ini, Wang Dayuan menggambarkan keadaan di beberapa kerajaan di Nusantara:

Tumasik (Singapura): Wang Dayuan mencatat tentang keberadaan Tumasik sebagai salah satu pelabuhan yang penting di jalur perdagangan antara India dan Tiongkok. Ia juga mencatat tentang persaingan dan pertempuran antara kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut.

Jawa: Wang Dayuan menyebut bahwa pulau Jawa (Tionghoa: Zhao-wa) memiliki kekayaan alam yang melimpah, termasuk beras, kapas, dan rempah-rempah. Jawa adalah pusat perdagangan yang menarik para pedagang dari berbagai belahan dunia, termasuk Arab dan India.


5. Catatan Dinasti Ming - Catatan Cheng Ho (Abad ke-15)

Laksamana Cheng Ho memimpin beberapa ekspedisi besar ke Nusantara antara 1405 dan 1433. Selama ekspedisinya, ia berlayar ke banyak kerajaan di Nusantara, termasuk Majapahit, Samudera Pasai, dan Palembang (bekas pusat Srivijaya):

Cheng Ho memperkuat hubungan diplomatik antara Dinasti Ming dan kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama dengan kerajaan-kerajaan Muslim seperti Samudera Pasai dan Malaka. Dia juga membawa hadiah dari Tiongkok dan menegosiasikan perjanjian dagang.


6. Catatan I-Tsing (Yi Jing) - Abad ke-7

Seorang biksu Buddha dari Tiongkok bernama I-Tsing melakukan perjalanan melalui Nusantara pada abad ke-7. Ia singgah di Srivijaya (Sumatra) selama beberapa tahun sebelum melanjutkan perjalanannya ke India untuk belajar agama Buddha. Dalam catatannya, ia menyebut Srivijaya sebagai pusat pembelajaran Buddha dan menyarankan biksu-biksu lain untuk belajar di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke India.

Catatan-catatan ini memberikan gambaran tentang bagaimana kerajaan-kerajaan di Nusantara dilihat oleh bangsa Tiongkok, terutama dalam hal kekayaan alam, perdagangan, dan hubungan diplomatik. Hubungan antara Tiongkok dan Nusantara telah berlangsung selama berabad-abad dan memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi dan budaya di kedua wilayah.

Senin, 07 Oktober 2024

Galuh Candrakirana dalam Cerita Panji:

Galuh Candrakirana adalah putri cantik dari kerajaan Daha (Kediri) yang menjadi pusat cerita "Panji." Kisah ini berkisar pada percintaannya dengan Panji Asmarabangun, seorang pangeran dari Kerajaan Kahuripan (atau Jenggala). Cerita ini merupakan salah satu bentuk epos romansa Jawa, dengan unsur drama, intrik politik, dan petualangan.

Dalam kisah Panji, Galuh Candrakirana bertunangan dengan Panji Asmarabangun sejak kecil. Namun, berbagai konflik politik dan peperangan antara dua kerajaan, Daha dan Kahuripan, memisahkan mereka. Banyak intrik yang membuat kisah cinta mereka penuh liku-liku, dengan Galuh Candrakirana sering kali diculik atau menghilang, dan Panji harus berjuang untuk menemukannya.

Tema Kisah Panji:

Kesetiaan dan Cinta Sejati: Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana harus melalui banyak cobaan, termasuk pemisahan paksa, penyamaran, dan serangkaian tantangan sebelum akhirnya bersatu kembali. Cerita ini sering dianggap sebagai simbol cinta yang abadi, dan keduanya tetap setia meskipun banyak rintangan.

Penyamaran: Salah satu tema utama dalam siklus cerita Panji adalah penyamaran. Kedua tokoh utama, baik Panji maupun Galuh, sering kali menyamar sebagai orang biasa selama perjalanan mereka, sehingga kisah ini penuh dengan petualangan, pertemuan, dan konflik yang kompleks.

Perjalanan dan Pencarian: Cerita ini banyak melibatkan perjalanan panjang yang dilakukan Panji untuk menemukan Galuh setelah mereka terpisah. Dalam perjalanan tersebut, Panji menghadapi banyak rintangan dan lawan, termasuk raja-raja dan pangeran dari kerajaan lain yang juga ingin mempersunting Galuh Candrakirana.


Pengaruh dalam Budaya Jawa:

Kisah Panji, termasuk tokoh Galuh Candrakirana, telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak karya seni dan budaya di Nusantara. Cerita Panji sering dijadikan bahan lakon dalam pertunjukan wayang, tari, dan kesusastraan. Di masa Majapahit, kisah Panji populer tidak hanya di kalangan rakyat, tetapi juga di kalangan bangsawan.

Cerita Panji juga menyebar ke daerah lain di Asia Tenggara, seperti Thailand, Kamboja, dan Malaysia, di mana tokoh-tokoh seperti Panji dan Galuh Candrakirana dikenal dengan nama yang berbeda, tetapi intisari cerita tetap sama.

Galuh Candrakirana sebagai Simbol Wanita Ideal:

Galuh Candrakirana dalam kisah ini dilukiskan sebagai wanita yang sangat cantik, bijaksana, dan setia. Ia menjadi simbol kecantikan fisik dan batin dalam budaya Jawa kuno. Kesetiaannya terhadap Panji meski dihadapkan pada berbagai cobaan dan godaan dari pria-pria lain menunjukkan kekuatan moral dan spiritualnya.

Warisan Sastra Panji:

Cerita Panji dan tokoh Galuh Candrakirana masih bertahan hingga kini, di mana beberapa naskah kuno yang menceritakan kisah ini dapat ditemukan di berbagai perpustakaan di Indonesia dan mancanegara. Kisah ini juga terus dipelajari dalam studi sastra Jawa, karena menjadi salah satu cerita epik yang paling berpengaruh pada kebudayaan Jawa hingga hari ini.