Belakangan ini kita di hebohkan dengan
bermunculannya kerajaan-kerajaan baru dan fiktif di Indonesia. Dan peristiewa ini menimbulkan kehebohan di
masyarakat, tidak terkecuali di jagat maya.
berbagai komentar baik yang lucu sampai yang serius bermunculan. Di awali dengan kehebohan Kerajaan Agung
Sejagat di wilayah Purworejo, Jawa Tengah.
Saat ini raja dan ratu dari kerajaan Agung Sejagat ini sedang dalam
proses kepolisian dengan dakwaan penipuan dan menimbulkan keonaran.
Setelah kasus kerajaan Agung Sejagat ini di tangani
polisi, muncul ke permukaan berturut-turut Sunda Empire dan King of The
King. Tokoh-tokoh di kedua kerajaan ini
pun di tangkap polisi dengan tuduhan menimbulkan keonaran. Bahkan sebelum petinggi Sunda Empire ini di
tangkap oleh polisi sempat tampil di acara Indonesia Lawyer Club yang di pandu
oleh Karni Ilyas. Munculnya
kerajaan-kerajaan fiktif ini menimbulkan tanda tanya di masyarakat
Indonesia. Bagaimana bisa ada orang yang
mau mendeklarasikan diri dengan berbagai kerajaan itu dan ternyata banyak juga
penhikutnya. Wah-wah kenapa ya?..
Kenapa masih ada orang yang mau percaya dan ikut
bergabung dengan kerajaan-kerjaan itu? Banyak analisa dari berbagai pakar yang
di sampaikan baik di media cetak, televisi maupun media sosial, baik itu dari
pakar politik, psikologi, hukum maupun budaya.
Dari semua analisa-analisa tersebut ada beberapa poin yang bisa saya
simpulkan.
Pertama, adanya situasi
sosial politik di mana masyarakat kita tidak puas dengan pemerintahan yang ada,
sehingga mencari penyaluran aspirasinya dengan sosok-sosok baru, atau bentuk
institusi baru. Fenomena ini menurut
saya bukan hanya dalam hal bentuk raja-raja yang di jadikan pelampiasan kebutuhan
sosial politik ini tapi juga menyasar pada tokoh-tokoh yang berbalut Agama,
baik dalam bentuk individu-individu maupun organisasi.
Kedua, karena kebutuhan
ekonomi. Adanya janji-janji dari
raja-raja yang muncul akan adanya imbal balik yang berupa materi yang cukup
besar, membuat sejumlah orang tertarik untuk bergabung. Cara singkat dalam mendapatkan materi ini
menjadi fenomena juga di Republik ini.
Bagaimana banyaknya masyarakat yang tertipu oleh rayuan penggandaan uang
dan investasi bodong yang menjanjikan return yang cepat dan dalam jumlah
besar. Jadi fenomena ini bukan hanya
menyasar ke mereka yang bisa di bilang sebagaj kategori miskin tapi juga ke
mereka yang mempunyai pendapatan tinggi atau kaum borjuis.
Ketiga, pengalihan
isu. Bagi sebagian orang yang
mempercayai politik konspirasi tentu tidak akan lepas dari dugaan pengalihan
isu. Apalagi saat fenomena ini terjadi
pemerintah sedang di sibukkan dengan kasus gagal bayar Asuransi Jiwasraya,
sehingga ada dugaan sengaja di munculkan isu-isu lain yang bisa mengalihkan
perhatian masyarakat. Kalau menurut saya
ini agak berlebihan, karena kita juga harus melihat background dan waktu
kejadian. Proses fenomena kerajaan ini bukan
hal baru. Hanya saja baru di hebohkan
karena adanya kirab dari kerajaan Agung Sejagat yang mengundang perhatian
masyarakat. Sehingga peristiwa-peristiwa
serupa yang sudah lama pun di angkat kembali oleh netizen dan menjadi viral.
Sebagai contoh Sunda Empire dan King of the King yang sebenarnya sudah sejak
lama ada di tengah-tengah masyarakat.
Keempat, adanya mitos
sejarah di tengah-tengah masyarakat Indonesia mengenai kejayaan
kerajaan-kerajaan di Nusantara yang akan kembali berjaya di masa yang akan
datang. Sebagai contoh dalam masyarakat
Jawa ada legenda Sabdo Palon yang berjanji akan kembali dan akan mengembalikan
kejayaan kerajaan Majapahit yang saat itu sudah hancur akibar serangan kerajaan
Demak yang di pimpin Raden Patah. Begitu
juga dengan ramalan Jayabaya yang begitu di percayai oleh sebagian masyarakat
Jawa. Mitos-mitos inilah yang memicu
sebagian masyarakat yang percaya bahwa suatu saat nanti akan muncul kembali
satria piningit atau Ratu Adil yang akan membawa kejayaan bagi masyarakat
Indonesia.
Dengan
semua analisa di atas maka pada prinsipnya dapat di ambil satu kesimpulan
yaitu, kondisi Indonesia saat ini menimbulkan situasi di mana sebagian
masyarakat merasa tidak puas dengan kondisi saat ini. Baik dari segi perekonomian, politik dan
budaya. Masih besarnya kesenjangan
sosial, perkembamnangan teknologi yang pesat tapi tidak di imbangi dengan
peningkatan sumber daya manusia, yang menyebavbkan kurang terserapnya tenaga
kerja. Rendahnya kualitas tenaga kerja
siap pakai serta kebijakan pemerintah yang kurang di rasakan masyarakat kelas
menengah kebawah. Masih tingginya jumlah
masyarakat miskin, korupsi yang merajalela baik di tingkat pusat maupun daerah.
Partai
sebagai alat dalam berdemokrasi di anggap tidak aapat memfilter kader-kader
pemimpin yang terbaik, terbukti dengan banyaknya kader dari partai politik yang
terlibat dalam kasus korupsi maupun dalam berbagai masalah sosial. Masih buruknya pelayanan dari penyelenggara
negara terhadap rakyat, baik itu dalam institusi sipin maupun kepolisian. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan dan
pesimisme dalam masyarakat akan adanya tata kelola pemerintahan yang lebih baik
dan dapat melayani rakyat dengan baik.
Di balik semua permasalahan yang ada di masyarakat itulah maka timbullah
kerinduan akan sebuah sistem atau kekuatan yang bisa menyaingi sistem
kepartaian sebagai alat dalam politik demokrasi dan bisa mewakili perasaan
mereka dalam wujud kekuasaan.
Dengan
adanya budaya dan latar belakang sejarah Indonesia yang tidak lain merupakan
bagian dari Kerajaan-kerajaan di masa silam, yang begitu mengakar dalam
kehidupan masyarakat. Bukan hanya secara
budaya tetapi juga secara psikologis dan spiritual membuat rakyat mendambakan
sistem-sistem atau kekuatan-kekuatan di masa lalu yang dalam sejarah pernah
mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur serta kejayaan. Di tambah dengan adanya mitos dan legenda di
tengah-tengah masyarakat Jawa dan Sunda mengenai kembalinya kejayaan
kerajaan-kerajaan Majapahit dan Sunda.
Kisah Sabdo Palon dan Jangka Jayabaya di Jawa dan Budak Angon di Sunda. Legenda dan mitologi ini seolah-olah menjawab
keresahan masyarakat akan keadaan yang lebih baik di republik ini. Kondisi ini akhirnya bisa di manfaatkan untuk
menciptakan kekuatan politik baru yang menjadi alternatif dan mendapat
kepercayaan dari masyarakat. Seperti
saat ini kekuatan politik yang menggunakan sentimen agama sudah mulai mengambil
simpati dari masyarakat yang resah ini.
Munculnya GNPF dan PA 212 merupakan bagian dari organisasi yang
menggunakan keagamaan sebagai basis kekuatan politik baru dan telah memiliki
posisi tawar yang cukup besar.
Lalu
bagaimana dengan masyarakat kita yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai
budaya dan kepercayaan serta memiliki rasa keterikatan dengan Indonesia di masa
lalu? Yaitu kerajaan-kerajaan yang pernah menjadi bagian dalam pola hidup dan
berfikir mereka. Saat ini di Indonesia
masih banyak keturunan-keturunan raja-raja Nusantara yang masih memiliki
keraton atau kerajaan budaya. Mereka
hanya muncul sebagai pelaku budaya secara sosial di masyarakat, namun tidak
memiliki pengarush p olitik dan kekuasaan apapun di daerahnya
masing-masing. Bahkan sebagian sudah
tidak lagi mendapatkan nilai lebih di masyarakatnya selain hanya penjaga situs
sejarah. Jarak yang terasa jauh antara
keturunan raja-raja dengan rakyatnya sangat jauh. Sementara para turunan raja sibuk dengan
pelestarian budaya dan situs peninggalan yang masih ada pada mereka, sementara
rakyatnya sedang sibuk dengan kehidupan sehari-hari mereka yang sudah tidak
lagi bersinggungan dengan raja atau keturunan rajanya.
Saat ini
adalah momen yang tepat bagi keturunan raja-raja ini yang tergabung dalam forum
silaturahmi keraton Nusantara atau paguyuban keraton Nusantara ini untuk muncul
menjadi kekuatan politik baru di Indonesia.
Sebagai penerus kerajaan yang pernah berkuasa sebenarnya mereka masih
memiliki kharisma di tengah rakyatnya.
Terutama bagi sebagian rakyat yang masih terikat dengan budaya
lokal. Dan menjadi alternatif kekuatan
politik yang bisa mengimbangi partai politik atau kekuatan politik
lainnya. Mereka mempunyai basis massa
tradisional yang merindukan adanya ratu Adil atau sejenisnya. Lalu bagaimana cara agar keraton-keraton ini
bisa mendapatkan kekuatan politik di masyarakat?
Pertama, mengambil hati rakyat
dengan cara memutus jarak antara keraton dengan rakyatnya. Untuk memenangkan hati rakyat saat ini bukan
lagi saatnya rakyat harus sowan dan memberikan penghormatan secara formal dan
ritual kepada pemimpin atau keraton.
Tapi bagaimana keraton bisa menjadi bagian dari masyarakat dan
menjadikan keraton sebagai tempat alternatif bagi rakyat untuk berkeluh kesah
dan menyampaikan aspirasi mereka yang tidak bisa tersalurkan melalui sistem
politik yang ada saat ini.
Kedua, menciptakan
kedekatan emosional dengan rakyatnya. Para
pemilik keraton ini harus membangun kembali kedekatan emosional antara keraton
dengan rakyatnya. Bukan sebagai tempat
pelestarian budaya tapi juga sebagai tempat penampungun aspirasi politik yang
bisa menimbulkan kenyamanan rakyat dalam berkomunikasi, karena tidak ada lagi
jarak antara rakyat dengan keraton.
Membangun komunikasi politik antara keraton dengan rakyat ini menurut
saya tidak memerlukan dana yang besar karena mereka sudah memilki modal yang
besar dalam menjalin kedekatan emosional dengan rakyat.
Ketiga, membangun sistem
politik yang menghubungkan antara politik keraton dengan politik nasional atau
daerah. Keraton sebagai bagian dari NKRI
tentu tidak lagi memerlukan institusi hukum karena sudah menjadi satu dalam ketatanegaraan
Republik Indonesia. Tapi jika ingin
menjadi kekuatan politik yang bsia berbicara banyak dan bisa ikut dalam
pengelolaan Indonesia, maka keraton harus mempunyai sistem politik yang
kuat. Orang-orang yang bukan hanya
sebagai punggawa atau abdi dalem keraton tapi juga dapat menjadi wakil keraton
dan daerah dalam perpolitikan kita. Hal
di mungkinkan dengan adanya DPD dalam intitusi MPR kita dan adanya aturan calon
independen dalam pilkada di setiap daerah.
Posisi perwakilan keraton ini haruslah di isi oleh orang-orang yang
memiliki intelektualitas tinggi serta loyalitas terhadap keraton dan rakyatnya. Jangan sampai sang Raja maju sebagai calon
kepala daerah, karena itu akan menurunkan nilai keraton di masyarakat. Keraton harus memiliki mahapatih yang bisa di
endorse untuk menjadi kepala daerah atau perwakilan di DPD.
Keempat, membangun institusi politik yang kuat. Keraton-keraton Nusantara ini harus mau
bersatu menjadi kekuatan politik di Indonesia.
Ini semacam organisasi yang di bentuk dari paguyuban keraton-keraton Nusantara dan lebih
memaksimalkan kekuatan poltiknya. Tidak
lagi bergantung dan mengharapkan perhatian dari pemerintah. Sehingga terkesan keraton ini membutuhkan
bantuan untuk bsa bertahan hidup. Tapi
bagaimana keraton-keraton ini memiliki pilar ekonomi dan politik yang
kuat. Dan persatuan di antara
keraton-keraton ini sangat penting.
Karena akan menjadi pembanding bagi sistem kepartaian yang ada. Keraton harus memiliki inisiatif dan
kreatifitas untuk mengembangkan diri dan tampil di masyarakat. Perkumpulan keraton/raja-raja ini akan
menjadi penanda bahwa persatuan di Nusantara ini bisa di wujudkan secara
kultural dan memiliki efek yang positip pagi perpolitikan Indonesia.
Kelima, membangun komonikasi dengan masyarakat
menggunakan teknologi informasi.
Keraton-keraton haruus bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi
informasi dan memanfaatkannya untuk membangun konumikasi dan menciptakan
kedekatan emosional dengan masyarakat.
Bagaimana kisah babad atau sejarah tiap keraton bisa di akses di situs
resmi atau platform lain dengan akun resmi.
Ingat lho ya bukan hanya memberikat informasi sejarah budaya serta
aktifitas tapi juga bisa menjalin komonikasi.
Memang masih akan membutuhkan waktu yang panjang bagi
keraton-keraton Nusantara ini agar bisa menjadi kekuatan politik yang di
perhitungkan. Tapi jika di lakukan
dengan benar dan menghilangkan ego sebagai raja yang harus agungkan, maka cepat
atau lambat hal itu bisa terjadi. Jika
kekuatan politik keraton ini kuat maka tidak mustahil jika kita bisa membuat
undang-undang keraton Nusantara agar setiap kegiatan-kegiatan budaya, seperti
kirab, muludan atau apapun yang bisa mendekatkan keraton dengan rakyatnya bisa
di akomodir oleh negara tanpa harus mengubah Republik ini menjadi
kerajaan. Pada akhirnya ketika raja-raja
ini bisa memberikan pengaruh yang besar dalam membangun negara ini dan
menjadikan negara ini lebih baik maka segala legenda dan mitos itu bisa terwujud
tanpa harus mengubah negara ini menjadi kerajaan lagi. Wassalam.