Minggu, 25 Juni 2023

Penelitian KH. Imaduddin memecah belah ummat ???

 

Kali ini, saya akan memberikan respon dan analisis mengenai kajian ilmiah yang dilakukan oleh KH. Imaduddin Ustman al Bantani mengenai keabsahan nasab Ba'alawi dan efeknya terhadap perdebatan di media sosial, terutama di platform YouTube yang sering saya ikuti diskusinya.

 

Dalam konteks ini, terdapat dua hal utama yang menjadi fokus perdebatan mengenai nasab Ba'alawi ini. Pertama, adanya perdebatan ilmiah yang menarik minat banyak ilmuwan Muslim untuk melakukan kajian, baik melalui metode klasik maupun modern. Hal ini juga memunculkan perdebatan mengenai metode keilmuan dalam dunia Muslim.

 

Yang kedua, terjadi keriuhan di antara pendukung dari kedua pihak, baik yang mendukung keabsahan nasab Ba'alawi maupun yang meragukannya atau bahkan membatalkannya. Perdebatan ini meluas dan melibatkan banyak dimensi ruang perdebatan. Aspek-aspek seperti psikologi, doktrinasi, dan peningkatan intelektualitas Muslim secara umum perlu dikaji lebih luas.

 

Kajian ilmiah yang dilakukan oleh KH. Imaduddin Ustman al Bantani memberikan tambahan khazanah keilmuan bagi umat Islam di Indonesia. Selama ini, jarang kita temui perdebatan ilmiah yang didasarkan pada pemikiran dan logika yang kuat, serta referensi yang baik. Lebih seringnya, umat Islam di Indonesia mendapatkan doktrin-doktrin tertentu.

 

Kajian ilmiah ini membuka ruang bagi perbedaan pemahaman dan interpretasi dalam dunia Islam, yang sebenarnya adalah hal yang wajar. Hal ini dapat memicu peningkatan intelektualitas kita dalam melakukan kajian dan memajukan ilmu pengetahuan Islam. Selama ini, peradaban Muslim terkesan terhenti di abad ke-10 atau ke-12 Masehi. Banyak ilmu pengetahuan modern yang selalu ditolak dengan sikap sinis dan curiga. Penolakan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan ini menjadi penyebab terhentinya perkembangan ilmu pengetahuan Muslim, walaupun masih ada beberapa ilmuwan Muslim yang tetap berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa terjebak dalam kebanggaan masa lalu.

 

Melihat bagaimana netizen Indonesia bersikap, baik di YouTube maupun platform media sosial lainnya, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang kurang dalam pendidikan umat Islam di Indonesia. Perlakuan kasar, cacian, dan hinaan yang dilakukan oleh netizen dari kedua pihak menunjukkan bahwa ajaran Islam yang menekankan akhlakul karimah belum berhasil disampaikan dengan baik. Selama ini, umat lebih banyak menerima doktrin-doktrin seperti mengikuti ulama, habaib, atau kyai tanpa mendorong mereka untuk berfikir logis karena seringkali dianggap sebagai perilaku liberal. Hal ini menyebabkan umat menjadi fanatik pada satu ulama, dan jika ada perbedaan dengan ulama lain, mereka dengan ramai menyerang ulama tersebut.

 

Kondisi ini terjadi karena dalam berbagai pengajian, umat lebih banyak diajari bahwa kesulitan, kemiskinan, dan penderitaan mereka disebabkan oleh kekuatan asing, musuh Islam, PKI, dan sebagainya. Bukannya merangsang umat untuk menjadi lebih cerdas, berpikir, dan meningkatkan kualitas diri agar mampu bersaing dengan perkembangan dunia luar. Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya melarang prasangka atau praduga buruk, terlebih tanpa bukti yang kuat dan berdasarkan pada logika yang jelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar