Kali ini, saya akan memberikan respon dan
analisis mengenai kajian ilmiah yang dilakukan oleh KH. Imaduddin Ustman al
Bantani mengenai keabsahan nasab Ba'alawi dan efeknya terhadap perdebatan di
media sosial, terutama di platform YouTube yang sering saya ikuti diskusinya.
Dalam konteks ini, terdapat dua hal utama yang
menjadi fokus perdebatan mengenai nasab Ba'alawi ini. Pertama, adanya
perdebatan ilmiah yang menarik minat banyak ilmuwan Muslim untuk melakukan
kajian, baik melalui metode klasik maupun modern. Hal ini juga memunculkan
perdebatan mengenai metode keilmuan dalam dunia Muslim.
Yang kedua, terjadi keriuhan di antara
pendukung dari kedua pihak, baik yang mendukung keabsahan nasab Ba'alawi maupun
yang meragukannya atau bahkan membatalkannya. Perdebatan ini meluas dan
melibatkan banyak dimensi ruang perdebatan. Aspek-aspek seperti psikologi,
doktrinasi, dan peningkatan intelektualitas Muslim secara umum perlu dikaji
lebih luas.
Kajian ilmiah yang dilakukan oleh KH. Imaduddin
Ustman al Bantani memberikan tambahan khazanah keilmuan bagi umat Islam di
Indonesia. Selama ini, jarang kita temui perdebatan ilmiah yang didasarkan pada
pemikiran dan logika yang kuat, serta referensi yang baik. Lebih seringnya,
umat Islam di Indonesia mendapatkan doktrin-doktrin tertentu.
Kajian ilmiah ini membuka ruang bagi perbedaan
pemahaman dan interpretasi dalam dunia Islam, yang sebenarnya adalah hal yang
wajar. Hal ini dapat memicu peningkatan intelektualitas kita dalam melakukan
kajian dan memajukan ilmu pengetahuan Islam. Selama ini, peradaban Muslim
terkesan terhenti di abad ke-10 atau ke-12 Masehi. Banyak ilmu pengetahuan
modern yang selalu ditolak dengan sikap sinis dan curiga. Penolakan terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan ini menjadi penyebab terhentinya perkembangan
ilmu pengetahuan Muslim, walaupun masih ada beberapa ilmuwan Muslim yang tetap berusaha
mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa terjebak dalam kebanggaan masa lalu.
Melihat bagaimana netizen Indonesia bersikap,
baik di YouTube maupun platform media sosial lainnya, menunjukkan bahwa ada
sesuatu yang kurang dalam pendidikan umat Islam di Indonesia. Perlakuan kasar,
cacian, dan hinaan yang dilakukan oleh netizen dari kedua pihak menunjukkan
bahwa ajaran Islam yang menekankan akhlakul karimah belum berhasil disampaikan
dengan baik. Selama ini, umat lebih banyak menerima doktrin-doktrin seperti
mengikuti ulama, habaib, atau kyai tanpa mendorong mereka untuk berfikir logis
karena seringkali dianggap sebagai perilaku liberal. Hal ini menyebabkan umat
menjadi fanatik pada satu ulama, dan jika ada perbedaan dengan ulama lain,
mereka dengan ramai menyerang ulama tersebut.
Kondisi ini terjadi karena dalam berbagai
pengajian, umat lebih banyak diajari bahwa kesulitan, kemiskinan, dan
penderitaan mereka disebabkan oleh kekuatan asing, musuh Islam, PKI, dan
sebagainya. Bukannya merangsang umat untuk menjadi lebih cerdas, berpikir, dan
meningkatkan kualitas diri agar mampu bersaing dengan perkembangan dunia luar.
Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya melarang prasangka
atau praduga buruk, terlebih tanpa bukti yang kuat dan berdasarkan pada logika
yang jelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar